Thursday, August 24, 2006

Merdeka Bung ? (18082006)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, tahukah saudara dari kain apa bendera pusaka ukuran 178 * 207 cm yang dikibarkan pada tanggal 17 Agustus 1945 berasal ? Tak terduga ternyata bendera yang dijahit oleh ibu Fatmawati tersebut warna putihnya berasal dari kain sprei, dan karena Ibu Fatmawati tidak mempunyai warna merah maka dicarilah kain warna merah. Begitu sulitnya mendapatkan kain merah saat itu, sehingga kain warna merah baru didapat dan dibeli dari kain tenda sebuah warung soto. Dijahit oleh ibu Fatmawati dan jadilah bendera pusaka yang dikibarkan saat proklamasi kemerdekaan bangsa ini. Penggalan cerita sejarah di atas paling tidak sedikit menggambarkan suasana batin saat-saat proklamasi kemerdekaan. Kesederhanaan, keteguhan hati, dan kuatnya mental pada saat itu telah mengangkat martabat bangsa Indonesia dari bangsa terjajah menjadi bangsa yang merdeka.

Waktu berlalu… kenyamanan, kemapanan, dan harta mulai menggerus nilai-nilai luhur bangsa. Nilai-nilai luhur hanya ada dalam tataran kata, jauh dari kenyataannya. Merdeka mulai bergeser ke dalam simbol-simbolnya semata dan mulai jauh dari hakekatnya. Kemeriahan perayaan ultah kemerdekaan memang terasa, pembacaan proklamasi kemerdekaan memang selalu ada di setiap upacara, tetapi apakah bangsa ini sudah benar-benar merdeka ?

Merdeka seharusnya bukan hanya sekedar jargon, lomba-lomba, simbol-simbol, dan upacara bendera. Merdeka adalah bangkitnya martabat bangsa sebagai wujud dari kemandirian dalam berbagai aspek dan dimensinya. Begitulah -paling tidak- yang ada dalam pandangan saya.
Apakah martabat bangsa ini sudah terangkat dalam posisi yang seharusnya ? Bukan hanya dalam pergaulan bangsa-bangsa, tetapi juga dalam ukuran kebenaran yang hakiki, yang mengandung nilai-nilai ruhani. Memang ada kata "Tuhan" dalam landasan negara republik ini, dijunjung tinggi secara simbolis, tetapi dalam prakteknya ? Tuhan ternyata hanyalah sekedar kata tak bermakna, dipakai dalam pengambilan sumpah, dan kemudian ‘dibuang’ dalam tong sampah.

Lihatlah bangsa ini masih menduduki rangking atas dalam hal negara terkorup di dunia. Dalam beberapa segi, pornografi diberi kebebasan lebih dari negara-negara yang mengaku biangnya kebebasan. Rasakanlah bagaimana ‘adilnya’ bangsa ini sehingga para koruptor dan pembunuh -yang dengan uangnya bisa membeli ‘apapun’- mendapatkan remisi optimal pada hari kemerdekaan kali ini. Belum lagi berbagai privileges yang diberikan kepada kalangan berpunya ketika mereka berhadapan dengan hukum.

Lihatlah lagi betapa loyonya pemimpin bangsa ini menghadapi tekanan asing. Membayar hutang sendiri pun tak berani jika si pemberi hutang belum memberi lampu hijau dan bersedia dibayar. Menghukum mati orang yang sudah jelas-jelas bersalah membantai puluhan bahkan ratusan saudara sebangsanya pun tak berani, hanya karena ada surat dari petinggi asing di luar negeri. Menjebloskan rakyat sendiri ke penjara seperti sudah menjadi tradisi, meski dengan tuduhan yang dicari-cari. Dan semuanya dilakukan demi menyenangkan ndoro tuan meneer

