Friday, July 21, 2006

Anak (21072006)

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, alhamdulillah bencana tsunami di pantai Pangandaran dan daerah pantai selatan Jawa lainnya tidak ikut melibas kita. Tetap alhamdulillah pula meski di Jakarta pada sore 19 Juli 2006 ikut pula digoyang gempa dengan skala Richter 6.2 dan tidak merusak apa-apa. Meski demikian tentu kita tetap prihatin dengan banyaknya bencana yang melanda bangsa ini, ditambah lagi dengan berita yang tak kalah sedihnya tentang musibah saudara kita di tempat lain. Pembantaian dusun muslim Saka, Saleman, Seram Utara, Maluku oleh desa non muslim sekitarnya yang baru saja terjadi (10/7), bombardir Israel di negara Palestina dan Lebanon yang tak tahu kapan akan berhenti, adu domba dan tekanan bangsa penjajah terhadap kaum muslimin di Iran, Irak, Sudan, Somalia, Aljazair, Chechnya, Thailand Selatan, Moro, dll. membuat hati ini miris dan menangis di malam-malam yang sepi. Kadang diri ini bertanya, "Kapankah pertolongan Allah akan datang ? Ataukah memang keadaan ini diadakan Nya agar tercipta para syuhada penghuni surga ?". Wallahu 'a'lam.

Dan kalau kita amati dari setiap bencana, yang paling menderita pada umumnya adalah anak-anak. Orang dewasa dan yang sudah tua memang menderita juga, karena kehilangan anak, kehilangan istri, kekayaan, tercerabut dari rumah tinggal, dsb., tetapi mereka pada umumnya sudah mempunyai bekal kekayaan mental yang sudah terlatih dari kecil sampai menjadi orang yang sudah tua. Akan halnya anak-anak ? Mereka belum mempunyai kekayaan mental untuk menghadapi musibah-musibah seperti itu. Mereka masih baru beberapa tahun menghuni dunia ini, dan kemudian harus memikul beban berat, kehilangan orang tua, sanak saudara, teman bermain, kekayaan, luka yang parah, dsb. Tak terbayangkan betapa getirnya derita yang harus dipikul. Oleh karenanya meski bencana yang menjadi topik hangat bahasan masyarakat, kali ini saya ingin berbagi cerita tentang "Anak", di samping juga karena topik tentang "Bencana" sudah ada sebelumnya di rubrik ini.

Anak –yang di dalamnya tentu termasuk pula yang masih anak-anak-, bagi banyak orang yang sudah berumah-tangga merupakan hal yang sangat didamba. Menjadi obsesi, menjadi salah satu tujuan dari umumnya pernikahan. Anak merupakan recharger energi yang sudah terkuras setelah seharian bekerja, anak merupakan penerus ide dan cita-cita yang belum terselesaikan, anak merupakan investasi paling berharga, anak merupakan sumber inspirasi, dan banyak hal lainnya yang menunjukkan bahwa anak merupakan hal yang paling penting dalam hidupnya. Begitu pentingnya, sampai-sampai -bagi beberapa pasangan- berpisahpun dijalani hanya karena belum mendapatkan anak.

Dalam banyak kasus pasangan yang tak punya anak seperti ini biasanya perempuan lagi yang dipojokkan oleh masyarakat sebagai biang masalahnya, padahal -pada umumnya- selama siklus bulanannya teratur -produksi ovum lancar-, masalah sebenarnya kebanyakan ada pada kualitas bibit lelaki yang loyo dan banyak mati di tengah jalan. Hingga tak heran apabila di jaman dahulu kala di kalangan kaum ningrat Jawa lebih memilih mengawinkan anak perempuannya dengan lelaki ningrat lainnya yang sudah terbukti bibitnya tokcer , bisa mempunyai anak, daripada dengan jejaka, meski harus jadi istri kedua.

Bagi yang sudah diberi anak kadang masih pula timbul masalah, diberi satu maunya dua, diberi dua laki / perempuan semua minta tambah jenis kelamin lainnya, sudah dapat dua laki dan perempuan maunya tiga, nggak ada habisnya... dan begitulah memang manusia, padahal kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, (49) atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.(50) [QS Asy Syuu'ara (42): 49-50]

Kalau sudah begitu firman Nya apakah kita mau memprotes Nya ? Memaksa Allah untuk memberi semua pasangan harus mempunyai anak minimal 2 semua, misalnya ? Sunnah Nya memang tercipta berpasang-pasangan, ada yang anaknya sedikit ada juga yang banyak, ada pasangan yang nggak punya anak ada juga anak yang nggak punya orang tua. Ya begitulah hidup...

Lalu apakah kemudian kita pasrah saja ...? Tentu tidak, ikhtiar memang harus kita upayakan terus menerus, karena siapa tahu Allah memberikan kasih sayang Nya kepada kita seperti yang diberikan kepada Nabi Ibrahim yang baru diberi anak setelah sama-sama tua, sebagaimana diceritakan dalam Al Quran QS 11:72 Isterinya berkata: "Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamikupun dalam keadaan yang sudah tua pula?. Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh." Tetapi –bukannya menyepelekan QS 11:72- kalau sudah terlalu lama, berumur, berkecukupan, dan belum juga diberi anak, apakah tidak saatnya melihat, menimbang, dan menimang ”mereka” anak-anak yatim-piatu yang kehilangan orang tuanya ?

Kan cukup dibantu dananya saja ? Bantuan dana memang perlu, tetapi apakah itu cukup ? Belaian kasih sayang dan perhatian ”orang tua” mestinya perlu juga mereka rasakan menghadapi penderitaan dan musibah-musibah yang menimpanya.

Bukannya saya ingin menggurui, tetapi alangkah indahnya apabila resources dan skills, yang sudah kita persiapkan pada saat memasuki jenjang perkawinan yang belum kita praktekkan karena belum dititipi anak kandung oleh Allah, kita manfaatkan secara maksimal kepada anak-anak yatim piatu, anak-anak yang terkena musibah dan tidak memiliki orang tua. Atau meski kita sudah punya anak, tetapi karena masih ada kelebihan dana, kita sisihkan sebagian dana untuk kepentingan para yatim-piatu. Atau bagaimana kalau kita tambah lagi anak asuh yatim piatu berdampingan dengan anak-anak kandung kita di rumah. –untuk usul yang satu ini saya sebenarnya malu menyampaikan..., mempraktekkannya masih dalam taraf hanya sebagai donatur saja, karena suami istri sama-sama bekerja-

Dalam persepsi saya mengadopsi anak yatim piatu, meski bukan anak kandung tetap masih bermanfaat. Meski bukan do’a anak (kandung) sholeh yang kita dapat, tetapi amal jariah yang kita investasikan ke anak asuh, serta ilmu yang manfaat yang kita ajarkan ke anak angkat tersebut, insya Allah akan selalu menambah pundi-pundi amal kita, meski kita sudah di alam baqa. Ya... sebagaimana yang disampaikan Rasullullah dalam hadits tentang 3 hal yang akan selalu menyertai manusia ke alam baqa, menambah pundi-pundi amal kita meski kita sudah tiada.

