Dan kalau kita amati dari setiap bencana, yang paling menderita pada umumnya adalah anak-anak. Orang dewasa dan yang sudah tua memang menderita juga, karena kehilangan anak, kehilangan istri, kekayaan, tercerabut dari rumah tinggal, dsb., tetapi mereka pada umumnya sudah mempunyai bekal kekayaan mental yang sudah terlatih dari kecil sampai menjadi orang yang sudah tua. Akan halnya anak-anak ? Mereka belum mempunyai kekayaan mental untuk menghadapi musibah-musibah seperti itu. Mereka masih baru beberapa tahun menghuni dunia ini, dan kemudian harus memikul beban berat, kehilangan orang tua, sanak saudara, teman bermain, kekayaan, luka yang parah, dsb. Tak terbayangkan betapa getirnya derita yang harus dipikul. Oleh karenanya meski bencana yang menjadi topik hangat bahasan masyarakat, kali ini saya ingin berbagi cerita tentang "Anak", di samping juga karena topik tentang "Bencana" sudah ada sebelumnya di rubrik ini.
Anak –yang di dalamnya tentu termasuk pula yang masih anak-anak-, bagi banyak orang yang sudah berumah-tangga merupakan hal yang sangat didamba. Menjadi obsesi, menjadi salah satu tujuan dari umumnya pernikahan. Anak merupakan recharger energi yang sudah terkuras setelah seharian bekerja, anak merupakan penerus ide dan cita-cita yang belum terselesaikan, anak merupakan investasi paling berharga, anak merupakan sumber inspirasi, dan banyak hal lainnya yang menunjukkan bahwa anak merupakan hal yang paling penting dalam hidupnya. Begitu pentingnya, sampai-sampai -bagi beberapa pasangan- berpisahpun dijalani hanya karena belum mendapatkan anak.
Dalam banyak kasus pasangan yang tak punya anak seperti ini biasanya perempuan lagi yang dipojokkan oleh masyarakat sebagai biang masalahnya, padahal -pada umumnya- selama siklus bulanannya teratur -produksi ovum lancar-, masalah sebenarnya kebanyakan ada pada kualitas bibit lelaki yang loyo dan banyak mati di tengah jalan. Hingga tak heran apabila di jaman dahulu kala di kalangan kaum ningrat Jawa lebih memilih mengawinkan anak perempuannya dengan lelaki ningrat lainnya yang sudah terbukti bibitnya tokcer , bisa mempunyai anak, daripada dengan jejaka, meski harus jadi istri kedua.
Bagi yang sudah diberi anak kadang masih pula timbul masalah, diberi satu maunya dua, diberi dua laki / perempuan semua minta tambah jenis kelamin lainnya, sudah dapat dua laki dan perempuan maunya tiga, nggak ada habisnya... dan begitulah memang manusia, padahal kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, (49) atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.(50) [QS Asy Syuu'ara (42): 49-50]
Kalau sudah begitu firman Nya apakah kita mau memprotes Nya ? Memaksa Allah untuk memberi semua pasangan harus mempunyai anak minimal 2 semua, misalnya ? Sunnah Nya memang tercipta berpasang-pasangan, ada yang anaknya sedikit ada juga yang banyak, ada pasangan yang nggak punya anak ada juga anak yang nggak punya orang tua. Ya begitulah hidup...
Lalu apakah kemudian kita pasrah saja ...? Tentu tidak, ikhtiar memang harus kita upayakan terus menerus, karena siapa tahu Allah memberikan kasih sayang Nya kepada kita seperti yang diberikan kepada Nabi Ibrahim yang baru diberi anak setelah sama-sama tua, sebagaimana diceritakan dalam Al Quran QS 11:72 Isterinya berkata: "Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamikupun dalam keadaan yang sudah tua pula?. Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh." Tetapi –bukannya menyepelekan QS 11:72- kalau sudah terlalu lama, berumur, berkecukupan, dan belum juga diberi anak, apakah tidak saatnya melihat, menimbang, dan menimang ”mereka” anak-anak yatim-piatu yang kehilangan orang tuanya ?
Kan cukup dibantu dananya saja ? Bantuan dana memang perlu, tetapi apakah itu cukup ? Belaian kasih sayang dan perhatian ”orang tua” mestinya perlu juga mereka rasakan menghadapi penderitaan dan musibah-musibah yang menimpanya.
Bukannya saya ingin menggurui, tetapi alangkah indahnya apabila resources dan skills, yang sudah kita persiapkan pada saat memasuki jenjang perkawinan yang belum kita praktekkan karena belum dititipi anak kandung oleh Allah, kita manfaatkan secara maksimal kepada anak-anak yatim piatu, anak-anak yang terkena musibah dan tidak memiliki orang tua. Atau meski kita sudah punya anak, tetapi karena masih ada kelebihan dana, kita sisihkan sebagian dana untuk kepentingan para yatim-piatu. Atau bagaimana kalau kita tambah lagi anak asuh yatim piatu berdampingan dengan anak-anak kandung kita di rumah. –untuk usul yang satu ini saya sebenarnya malu menyampaikan..., mempraktekkannya masih dalam taraf hanya sebagai donatur saja, karena suami istri sama-sama bekerja-
Dalam persepsi saya mengadopsi anak yatim piatu, meski bukan anak kandung tetap masih bermanfaat. Meski bukan do’a anak (kandung) sholeh yang kita dapat, tetapi amal jariah yang kita investasikan ke anak asuh, serta ilmu yang manfaat yang kita ajarkan ke anak angkat tersebut, insya Allah akan selalu menambah pundi-pundi amal kita, meski kita sudah di alam baqa. Ya... sebagaimana yang disampaikan Rasullullah dalam hadits tentang 3 hal yang akan selalu menyertai manusia ke alam baqa, menambah pundi-pundi amal kita meski kita sudah tiada.
Enak ngomongnya, susah melaksanakannya, akan tetapi insya Allah inilah salah satu jalan lurus membantu anak-anak korban beragam musibah yang terjadi dan anak-anak terlantar di sekita kita. Semoga bermanfaat, dan semoga Allah memberikan kekuatan dan kemudahan kepada saya untuk menjalankan apa yang saya tulis secara konsisten. Mohon maaf apabila tidak berkenan dan
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabaraktuh.
ChAn
20072006
avicenna1995@yahoo.com
pojok-chan.blogspot.com