Banyak lagi tindakan yang membuat martabat bangsa ini terpuruk, bahkan di mata rakyatnya sendiri. Sebuah hasil penelitian menunjukkan bagaimana merosotnya martabat ini dari tahun ke tahun. Di tahun 2002 masih ada 93.5% masyarakat yang bangga sebagai bangsa Indonesia, tahun 2003 (88.6%), tahun 2004 mengalami lonjakan sedikit menjadi 94.1%, tahun 2005 melorot kembali menjadi 76.5%, dan di tahun 2006 bahkan menjadi 67% (sumber : Menuju Bangsa yang Mandiri, harian Republika, 16/8/2006). Ironis memang… penyakit inferior complex tampaknya menghinggapi bangsa ini. "Bermental tempe ", kata Bung Karno yang –dengan segala kekurangannya- gigih berusaha mengangkat martabat bangsa ini dengan salah satu manifesto politiknya "Berdikari" (berdiri di kaki sendiri).

Mental bangsa tentu saja kumpulan dari mental rakyatnya. Bangsa ini menjadi bangsa terkorup tentu karena pemimpin dan mayoritas rakyatnya memang suka korupsi. Pornografi di sini merajarela tentu karena pemimpin dan mayoritas rakyatnya menikmati ‘nikmatnya’ hasil industri pornografi. Ada produksi tentu karena ada yang mengkonsumsi. Bangsa ini bermental tempe tentu karena pemimpin dan mayoritas rakyatnya memang ‘tempe’. Bangsa ini menjadi tidak mandiri tentu karena pemimpin dan rakyatnya susah diajak mandiri. Dan begitu gampang nilai-nilai buruk ini berkembang bersama dengan gencarnya serbuan materialisme, konsumerisme dan hedonisme.

Gemebyarnya harta, kegagahan dan kecantikan, life style public figure yang aristokratis, kesombongan dan kepintaran para hedonis dalam berargumen, kadang begitu memukau, sehingga mengaburkan nilai-nilai luhur dari kehidupan yang seharusnya kita pegang teguh dalam menjalani kehidupan dunia ini. Keperawanan dijual demi tampil modis dan metropolis, harga diri dijual dengan menjadi ‘pengemis berdasi’ agar anak istri bisa tampil trendi, keluhuran diri dijual hanya demi kursi, dan bahkan martabat bangsa pun dijual untuk mengamankan posisi. Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar . Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran) ? (63: 4) Dan apabila dikatakan kepada mereka: Marilah (beriman) , agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu, mereka membuang muka mereka dan kamu lihat mereka berpaling sedang mereka menyombongkan diri. (Al Munafiquun (63): 5). Sebagian dari kita ikut-ikutan larut dalam value mereka. Padahal mereka hanyalah seperti kayu yang tersandar, meski tubuh mereka gagah, bagus-bagus, dan pandai berbicara, tetapi sebenarnya otak mereka "kosong", tidak dapat memahami hakikatnya kebenaran, begitulah informasi yang diberikan Allah dalam firman Nya.

Seperti biasa … tentu saja susah untuk mengubah yang besar kalau tidak dari yang kecil, diri kita sendiri, kemudian membesar ke lingkungan yang masih bisa kita pengaruhi, begitu seterusnya sehingga bisa menggelinding sebagai bola salju yang besar.

Balik ke diri sendiri… Sudahkan kita punya benteng yang kokoh menghadapi gempuran nilai-nilai yang menghancurkan idealisme, yang biasanya terkemas dalam indahnya dunia dan manisnya harta. Kalau sudah … pertanyaan selanjutnya adalah seberapa bebas kita bisa mengekspresikannya dalam kehidupan nyata ? Masihkah ada kekhawatiran, ketakutan, atau kesedihan pada saat menjalankan nilai-nilai luhur tersebut ? Takut dipecat, takut miskin, takut dikucilkan teman, khawatir nggak bisa makan, khawatir dibenci suami / istri, dan banyak ketakutan dan kekhawatiran lain yang tak wajar ? Pantaskah kita takut dengan semua ini, jika kita di dalam jalan Nya ?