Enak ngomongnya, susah melaksanakannya, akan tetapi insya Allah inilah salah satu jalan lurus membantu anak-anak korban beragam musibah yang terjadi dan anak-anak terlantar di sekita kita. Semoga bermanfaat, dan semoga Allah memberikan kekuatan dan kemudahan kepada saya untuk menjalankan apa yang saya tulis secara konsisten. Mohon maaf apabila tidak berkenan dan

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabaraktuh.
ChAn
20072006
avicenna1995@yahoo.com
pojok-chan.blogspot.com

Tuesday, July 18, 2006

Bangkitlah (26052006)

Assalamu'alaikum warahmatulllahi wabarakatuh, allhummashalli 'alaa Muhammad wa ‘alaa ali muhammad, assalamu'alainaa wa 'alaa ibadillahishshaalihiin, alhamdulillah hi rabbil'alamiin atas segala nikmat yang telah diberikan. Nikmat sehat, nikmat tidak terbelit hutang, dan juga nikmat rumah tangga sejahtera. Coba bayangkan betapa menyedihkan dan sengsaranya –meskipun kaya- apabila tubuh kita sakit-sakitan, sementara anak, menantu, dan cucu kita saling berantem bak sinetron di televisi, seperti keluarga "Bapak Pembangunan" kita. Bersyukur... apabila secara pribadi dan keluarga, tidak terbelit hutang dan sengsara seperti bangsa kita ini. Bangsa yang "belum sempurna merdeka".

Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa dari awalnya bangsa ini sudah salah langkah... senang hutang. Beberapa saat setelah merdeka, pada saat Konferensi Meja Bundar (KMB) tahun 1948 salah satu poin penting yang dihasilkan -selain pengakuan kedaulatan oleh Belanda- adalah mengakui hutang Hindia Belanda (penjajah) sebagai hutang bangsa Indonesia yang baru saja merdeka. Hutang penjajah harus dibayar oleh yang dijajah dan bangsa ini mau menerima kesepakatan itu... OK lah sebagian orang mengatakan "Itu kan strategi agar ada pengakuan kedaulatan dari penjajah, dan akhirnya kan dikemplang (nggak dibayar) oleh Bung Karno."

Memang dikemplang saat Bung Karno berkuasa, tetapi saat Bung Karno jatuh ? Hutang itu diwariskan ke Pemerintahan Soeharto yang pada saat itu sedang butuh pengakuan dunia international. Pada tahun 1968 disepakati hutang tersebut direstrukturisasi untuk diangsur dengan jangka waktu 35 tahun, sampai tahun 2003. Jadi sampai periode Reformasi pun nggak ada yang keberatan dengan hutang warisan yang tidak masuk akal tersebut. Semua presiden setelah Suharto jatuh -mulai dari Habibie, Gus Dur, dan Megawati- setuju dan sepakat membayar hutang penjajah tersebut. Nggak ada yang protes. Dan hutang bangsa ini semakin membengkak dengan tambahan hutang yang dibuat oleh Presiden-Presiden tersebut, sampai-sampai untuk memenuhi amanat UU untuk menyediakan 20% anggaran untuk pendidikan pun tidak dapat direalisasikan, karena beratnya beban hutang.

"Tangan di atas lebih mulia daripada tangan di bawah" begitulah sabda Nabi, dan ini terbukti. Semakin banyak hutang semakin tidak dihargai oleh bangsa lain. Merunduk dan tidak ada keberanian untuk mengatakan "tidak" kepada para donor / rentenir penghisap kekayaan bangsa ini. Entahlah... apakah ini memang kesalahan massal bangsa ini karena yang dipilih adalah pemimpin yang tidak berani mengatakan "tidak", sehingga kadang timbul rasa iri..., kenapa bangsa ini tidak bisa menghasilkan sosok seperti Presiden Ahmadinejad si Pejantan Tangguh yang sederhana dan jadi presiden tanpa harus mengeluarkan dana kampanye sepeserpun, karena memang berkualitas, dan dicintai rakyatnya.

Itu kalau skala bangsa, bagaimana dengan skala rumah tangga ?

Sepertinya tidak jauh beda... karena karakter bangsa terbentuk dari karakter manusia pembentuk bangsa tersebut, rakyatnya. Tampaknya memang ada kecenderungan manusia Indonesia untuk tidak sabar, memaksakan diri menikmati semua hal "sekarang" meski harus terlilit hutang, dari pada bersabar menabung dan membatasi diri untuk berhutang hanya yang sesuai dengan batas kemampuan.

Kalau dilihat dari sisi budaya, tampaknya ini memang merupakan penyakit yang sebenarnya sudah diidentifikasi oleh orang-orang bijak di masa lalu, sehingga muncullah peribahasa : "Jangan besar pasak dari pada tiang", kata orang Melayu, atau "Ojo kegedhen empyak kurang cagak", kata orang Jawa. Bahkan kata Surabaya yang konon kabarnya berasal cerita legenda ikan hiu (Sura) dan buaya (Baya) yang bertarung sampai mati di delta muara sungai Brantas –sebagai cikal bakal kota Surabaya- pun bisa berganti menjadi satire.

Kalau orang Surabaya asli pasti pernah dengar pemeo Suro wani (berani) Boyo bebaya, utang. (bahaya, hutang, dll.). Jadi orang Surabaya itu berani terhadap bahaya... termasuk di dalamnya hutang, wani utang. Di kampung-kampung banyak orang yang suka berhutang kreditan barang, di pasar-pasar banyak rentenir berkeliaran, di kantor-kantor koperasi simpan pinjam selalu penuh antrian, dan banyak orang yang suka nggesek kartu kredit tanpa perhitungan. Meski tak jelas sumber dana pembayarannya, asal terpuaskan kebutuhan konsumtifnya, asal dapat selalu tampil bergaya, asal tidak turun standar hidupnya, asal gengsi tetap terjaga, hutang berbunga tinggi pun diembatnya. Padahal sumber income untuk membayar hutang tersebut tidak bertambah. Begitulah yang sering saya amati, dan tampaknya di tempat / budaya lain pun tidak jauh beda.