Takut seharusnya hanyalah kepada adzab Allah, karena Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak mereka bersedih hati. (Al Baqarah (2): 277)

Jika nilai-nilai luhur tersebut hanya terkungkung di dalam diri, tak wujud dalam tindakan nyata, lalu ketakutan dan kekhawatiran masih mendominasi kita, maka pada hakekatnya kita belumlah merdeka. Masih menjadi hamba thoghut, budak dari selain Allah.

Oleh karenanya merdekalah… Mohon maaf bila tidak berkenan.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
ChAn
18082006

NB :
Meski pembantaian saudara kita di Lebanon, Palestina dan banyak tempat lainnya sejenak berhenti…, jika masih memungkinkan ada barang substitusi atas barang yang kita konsumsi, kenapa kita harus membeli dan memakai barang kaum dzalimiin ? Mari kita mulai dengan mencintai produk saudara kita sendiri, dari yang kecil… makan, beli barang, pakai jasa, dll dari saudara-saudara kita sendiri meski mungkin dengan selisih harga yang sedikit lebih mahal.

Friday, August 04, 2006

(Sementara ini) belum ada jawabnya ? (04082006)

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, sebelumnya saya mohon agar tulisan ringan ini di delete saja apabila tidak berkenan, agar tidak memenuhi mail box anda. Sorry.

Dalam beragama kadangkala kita menemukan pertanyaan-pertanyaan, masalah-masalah yang saat ini belum ketemu jawabannya secara akal. Dan tentu saja kalau menghadapi pertanyaan yang belum ketemu jawabannya, tidak bisalah dijawab dengan akal-akalan, apalagi menghadapi anak-anak kita yang semakin kritis. Saya mempunyai pengalaman buruk dengan jawaban yang akal-akalan ini. Suatu saat semasa SMP seorang guru saya menjawab pertanyaan tentang fajar Subuh dengan jawaban yang ngarang dan mengada-ada. Entah karena terpengaruh adanya dua adzan di zaman Nabi (adzannya Bilal yang pertama dan kemudian disusul adzannya Umi Maktum untuk shalat Subuh) jawabannya jadi ngelantur.

"Ada fajar semu dan fajar sebenarnya, fajar semu dibuat oleh setan, sedangkan fajar yang sebenarnya adalah fajar di saat Subuh", katanya.Nggak ngeh... saya pun protes berat bagaimana bisa fajar (fenomena alam) dihubungkan dengan perbuatan setan, nggak masuk akal. Ya jadilah dimarahin guru.... dan dianggap sebagai murid yang tukang protes.

Lalu kemarin, seorang teman memicu bahasan pendekatan akal ini dengan mengirimkan e-mail pertanyaan yang menggelitik, yang mungkin juga merupakan pertanyaan kita semua : kenapa pada saat duduk tahiyat jari telunjuknya nduding ?, kenapa kalau salam harus menoleh ke kanan dan ke kiri ? Saya coba jawab semampu saya dan berusaha tidak mengada-ada. Tetapi mungkin karena tidak ilmiah, maka jawaban saya tidak memuaskannya... alhamdulillah berarti teman saya tersebut akan mencari terus, dan insya Allah ketemu.

Fakta empiris yang ada sekarang ini memang menunjukkan bahwa belum semua pertanyaan bisa dijawab dengan pendekatan ilmiah yang memuaskan, misalnya : fakta bahwa ilmu pengetahuan meyakini adanya jiwa (sehingga ada ilmu jiwa, psikologi), tetapi bagaimana wujudnya jiwa, di mana letaknya jiwa, terbuat dari apa jiwa, setahu saya saat ini belum ada jawabnya secara ilmiah, apalagi tentang ruh. Dan apabila mau, pertanyaan di atas bisa kita buat semakin panjang, misalnya :