Hancurlah rumah apabila tiang penyangga (cagak) untuk mendukung atap (empyak) kurang. Hancur pula ketentraman rumah tangga dan suasana kerja karena kebingungan dikejar-kejar debt collector. Mulailah jurus gali lubang tutup lubang, tipu sana tipu sini, berdusta, dan tidak amanah lagi. Banyak contoh orang-orang di sekitar kita yang menghadapi kasus seperti ini. Dan memang begitulah keadaannya kalau banyak hutang dan tidak perhitungan, karena Rasulullah pun sudah mengingatkan di dalam Shahih Bukari No 2284 :
Aisyah ra menceritakan bahwa : suatu saat orang bertanya kepada Rasul, kenapa Rasululullah sering bedo’a "Ya Allah aku berlindung kepadamu dari dosa dan hutang", kemudian beliau menjawab : "Sesungguhnya orang itu apabila punya hutang, jika berkata berdusta, dan jika berjanji, menyalahi".

Hutang memang seharusnya sekedarnya saja dan controllable. Bagaimana dengan kita ? Mari kita review ulang gaya hidup yang sedang kita jalani. Alhamdulillah jika sudah di jalan yang tepat, apabila keliru mari kita bangkit dari keterpurukan ini. Nggak usah dalam sekala besar bangsa, mulai saja dari diri kita. Bank-bank -terutama bank asing- memang sedang giat-giatnya menggelontorkan pinjaman konsumtif agar bangsa ini menjadi bangsa yang konsumtif, sudah saatnya kita buat tameng menghadapi gempuran konsumerisme ini, kita jadikan keluarga kita keluarga yang produktif. Tak apalah tampil sederhana asal tak dililit hutang, daripada perlente tetapi suka berdusta karena lilitan hutang. Karena sesungguhnya di dalam kesederhanaan itu biasanya ada kejujuran, ketabahan, kebijaksanaan, kekuatan, dan kecerdasan emosional spiritual.

Susah dan berat memang … karena kita berhubungan dengan anak, istri, suami, orang tua, mertua, dsb. yang tentu saja kadang tidak setuju dan sependapat dengan kita. Tetapi kita bisa coba dari diri kita sendiri. Kalau kita sudah bisa jadi teladan... Insya Allah orang-orang dekat kita tentu saja akan tersinspirasi dengan keteladanan yang kita tampilkan.

Mohon maaf bila tak berkenan dan semoga bermanfaat

Wassalamu'alaikum
ChAn
26052006

Keterpaksaan (23062006)

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, assalamu 'alaa ibadish shallihin, shalawaatu wassalamu 'alaa sayyidinaa Muhammad, alhamdulillahi rabbil 'alamiin, berjumpa lagi kita dalam rubrik 2 mingguan ini -semoga- dalam keadaan sejahtera. Jika ada kesedihan, kesempitan, dan masalah... semoga kesabaran, ketabahan, dan keikhlasan selalu ada dalam jiwa kita dan semoga pula Allah yang Maha Kaya, Maha Pemberi Rizki, Maha Kuasa memberikan kebahagian, kelapangan, dan jalan keluar.

Asa akan cahaya haruslah selalu ada di dalam jiwa, apapun masalahnya. Optimisme harusnya memang terpatri dalam diri, terpupuk setiap hari. Setiap lorong jalan yang buntu, insya Allah di dalamnya ada pintu terbuka yang siap menanti. Menatap hidup bak bunga mekar yang terus memancarkan keceriaan, semakin hari semakin indah, tak takut layu meski akhirnya luruh. Berani hidup dan tidak takut mati, -yang menjadi salah satu slogan dari Pesantren Gontor yang tersohor- seharusnya bisa menjadi motto kita dalam menjalani hidup ini.

Sedih rasanya mendengar seorang ibu muda (31 tahun), lulusan perguruan tinggi ternama di negeri ini, pintar, anak orang kaya, terpandang, taat beribadah, kemudian setelah menikah harus hidup sederhana, punya anak 3, terhimpit beragam masalah (utamanya ekonomi), tertekan jiwanya... kemudian menjadi paranoid dan secara tak sadar (?) tega membunuh ketiga anaknya yang masih kecil dan lucu, dengan alasan takut akan masa depan anak-anaknya. Astaghfirullah, semoga Allah memberi kesembuhan, kekuatan, dan jalan terang padanya.

Tak bermaksud menyalahkan siapa-siapa, tetapi saya kadang bertanya, haruskah dia (yang sakit secara psikologis) dijadikan satu-satunya terdakwa yang harus memikul beban kesalahan ini, sendirian ? Apakah sang suami dan lingkungan yang menciptakannya menjadi paranoid tidak harus ikut bertanggung jawab ?

Gaya hidup yang berubah drastis dari serba mudah menjadi serba terbatas, impian gadis muda cerdas yang tak kesampaian, aktualisasi diri yang tersumbat karena harus menjadi ibu RT, gempuran godaan dari gaya hidup konsumerisme yang berbiaya tinggi, godaan dari rasa bersaing dengan teman kuliah / sekolah yang lebih "bodoh" tetapi ternyata lebih mapan secara ekonomi, dsb., ditambah lagi tekanan dari laki-laki yang "mewajibkan" sang istri menjadi konco wingking yang hanya tinggal di rumah, hampir pasti akan membuat ibu-ibu muda -yang jiwanya masih bergejolak dengan urusan dunia- mengalami tekanan jiwa yang sangat hebat. Hanya perempuan tangguh yang bisa berdamai dengan kondisi yang berubah drastis seperti ini.

Sayangnya wanita-wanita anak orang kaya ini -tidak semua lho... ada juga yang tidak- tidak terlatih untuk berjuang dalam kerasnya kehidupan, platonistis, kehilangan realitas saat berpacaran, dan kemudian terkaget-kaget saat berumah tangga. Realitas hidup tidak semudah seperti saat masih menengadahkan tangan ke orang tua. Belum lagi kemudian ternyata pacar yang saat ini sudah menjadi suami, ternyata laki-laki yang "menuntut" pengorbanan sang istri, lebih dari dia menuntut dirinya sendiri bagi sang istri. Nggak boleh bekerjalah... harus berkerudunglah... nggak boleh inilah... nggak boleh itulah... dengan berbagai macam alasan -sering juga dengan berlindung pada alasan agama-. Dan semua larangan dan kewajiban tersebut dibebankan secara drastis, langsung, dan revolusioner, tanpa melihat kondisi psikologis pasangan. Padahal tidak semua orang mampu menanggung beban psikologis yang harus dipikulnya tersebut secara serentak. Padahal Allah dan Rasulullah pun juga telah memberi tauladan penerapan kewajiban yang sifatnya gradual. Lihatlah bagaimana penerapan hukum larangan minum khamr (zat addictive yang merusak, bukan hanya alkohol saja) yang berlangsung gradual, bacalah riwayat bagaimana Rasul mengajarkan Islam kepada seorang Badui yang pertamanya hanya berisi ajaran jangan berbohong, dan banyak lainnya yang menunjukkan pentingnya proses, tahapan-tahapan, istiqamah, dan keikhlasan dalam menjalankan ajaran.

Lalu lihatlah sekeliling kita. Betapa banyak remaja belia yang trendy dan ceria berubah drastis menjadi wanita bercadar, karena menikah dengan lelaki bercambang dan bercelana cingkrang. Tidak ada yang salah dengan cambang dan celana cingkrang, yang saya khawatirkan adalah perubahan yang drastis karena keterpaksaan. Memaksa istri memakai cadar, misalnya. Padahal cadar bukanlah yang diajarkan Al Quran, karena wajah dan tapak tangan bukan aurat, dan cadar pun tidak boleh dipakai saat thawaf di Baitullah, wajah harus kelihatan. Lihatlah lagi para selebritis yang rame-rame copot kerudung ketika berpisah dari pasangannya.

Betapa banyak contoh pelaksanaan ajaran agama yang dipaksakan, tanpa melalui tahapan-tahapan, dilakukan tanpa keikhlasan dari pelaku, dan kemudian ujung-ujungnya adalah penolakan ketika penyebab dia melaksanakan ajaran tersebut sudah tidak ada. Tanpa keikhlasan mustahil rasanya tumbuh hati yang tentram, hati yang selesai, hati yang bisa berdamai dengan keadaan tanpa menyalahkan siapapun / apapun, dan kemudian secara positif mencari penyelesaian atas keadaan yang menimpanya.

Dalam kasus anak yang banyak sementara kondisi financial terbatas, misalnya. Tak akan menjadi masalah besar bagi orang-orang yang hatinya selesai. Secara positif dan kreatif golongan ini akan meningkatkan usahanya menyongsong rizki yang telah disediakan Allah bagi anak-anaknya. Ya... rizki yang telah disediakan oleh Allah, tinggal ikhtiar maksimal manusia untuk mendapatkannya. Bukannya cemas, menolak, dan menyalahkan keadaan yang menimpanya, dan ujung-ujungnya kemudian membunuh anak-anaknya. Allah pun telah mengingatkan di dalam firman Nya Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar. (Al Isra' (17):31)

Rasanya sudah saatnya kita introspeksi diri, adakah diri ini merupakan sumber dari suasana horror di lingkungan kita ? Lihatlah lagi sekeliling kita –anak, istri, suami, anak buah, pembantu di rumah, dsb.- Adakah tekanan di dalam dirinya ? Lihat sekali lagi... telitilah, jangan sampai kepatuhan dan diamnya mereka seperti diamnya gunung berapi yang sedang mengumpulkan magma di kepundannya dan kemudian meledak. Tak terduga...

Hati yang selesai tidak bisa muncul dengan tekanan-tekanan, dia ada karena keikhlasan..., keikhlasan hanya karena Allah semata, bukan karena suami, istri, ataupun atasan.

Insya Allah 2 minggu lagi kita bahas lebih banyak lagi tentang hati yang selesai.
Billahi taufiq wal hidayat, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Semoga bermanfaat
ChAn
23062006

Pluralisme (0092004)

Assalamu'alaikum wr. wb.
Kawan..... apabila sebelumnya saya berbincang tentang 'Berbagi Cinta', maka kali ini saya berbincang tentang 'Pluralisme', tentu saja sebatas ilmu yang saya punya. Apabila dalam tulisan saya ini dianggap bermanfaat... bolehlah anda sharing ke lain orang, tetapi apabila hanya memenuhi mail box anda, sudilah kiranya anda men 'delete'-nya.... Mohon maaf.

Pada suatu malam beberapa minggu lalu, di salah satu station televisi menayangkan film tentang apartheid, racism dan kejahatan Klu Klux Klan di negara bagian (?) Mississippi, USA. Film yang berdasarkan kisah nyata tersebut berlangsung belum lama -sekitar tahun 60 s.d. 70 an- dan terjadi di negara yang ‘katanya’ paling demokratis dan menjadi pembela HAM dunia, Amerika Serikat. Penyiksaan dan pengebirian hak-hak warga kulit hitam terjadi dimana mana. Begitu terpuruknya orang kulit hitam sehingga alat transportasi, fasilitas umum, gereja dan bahkan kuburanpun dibedakan berdasarkan warna kulit. Mengerikan... sehingga istri saya pun takut melihatnya.

Ada satu pelajaran berharga yang saya dapat dari film tersebut, satu perkataan dari seorang kulit hitam yang membekas di hati saya : ‘meskipun kulit kita berbeda warna, bukankah darah kita sama merah...?’. Sederhana..... tetapi kegetiran ungkapan tersebut menyadarkan saya bahwa kita memang berbeda, tetapi kita sama-sama manusia makhluk Allah yang memang diciptakan dalam bentuk, warna ukuran dan karakter yang berbeda.

Tanpa menafikan usaha manusia yang mempunyai akal, dan keharusan menggunakan akalnya dan berusaha seoptimal mungkin untuk mewujudkan sesuatu. Segala sesuatu yang sudah terjadi dan ada... pasti terjadi dan ada karena Allah setuju sesuatu itu terjadi dan ada. Seseorang lahir menjadi ras berkulit hitam, coklat atau putih tentu karena adanya persetujuan dan ijin dari Allah. Seseorang lahir di Indonesia, Amerika, Jepang atau China tentu karena adanya persetujuan dan ijin Allah. Pada akhirnya seburuk apapun atau sebaik apapun kejadian yang terjadi di dunia ini, pasti terjadi atas sepengetahuan dan ijin dari Allah. Faktor manusia ? ya ..... manusia pasti ikut mempengaruhi karena banyak kerusakan yang terjadi di muka bumi ini akibat ulah manusia juga.... Tetapi bukankah pada akhirnya.... hak ‘veto’ ada di tangan Allah.

Agama pun demikian juga... agama Budha, agama Hindu, agama Kong Hu Chu, agama Yahudi, agama Nasrani, agama Majusi ataupun Animisme tentu ada dan hidup ribuan tahun juga karena ijin dari Allah juga. Fakta bahwa mereka punya pengikut dan telah hidup ribuan tahun menunjukkan bahwa keberadaannya terjadi atas ijin Allah pula. Bukankah kalau Allah menghendaki ... adalah mudah bagi-Nya membuat semua agama menjadi agama Islam, atau semua agama menjadi agama Kristen, atau semua agama menjadi agama Yahudi. Bukankah mudah pula bagi Allah untuk menjadikan semua manusia menjadi muslim, seperti mudahnya untuk merubah semua manusia menjadi kafir. Semua penyeragaman itu tidak dilakukan, karena memang Allah menjadikan keberagaman sebagai sunnatullah, hukum Allah, agar tampak siapa yang berjalan di jalan Allah dan siapa yang tidak.