  • kenapa yang kentut lubang belakang, cara menyucikannya kok wudlu, dimana yang dibasahi adalah wajah, tangan, kepala, kaki ?
  • kenapa kalau shalat diawali dengan takbiratul ihram, langsung fatehah saja kan enak cepat....?
  • kenapa kalau shalat kok pakai ruku' dan sujud, kan enak langsung saja berdiri terus seperti shalat jenazah... ?
  • kenapa kalau wudlu dengan khuf (sepatu) yang diusap kok tutup atasnya sepatu, kok nggak bawahnya sepatu saja ?
  • kenapa saat umrah / haji yang dicium Hajar Aswad yang lokasinya kecil dan sempit sehingga harus berdesak desak, kenapa yang dicium nggak Ka'bah-nya saja yang besar sehingga memudahkan ?

Nggak ada habisnya, sampai-sampai mungkin bisa dikembangkan pertanyaannya menjadi : kenapa harus shalat, puasa, zakat, haji ? nggak pakai shalat, dsb. kan enak... nggak ngrepoti...

Pertanyaan-pertanyaan tersebut pasti ada jawabnya secara ilmiah, meski saat ini beberapa di antarnya belum ditemukan. Ada banyak usaha untuk menjelaskan pertanyaan-pertanyaan kenes tersebut secara akal, tetapi saya belum menemukan jawaban yang pas. Sampai kemudian saya menemukan jawaban semuanya dalam salah satu kumpulan hadits dalam shahih Bukhari, dari Ali ra yang terjemahan bebasnya : "Seandainya agama itu hanyalah pendekatan akal saja, maka seharusnya pada saat wudlu dengan memakai khuf, yang dibasuh bawahnya khuf (sepatu) bukan hanya diusap atasnya saja". Secara akal bukankah yang paling kotor itu bawahnya khuf yang langsung berhubungan dengan tanah ?

Kemudian saya ingat pula apa yang dikatakan Umar bin Khattab ketika mencium Hajar Aswad, "Kamu hanyalah sekedar batu, seandainya Rasulullah tidak melakukannya, aku tidak akan sudi menciummu". Sehingga saya menyimpulkan sendiri bahwa yang dilakukan salafushshalih dalam beragama ternyata adalah gabungan dari akal dan iman. Bukan pendekatan melalui akal saja yang dibatasi oleh dimensi ruang dan waktu.

Kalau dilihat sejarah, banyak hal yang di saat kejadian (dahulu) merupakan urusan iman, ternyata setelah ribuan tahun (saat ini) secara teori keilmuan bisa dijelaskan. Misalnya, Isra' Mi'raj yang terjadi 14 abad yang lalu. Peristiwa tersebut di jaman Nabi tentu saja nggak masuk akal, nggak ada penjelasan ilmiahnya. Pada saat itu, bagi Abu Bakar, dkk hanya cukup percaya, beriman terhadap semua yang diceritakan Nabi, tetapi bagi kaum musyrikin... peristiwa itu digunakan sebagai bahan cemooh, nggak masuk akal.

Ribuan tahun kemudian setelah peristiwa Isra' Mi'raj -sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan- ternyata secara teori : materi bisa diubah menjadi energi, materi bisa menjadi cahaya, dan manusia adalah materi..., teoritis tentu saja bisa diubah menjadi energi dan bisa bergerak dengan kecepatan cahaya. Akan tetapi kendalanya adalah alat untuk mengubah manusia menjadi energi saat ini belum ditemukan. Tidak seperti mengubah materi lainnya (uranium yang sudah dikayakan) menjadi energi nuklir yang sudah ditemukan alatnya (reaktor nuklir).

Di Al Quran pun banyak hal yang sampai saat ini belum terbukti secara ilmiah –belum ada teknologi yang bisa membuktikan kebenarannya-, misalnya An Naml 40, Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab : "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari . Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia". Dari materi (singgasana), lenyap berubah jadi energi (?), berpindah dalam sekejap mata, dan kemudian menjadi materi (singgasan) lagi di tempat yang lain.