Ada perang ada damai, ada kulit putih ada kulit hitam, ada yang baik ada juga yang buruk, ada kaya ada juga miskin. Semua beragam tidak satu warna. Bagaimana ada syuhada-syuhada apabila tidak ada perjuangan dan semua orang telah Islam, bagaimana ada dermawan apabila semua orang telah kaya. Allah memang menciptakan keberagaman sebagaimana surat Al Hujurat ayat 13 : Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Lalu bagaimana kita menyikapinya keberagaman tersebut... Menurut saya janganlah memaksakan menjadi satu warna. Sebagai manusia ... kewajiban kita hanyalah mengajak berbuat baik (amar ma’ruf), mencegah kejahatan (nahi munkar) dan mengajak beriman kepada Allah (tukminuuna billah). Para Rasul pun hanya diwajibkan menyampaikan kebenaran, sedangkan apakah yang diberi ‘kabar’ tersebut menerima ataupun menolaknya itu hanyalah urusan penerima kabar tersebut dengan Allah, selama orang/kaum tersebut tidak mengganggu dan menghalang-halangi upaya kita untuk menyampaikan ‘kabar’ kebenaran tersebut. Model pemaksaan, ancaman dan intimidasi seharusnya tidak ada di dalam Islam. Tidak ada paksaan di dalam beragama (la ikraha fiddiin), bagimu agamamu dan bagiku agamaku (lakum dinukum waliadiin), sehingga model-model seperti mencabut anak dari orang tuanya yang papa untuk dibaptis misalnya sebagaimana yang dilakukan oleh kaum kulit putih Australia terhadap anak-anak orang Aborigin di masa lalu tidak pernah akan terjadi. Yang ada adalah persuasi...

Kalau sudah seperti ini apakah masih perlu untuk membunuh/ngebom orang lain akibat mereka berbeda keyakinan dengan kita...

Lain lagi apabila alasannya adalah karena mereka menjajah kita dan mengganggu hak azasi kita sebagai manusia yang wajib dan berhak untuk mengajak manusia lain berbuat baik, mencegah kejahatan dan beriman kepada Allah (amar ma’ruf nahi munkar wa tukminunabillah.)

Siapakah yang marah ketika lukisannya dirusak orang tanpa alasan yang benar... yang marah tentulah pelukisnya
Siapakah yang marah ketika patungnya dirusak orang tanpa alasan yang benar... yang marah tentulah pematungnya
Lalu siapakah yang marah ketika manusia dibunuh tanpa alasan yang hak... yang marah tentulah Penciptanya


Semoga Allah melembutkan hati kita ... agar selalu siap menerima kebenaran dan hidayah Nya
Amien
Wassalamu'alaikum
Ch An’s
00092004
avicenna1995@yahoo.com

Berbagi Cinta (00082004)

Assalamu'alaikum

Seringkali saya tersentuh dengan sikap, kata dan kejadian-kejadian yang terjadi di sekitar saya. Kadangkala hati saya tergerak untuk berbagi cerita tentang 'sentuhan' itu, barangkali apa yang saya rasakan tersebut bermanfaat bagi orang lain. Jika kiriman e-mail ini anda rasakan manfaatnya, bolehlah anda sharing ke orang lain, atau apabila tidak berkenan mohon maaf telah memenuhi mail box anda dan silahkan delete.

Dalam perjalanan berangkat ke kantor seringkali saya dengarkan radio, dan suatu saat saya dengar obrolan singkat Emha A Najib tentang 'berbagi cinta' yang memberi inspirasi saya untuk menulis e-mail ini.

Dalam khotbah-khotbah di mesjid, ceramah-ceramah di majlis taklim, maupun arahan-arahan di kantor dan di tempat-tempat lain, seringkali kita dituntut untuk mencintai. Kita dituntut untuk mencintai Allah -padahal kenal namanya Allah saja belum, tahu wajahnya Allah juga belum, apalagi merasakan 'sentuhan' Allah- sudah dituntut lagi untuk mencintai Rasulullah -manusia yang kita tak pernah jumpa dengannya-, mencintai agama, negara. Belum lagi tuntutan untuk mencintai anak, istri, -lebih ruwet lagi apabila istri banyak dan anaknya juga banyak-, suami, tetangga, perusahaan, pekerjaan, kekasih, dll. Semua menuntut cinta yang sepenuhnya .... 100%.

Lalu bagaimana kita membagi 'cinta' tersebut yang semuanya menuntut 100% ?

Kadangkala kita terjebak bahwa kata 'membagi atau berbagi' tersebut dengan membagi sesuatu yang bersifat materi, yang berkonotasi semakin berkurang/ mengecil. Apabila sepotong kue dibagi ke orang lain maka kue itu akan semakin berkurang, semakin kecil. Padahal 'cinta' bukanlah 'materi', cinta adalah sesuatu yang bersifat 'spiritual', ruhaniyyah, seperti ilmu. Logika berfikir materialistik tidak dapat diterapkan dalam hal yang bersifat 'spiritual'. Jika seorang guru memberikan ilmunya ke murid-muridnya, maka ilmunya tidak akan berkurang, bahkan mungkin bertambah. Ilmu yang diberikan layaknya air di sumur zam-zam yang tak pernah kering walaupun telah diminum ribuan tahun dan diberikan ke berjuta-juta bahkan mungkin ber-milyard orang.

Demikian pula cinta, cinta yang kita berikan 100% kepada Allah tidak kan mengurangi cinta 100% kita kepada Rasulullah, 100% kepada anak, 100% kepada istri, 100% ke pekerjaan, 100% ke tetangga, 100% ke lain-lainnya, karena cinta yang sepenuhnya....100% tersebut kita berikan dalam kerangka cinta kepada 'Causa Prima', sang Penyebab Utama terjadinya segala sesuatu di alam semesta ini. Allah,-sebagai Penyebab Utama terciptanya makhluk yang bernama manusia dan kemudian menepatkannya di bumi-, tentu saja dan pasti tahu apa kebutuhan manusia dan pasti memberi 'guidance' agar makhluk yang bernama manusia ini dapat selamat menjalankan misinya. Dengan kerangka ini, maka 'kebutuhan' manusia untuk dapat berbagi rasa rasa cinta yang 100% kepada semua hal tentu saja ada 'guidance'- nya. Berbagi cinta secara penuh akan dapat dilakukan apabila kita lakukan karena rasa cinta kita sepenuhnya kepada Allah.

Kita mencintai Rasulullah sepenuhnya, karena rasa cinta kita kepada Allah.
Kita mencintai anak kita sepenuhnya, karena rasa cinta kita kepada Allah.
Kita mencintai istri kita -berapapun istri kita- sepenuhnya, karena cinta kita kepada Allah.
Kita mencintainya harta kita sepenuhnya, karena rasa cinta kita kepada Allah.
Kita mencintai perusahaan dan pekerjaan kita sepenuhnya, karena rasa cinta kita kepada Allah.
Kita mencintai alam semesta dan semua makhluk ciptaan Allah sepenuhnya, karena rasa cinta kita kepada Allah

Apabila semua itu kita lakukan maka hidup kita akan menjadi ringan, -sebagaimana layaknya seorang kekasih yang sedang jatuh cinta-, semua kita berikan dengan kualitas usaha terbaik (best effort) sebagai wujud dari rasa cinta kita kepada kekasih kita.

Dalam dunia kerja kita mungkin dalam minggu-minggu ke depan kita akan menghadapi 'job grading' yang dapat saja merugikan sebagian orang dan menguntungkan sebagian lainnya. Semua hal tersebut tentu saja akan ringan kita menghadapinya apabila pola berpikir kita adalah kita bekerja bukan karena apa atau siapa-siapa, tetapi kita lakukan karena rasa cinta kita kepada Allah.

Kita bekerja bukan karena alasan pangkat, gaji atau pujian atasan kita, semua hal tersebut adalah merupakan efek samping dari alasan utama kita bekerja. Misalnya, sebagai suami kita bekerja dan mencintai pekerjaan kita dalam rangka 'rasa cinta kepada Allah yang mewajibkan seorang suami berusaha sebaik mungkin untuk menafkahi anak-istrinya. Berangkat bekerja tentu saja dengan 'Bismillah' niat berusaha sebaik mungkin mencari rizki dan ridlo Allah untuk anak-istri kita. Dan apabila ternyata dari usaha terbaik yang kita berikan tersebut kemudian menghasilkan gaji bulanan, pangkat dan pujian atasan yang terus membaik, maka hal tersebut adalah sekedar merupakan efek samping saja dari perwujudan rasa cinta kita kepada Allah.

Ringan bukan .....satu cinta yang sepenuhnya.......... menimbulkan cinta lain yang tidak kalah penuhnya... Mari kita tenggelam di dalam Allah....

Karena memang Allah telah menjanjikan
'Tidak ada ketakutan dan tak ada kegelisahan bagi orang yang percaya padaNya' (wa la khaufun 'alaihim wa lahum yahzanuun)'.

Semoga bermanfaat.
Wassalamu'alaikum
ChAn's
00082004

Monday, July 17, 2006

Bencana (09062006)

Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, shalawaatu wassalaamu ‘alaa rasulillahi Muhammad saw, assalamu'alaina wa ‘alaa ibadillahish shalihiin, alhamdulillahi rabbil ‘alamiin atas segala nikmat yang telah diberikan. Nyawa masih tinggal di raga, rumah tinggal masih tegak berdiri, tempat kerja masih beroperasi, dan keluarga masih sehat wal’afiat menunggu di rumah. Sementara saudara-saudara kita di Yogya dan sekitarnya meratapi nyawa saudara, rumah, dan harta yang tandas rata dengan tanah.

Siapa sangka… ketika contigency plan disiapkan untuk bencana dari utara, ternyata munculnya dari arah selatan. Disiapkan evakuasi bencana dari gunung, yang munculnya ternyata gempa dari kedalaman laut. Diprediksi sudah tidak akan ada lagi gempa, masih ada gempa susulan berskala 3.7 skala Richter. Gunung Merapi mereda, Gunung Slamet mulai batuk-batuk. Bencana tampaknya memang seperti kematian…, datang di tempat dan saat yang tidak disangka-sangka.

Lalu lihatlah ulah manusia.... Mulai dari ramalan paranormal tentang tanggal meletusnya Gunung Merapi yang nggak ada yang benar, para tokoh dan partai politik yang ramai-ramai cari simpati di daerah bencana, sponsorship consumer goods mengeksploitasi hot news bencana alam, para 'wisatawan' yang bukannya menolong korban bencana tetapi hanya sekedar melihat saudaranya yang terkena bencana, tolak bala dengan 'ikatan janur kuning', dihubungkan-hubungkannya bencana dengan marahnya Nyi Roro Kidul –yang hanya memakai kemben- karena pro RUU APP semakin marak, sampai kurangnya ruwatan dan sesajen yang di labuh di pantai Selatan.

Aneh dan lucu…Bagaimana bisa Nyi Roro Kidul menggoncangkan bumi, sementara membersihkan sampah di pantainya yang kotorpun tak mampu ?. Bagaimana ‘ikatan janur kuning’ bisa menolak bala sementara menolak ‘dirinya’ agar tidak menjadi ketupat pun tak mampu ? Bagaimana bisa kurang ruwatan dan sesajen, sementara Australia yang juga berhubungan dengan pantai selatanpun aman-aman saja, meski tidak pernah ruwatan dan kirim sesajen sama sekali ?

Itulah kita… padahal Allah sudah mengingatkan di dalam Al Zalzalah (99: 1-5) –meski ayat ini sebenarnya bercerita tentang yaumil akhir- . Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung) nya, dan manusia bertanya: "Mengapa bumi (jadi begini) ?", pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan kepadanya.

Allah lah yang memerintahkan kepada bumi dan gunung-gunung untuk 'menceritakan berita yang diterimanya dari Nya', sebagai peringatan bagi manusia agar sadar bahwa 'Betapa Berkuasanya Dia' dan 'Betapa Keras Siksanya'. Bencana yang diterima manusia bisa jadi ujian, tetapi bisa juga merupakan siksa, tergantung kualitas individu manusia yang menerimanya. Tetapi yang menjadi korban kan beragam dan banyak juga orang-orang beriman ?

Rasulullah pun telah mengingatkan dalam salah satu hadis di dalam Shakhih Bukhari -yang terjemahan bebasnya- Orang beriman dengan orang tidak beriman itu layaknya dalam satu kapal, apabila penumpang di bawah (tidak beriman) palka melubangi perahu dan orang yang di atas palka (beriman) tidak mencegah orang yang berbuat zhalim tersebut melakukan perbuatannya, maka akan tenggelamlah orang yang beriman tersebut bersama-sama dengan orang yang tidak beriman. Kapal akan karam.

Lalu bagaimana pula setelah bencana…? Isu dan gosip tentang bencana lain yang akan menimpa disebarkan kemana-mana memanfaatkan suasana kejiwaan masyarakat yang masih trauma dan khawatir dengan bencana. Beragam macam beritanya :
Dalam 3 bulan ini -Juni, Juli, Agustus- akan terjadi banyak jeritan-jeritan manusia akibat bencana di Indonesia. Tanggal 6 bulan 6 tahun 2006 atau 666 –sebagai simbol setan dalam ajaran Kristiani- akan terjadi bencana yang hebat / kiamat. Tanggal 7 Juni 2006 akan terjadi gempa akibat tumbukan lempeng Australia dengan lempeng Asia.“Badai Biru” sedang terjadi di luar angkasa, dan kemungkinan akan jadi bencana bagi planet bumi." dan banyak lagi e-mail tentang bencana yang akan menimpa dan kemudian kita respon dengan kekhawatiran yang terlalu berlebihan. Banyak do’a lah, banyak dzikir lah, dan bahkan mungkin sudah ada juga yang mempersiapkan diri dengan belanja kebutuhan untuk 3 bulan. Alasannya sih biasa… “Nggak ada jeleknya mempersiapkan diri”.