Bukannya tidak mungkin fenomena pemindahan singgasana tahta ratu Balqis oleh orang beriman di zaman Nabi Sulaiman, yang dilakukan dalam hitungan ‘kedipan mata’ tersebut apabila dieksplorasi terus menerus oleh fisikawan dari masa ke masa, kemudian dibuka ilmunya oleh Allah untuk manusia, maka akan ditemukanlah teknologinya oleh manusia. Materi bisa berpindah-pindah dalam sekejap, seperti yang sudah ada di dalam film-film fiksi ilmiah.

Kemudian kalau dikembalikan lagi ke dalam urusan ibadah maghdhoh, ada qaidah fiqih -yang namanya qaidah fiqih tentu saja landasannya Kitabullah dan Sunnah- yang seharusnya digunakan : "Pada dasarnya semua ibadah dilarang kecuali yang dicontohkan / dikerjakan / diomongkan oleh Rasulullah Muhammad saw". Berdasar qaidah tersebut urusan praktek ibadah maghdhoh hanyalah mencontoh apa yang dilakukan Nabi, baik sudah ketemu ataupun belum ketemu alasannya secara akal. Terbatasnya perkembangan ilmu pengetahuan manusia saat ini, membuat ilmu pengetahuan belum bisa memberi jawaban / alasan yang pas terhadap amalan-amalan ibadah maghdhoh, sehingga menyikapinya balik lagi kepada kedalaman iman dan akal masing-masing individu.

Bagaimana menyikapinya ? Kalau saya itba' Rasul, mencontoh kepada apa yang dicontohkan oleh Rasulullah, yang kemudian diikuti oleh para salafushshalih: Abu Bakar ra., Umar ra., Ali ra. dalam menyikapi hal-hal yang belum ditemukan jawabnya secara akal pada saat itu. Mereka menyikapi dengan lebih memperbanyak unsur imannya, tanpa menafikan akalnya. Insya Allah suatu saat jawaban ilmiahnya pasti ditemukan, meski mungkin butuh ribuan tahun.

Oleh karenanya untuk urusan shalat, puasa, zakat, haji, dsb (semua urusan yang termasuk ibadah maghdhoh) rujukannya tentu kepada apa yang sudah dicontohkan / dilakukan oleh Nabi. Di Al Quran biasanya bersifat global misalnya : yuqiimunashshalat (shalat), yunfiquu (infaqlah, zakatlah), kutiba ’alaikumush shiaam (wajib berpuasa), dsb., sedangkan detail pelaksanaannya dari sunnah Nabi, yang diambil dari hadits Nabi, baik yang tersurat maupun yang tersirat.

Lho... kan kita harus menggunakan akal ?

Ya memang... tentu semuanya tidak boleh berhenti di sini, kita tak boleh berpuas diri untuk mencari jawabnya. Dengan perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan, dibukanya ilmu-ilmu Allah untuk manusia, ikhtiar dan explorasi berbagai bidang keilmuan yang tiada henti-hentinya dilakukan umat manusia, insya Allah semuanya akan semakin terang-benderang. Inilah tantangan-tantangan sebenarnya dari ilmuwan-ilmuwan Islam, anak-anak keturunan kita.

Lha kalau sampai sekarang belum ketemu jawaban ilmiahnya, apa kemudian kita nggak usah shalat ?

Semoga bermanfaat, mohon maaf apabila tidak berkenan.
Wassalamu'alaikum
ChAn
03082006
pojok-chan.blogspot.com
avicenna1995@yahoo.com
NB:
Jangan lupa : Mari kita cintai produk bangsa kita sendiri, jika tidak terlalu penting, pilih barang, jasa, mata uang, dan lain-lain yang bukan dari USA, Inggris, Australia, Israel, dan sekutunya. Mari kita galang solidaritas sesama muslim.