Nggak tahu apakah ini langkah antisipatif ataukah sekedar kekhawatiran yang berlebihan ? Karena alasan untuk khawatir tersebut sebenarnya tidak jelas dan tidak bisa dibuktikan secara ilmiah, dan bahkan beberapa ramalan tersebut sudah terbukti tidak terjadi sama sekali. Tampaknya kita memang terlalu outward looking. Coba kalau pendekatannya kita buat lebih inward looking

* Setiap hari kita berangkat tidur, yang sebenarnya juga berangkat menuju kematian. Bagaimana kalau ruh ditahan oleh Allah dan tidak dikembalikan lagi ke tubuh kita ?
* Bagaimana kalau saat kita pulang kerja ada bus nyelonong menubruk kita ?
* Bagaimana kalau saat kita berteriak gembira karena tercetaknya goal di saat nonton Piala Dunia nanti malam, kemudian detak jantung kita diberhentikan oleh Allah ?
* Bagaimana kalau saat ini pembuluh darah di otak kita pecah, hilang kesadaran, dan tidak lagi sadar -seperti Ariel Sharon saat ini-, sampai kemudian meninggal ?
* Bagaimana kalau kursi tempat kita duduk saat ini... luruh ke lantai dasar gedung karena ada gempa yang menghancurkan ?
* dsb.

Dan inilah realita hidup yang setiap hari, setiap malam, setiap jam, dan setiap saat kita hadapi. Lalu apakah kita sudah mengantisipasinya dan khawatir seperti kalau kita terima e-mail yang nggak jelas juntrungannya dan kemudian kita sebarkan ke sana kemari ? Apakah kita juga sudah memperbanyak berbuat baik, memperbanyak dzikir, memperbanyak do’a, banyak memohon maaf dan ampunan atas setiap kesalahan yang terjadi, dan banyak hal lain sebagai persiapan diri kita mengadapi ”bencana” yang ada di dalam diri kita sendiri dan setiap saat bisa menghampiri kita saat ini, seperti kalau kita terima e-mail bahwa tanggal 666 akan terjadi bencana besar ?

Selayaknya setiap saat kita memang harus siap hidup dan tak takut mati, serta tak putus berdo'a, menguatkan iman, dan berbuat baik sebanyak-banyaknya dan sesegera mungkin, tanpa harus menunggu momen tubrukan lempeng Australia dengan lempeng Asia, dsb.

Oleh karenanya –menurut saya- hidup terlalu singkat untuk dijalani bersama pilihan yang salah..., pilihan yang tidak didasarkan pada aturan Allah swt. Yang Maha Rahman dan Maha Keras Siksanya, karena sesaat sesudah baca e-mail ini bisa saja jantung kita berhenti berdetak dan kita tidak ada pilihan lagi selain menuju ke alam kubur.

Beriman dan beramal shalih tidak perlu menunggu prediksi tubrukan antar planet. Semoga bermanfaat dan mohon maaf apabila tidak berkenan.

Wassalamu’alaikum
ChAn
09062006

Hati Yang Selesai (07072006)

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, allhumma shalli 'alaa sayyidinaa Muhammad, wassalamu 'alaa ibadillahish shalihiin, alhamdulillahi rabbil 'aalamiin. Melanjutkan tulisan 2 minggu lalu, semoga rubrik pendek ini bisa jadi setitik embun penyejuk hati yang sedang gelisah dan kecewa, entah kecewa karena suami, kecewa karena istri, kecewa karena anak, kecewa karena pangkat, kecewa karena situasi kerja, dan kecewa sebab lainnya akibat tidak bertemunya harapan dengan kenyataan.

"Sebel...masak suami kok nggak bisa jadi tauladan anak-anaknya. Sudah nggak mau sholat, nggak mau bantu repotnya istri, di rumah kerjanya cuma baca koran, merokok, nonton tv, apalagi ada Piala Dunia... Puiiihh, habis sudah kesabaran"

"Pusiiing...istri kok nggak bisa ngurus rumah, anggaran belanja rumah tangga selalu defisit karena gaya hidup konsumtif dan beli barang yang enggak-enggak. Belum lagi kalau ceriwis ngomel karena uang belanja kurang."

"Capek... kerja kok seperti ikut penjajah. Target seperti karet, bisa molor setiap saat ngikutin tren dan selera atasan. Belum lagi ketemu tipe atasan yang nggak mau tahu kesulitan anak buah. Pokoknya target harus tercapai, sementara targetnya sendiri terus direvisi dan bergerak naik... Kalau begini kapan achieve-nya ?"

"Kecewa... pangkat kok nggak naik-naik. Posisi yang sudah di depan mata, kok ya ndilalah nggak jadi karena struktur organisasinya berubah"

"Sedih... prestasi kerja puluhan tahun hilang musnah tak dihargai perusahaan karena nila setitik, ketahuan terima uang dari nasabah."

Dan banyak lagi ekspresi lain sebagai wujud dari kekecewaan dan kesedihan. Lalu..., apakah sebel, pusing, lelah, sedih, dan kekecewaan yang sekarang ini kita rasakan menyelesaikan masalah yang timbul ? Apakah bukan karena fokus perhatian kita yang salah sehingga porsi sedih dan kecewa menjadi terlalu besar ? Layaknya kalau kita ambil selembar kertas putih, dan kemudian kita beri noktah hitam o di lembar kertas tersebut, maka seringkali yang kita lihat adalah noktah hitam, dan abai dengan warna putih yang dominan di lembaran kertas tersebut.

Kesedihan, kekecewaan hanyalah setitik noktah hitam dari lembaran putih cerianya kehidupan yang selama ini kita abaikan. Suami / istri / anak yang tidak sesuai dengan harapan, pangkat yang belum kesampaian, harta yang masih kurang, respon orang lain yang tidak sesuai harapan, dll. hanyalah sekedar noktah hitam yang perlu kita perhatikan sekedarnya saja, dan kemudian kita kembali kepada lembaran putih kehidupan yang lebih cerah dan dominan. Menatap ke depan berdasar potensi yang kita miliki, dan referensi hikmah yang kita ambil dari pengetahuan dan pengalaman yang sudah kita rasakan.

Sebuah filler Emha Ainun Najib di sebuah radio yang saya dengar sambil lalu di perjalanan saat berangkat kantor menggelitik saya dan ingin saya bagi kepada anda. Hati yang selesai menurut Emha, nrima ing pandum dalam versi Jawa, atau kalau menurut bahasa saya ”hati yang puas dengan takdir Allah”... qana'ah.

Alkisah, serombongan seniman theatre pulang dari manggung di sebuah kota dengan mecarter bus. Yah...yang namanya gerombolan seniman, di dalam bus tidak ada yang pakai pakaian resmi, tidak ada formalitas, hanya pakai celana kolor dan kaos oblong pun jadi. Di dalam perjalanan... di tengah malam, di tempat yang terpencil, bus tersebut harus berhenti di sebuah pom bensin untuk melayani orang-orang yang kebelet pipis. Begitu tahu bus berhenti..., maka berlompatan keluarlah seniman-seniman yang kebelet tersebut. Selesai pipis... mereka berlarian kembali masuk bus, istirahat melanjutkan tidurnya. Karena suasananya remang-remang, tengah malam, lelah, dan masih mengantuk, tak ada seorangpun yang peduli dengan kelengkapan jumlah penumpang ketika sopir bus meminta konfirmasi. Dianggap lengkap, bus pun berangkat kembali dan.... ternyata seorang seniman yang hanya berkaos oblong dan celana kolor tertinggal di pom bensin, sendirian di daerah terpencil di tengah sepinya malam. Tak ada uang, tak ada HP, karena hanya pakai celana kolor dan kaos oblong sementara dompet dan HP ada di dalam tas terbawa bus bersama teman-temannya. Tak ada orang, tak ada angkutan, karena tengah malam dan pom bensin tersebut sebenarnya sudah tutup dan lagi letaknya terpencil, jauh dari keramaian.

Lalu apa yang kita lakukan dengan kondisi seperti ini ?. Menangis, teriak-teriak, atau ngomel-ngomel, mengumpat teman duduk yang tak peduli, mengumpat sopir bus yang tidak teliti, misuhi penjaga pom bensin yang enak-enakan tidur menyendiri, menyalahkan angkutan yang sepi, menyesali diri sendiri kenapa kok nggak hati-hati, dan banyak lagi ’kambing hitam” yang semua ujungnya adalah menyesali kejadian yang sudah terjadi dan sudah menjadi bagian masa lalu ? Ataukah menerima keadaan yang sudah terjadi tersebut dengan lapang dada dan kemudian melakukan ikhtiar terbaik berdasar potensi yang kita miliki, mencari alternatif-alternatif secara positif untuk menyelesaikan ’musibah’ yang menimpa ? Misalnya : yah sudah... lanjutkan saja istirahatnya di pom bensin, cari tempat untuk tidur, besok ketika hari sudah terang... minta bantuan orang, telpon teman, cari angkutan yang mau mengantar ke kota tujuan, pinjam baju, pinjam uang, atau bahkan nggandhol truk, dsb. yang semuanya merupakan alternatif-alternatif solutif dari masalah yang menimpa, yang orientasinya ke masa depan, tanpa mengumpat dan menyesali semua yang sudah terjadi.

Waktu tidak bisa kita putar lagi mundur.

Bagi orang-orang yang ’hatinya selesai’, pilihannya adalah menerima semua takdir yang menimpa, lalu kemudian melakukan ikhtiar terbaik berdasar potensi diri dan secara positif melakukan tindakan-tindakan solutif yang orientasinya ke depan dengan hati yang lapang, agar sisi negatif dari musibah yan terjadi tidak lagi terulang. Tak perlu mengumpat, menyalahkan kejadian, dan mencari kambing hitam.

Meski demikian, tentu tidak semua tindakan positif mendapatkan hasil yang instan, ada proses yang harus dilalui. Jika saat ini kita sedang mengalami kekecewaan yang sangat terhadap suami/istri, misalnya, tindakan-tindakan positif yang kita lakukan kadangkala tidak langsung dapat mengubah suami/ istri menjadi seperti yang kita harapkan. Tentu saja kita tak bisa terus-terusan ngomel, menyalahkan keadaan, dan mencari kambing hitam. Suami / istri yang ada sekarang tentulah tidak bisa dengan sekejap mata menjadi orang seperti yang kita harapkan. Dia menjadi pribadi seperti yang ”ada” saat ini melalui proses yang puluhan tahun lamanya, hasil interaksi dengan budayanya, lingkungannya, keluarganya, teman-temannya, dsb., sehingga kalau kita mau "kosongkan" dia dan kemudian kita jadikan dia sebagai pribadi seperti yang harapan yang ada di benak kita, tentulah butuh proses dan waktu yang lama pula. Bagi pribadi yang ”hatinya selesai”, dia akan terima kondisi ”ketidakcocokan” ini sambil secara positif menjadikan pasangannya sebagai –pinjam istilahnya A’a Gym- ladang amal. Yang namanya bercocok tanam di ”ladang” tentu butuh kesabaran... apalagi untuk pasangan-pasangan muda dengan usia perkawinan di bawah 5 tahun, yang masih sering kaget dengan tingkah polah pasangannya dan masih sering pula timbul friksi.

Demikian pula dengan ”musibah” gagalnya anak masuk di sekolah favorit, karena minimnya dana, misalnya. Kepentingan siapa sih sebenarnya menyekolahkan anak di sekolah-sekolah favorit ? Mana tahu sih anak yang masih playgroup, TK, dan SD dengan sekolah-sekolah favorit ? Bukankah ini hanya gengsi orang tuanya saja ? Bukankah banyak orang sukses yang dihasilkan bukan dari sekolah-sekolah favorit ? Bagi orang-orang yang hatinya selesai, kegagalan anak masuk ke sekolah favorit tentu tidak akan dihadapi dengan menggerutu, mencari kambing hitam, korupsi mencari tambahan dana untuk nyogok sekolahan, atau bahkan membunuh anak-anaknya karena kekhawatiran yang berlebihan. Kondisi seperti ini akan dihadapi dengan positif dan kreatif. Bisa dengan tambahan kualitas pendidikan di rumah mengimbangi kualitas pendidikan sekolah formalnya yang biasa-biasa saja, atau cari bea siswa, dsb.

Hati yang selesai bagi saya bukannya pasif menunggu, tetapi ikhlas menerima yang sudah terjadi, ambil hikmahnya, kemudian secara aktif ikhtiar berdasar potensi terbaik yang dimiliki untuk meminimalisir efek negatif dan memaksimalkan potensi positif yang bisa dimanfaatkan dari setiap peristiwa, tanpa menggerutu, menyalahkan, apalagi mencari kambing hitam. Ini menurut saya lho... entah menurut anda. Kalau nggak percaya silahkan praktekkan insya Allah banyak manfaatnya.

Ya... hati yang selesai. Mohon maaf apabila tidak berkenan, dan semoga bermanfaat

Wassalamu’alaikum
ChAn
07072006
avicenna1995@yahoo.com