Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, allhumma shalli 'alaa sayyidinaa Muhammad, wassalamu 'alaa ibadillahish shalihiin, alhamdulillahi rabbil 'aalamiin. Melanjutkan tulisan 2 minggu lalu, semoga rubrik pendek ini bisa jadi setitik embun penyejuk hati yang sedang gelisah dan kecewa, entah kecewa karena suami, kecewa karena istri, kecewa karena anak, kecewa karena pangkat, kecewa karena situasi kerja, dan kecewa sebab lainnya akibat tidak bertemunya harapan dengan kenyataan.
"Sebel...masak suami kok nggak bisa jadi tauladan anak-anaknya. Sudah nggak mau sholat, nggak mau bantu repotnya istri, di rumah kerjanya cuma baca koran, merokok, nonton tv, apalagi ada Piala Dunia... Puiiihh, habis sudah kesabaran"
"Pusiiing...istri kok nggak bisa ngurus rumah, anggaran belanja rumah tangga selalu defisit karena gaya hidup konsumtif dan beli barang yang enggak-enggak. Belum lagi kalau ceriwis ngomel karena uang belanja kurang."
"Capek... kerja kok seperti ikut penjajah. Target seperti karet, bisa molor setiap saat ngikutin tren dan selera atasan. Belum lagi ketemu tipe atasan yang nggak mau tahu kesulitan anak buah. Pokoknya target harus tercapai, sementara targetnya sendiri terus direvisi dan bergerak naik... Kalau begini kapan achieve-nya ?"
"Kecewa... pangkat kok nggak naik-naik. Posisi yang sudah di depan mata, kok ya ndilalah nggak jadi karena struktur organisasinya berubah"
"Sedih... prestasi kerja puluhan tahun hilang musnah tak dihargai perusahaan karena nila setitik, ketahuan terima uang dari nasabah."
Dan banyak lagi ekspresi lain sebagai wujud dari kekecewaan dan kesedihan. Lalu..., apakah sebel, pusing, lelah, sedih, dan kekecewaan yang sekarang ini kita rasakan menyelesaikan masalah yang timbul ? Apakah bukan karena fokus perhatian kita yang salah sehingga porsi sedih dan kecewa menjadi terlalu besar ? Layaknya kalau kita ambil selembar kertas putih, dan kemudian kita beri noktah hitam o di lembar kertas tersebut, maka seringkali yang kita lihat adalah noktah hitam, dan abai dengan warna putih yang dominan di lembaran kertas tersebut.
"Sebel...masak suami kok nggak bisa jadi tauladan anak-anaknya. Sudah nggak mau sholat, nggak mau bantu repotnya istri, di rumah kerjanya cuma baca koran, merokok, nonton tv, apalagi ada Piala Dunia... Puiiihh, habis sudah kesabaran"
"Pusiiing...istri kok nggak bisa ngurus rumah, anggaran belanja rumah tangga selalu defisit karena gaya hidup konsumtif dan beli barang yang enggak-enggak. Belum lagi kalau ceriwis ngomel karena uang belanja kurang."
"Capek... kerja kok seperti ikut penjajah. Target seperti karet, bisa molor setiap saat ngikutin tren dan selera atasan. Belum lagi ketemu tipe atasan yang nggak mau tahu kesulitan anak buah. Pokoknya target harus tercapai, sementara targetnya sendiri terus direvisi dan bergerak naik... Kalau begini kapan achieve-nya ?"
"Kecewa... pangkat kok nggak naik-naik. Posisi yang sudah di depan mata, kok ya ndilalah nggak jadi karena struktur organisasinya berubah"
"Sedih... prestasi kerja puluhan tahun hilang musnah tak dihargai perusahaan karena nila setitik, ketahuan terima uang dari nasabah."
Dan banyak lagi ekspresi lain sebagai wujud dari kekecewaan dan kesedihan. Lalu..., apakah sebel, pusing, lelah, sedih, dan kekecewaan yang sekarang ini kita rasakan menyelesaikan masalah yang timbul ? Apakah bukan karena fokus perhatian kita yang salah sehingga porsi sedih dan kecewa menjadi terlalu besar ? Layaknya kalau kita ambil selembar kertas putih, dan kemudian kita beri noktah hitam o di lembar kertas tersebut, maka seringkali yang kita lihat adalah noktah hitam, dan abai dengan warna putih yang dominan di lembaran kertas tersebut.
Kesedihan, kekecewaan hanyalah setitik noktah hitam dari lembaran putih cerianya kehidupan yang selama ini kita abaikan. Suami / istri / anak yang tidak sesuai dengan harapan, pangkat yang belum kesampaian, harta yang masih kurang, respon orang lain yang tidak sesuai harapan, dll. hanyalah sekedar noktah hitam yang perlu kita perhatikan sekedarnya saja, dan kemudian kita kembali kepada lembaran putih kehidupan yang lebih cerah dan dominan. Menatap ke depan berdasar potensi yang kita miliki, dan referensi hikmah yang kita ambil dari pengetahuan dan pengalaman yang sudah kita rasakan.
Sebuah filler Emha Ainun Najib di sebuah radio yang saya dengar sambil lalu di perjalanan saat berangkat kantor menggelitik saya dan ingin saya bagi kepada anda. Hati yang selesai menurut Emha, nrima ing pandum dalam versi Jawa, atau kalau menurut bahasa saya ”hati yang puas dengan takdir Allah”... qana'ah.
Alkisah, serombongan seniman theatre pulang dari manggung di sebuah kota dengan mecarter bus. Yah...yang namanya gerombolan seniman, di dalam bus tidak ada yang pakai pakaian resmi, tidak ada formalitas, hanya pakai celana kolor dan kaos oblong pun jadi. Di dalam perjalanan... di tengah malam, di tempat yang terpencil, bus tersebut harus berhenti di sebuah pom bensin untuk melayani orang-orang yang kebelet pipis. Begitu tahu bus berhenti..., maka berlompatan keluarlah seniman-seniman yang kebelet tersebut. Selesai pipis... mereka berlarian kembali masuk bus, istirahat melanjutkan tidurnya. Karena suasananya remang-remang, tengah malam, lelah, dan masih mengantuk, tak ada seorangpun yang peduli dengan kelengkapan jumlah penumpang ketika sopir bus meminta konfirmasi. Dianggap lengkap, bus pun berangkat kembali dan.... ternyata seorang seniman yang hanya berkaos oblong dan celana kolor tertinggal di pom bensin, sendirian di daerah terpencil di tengah sepinya malam. Tak ada uang, tak ada HP, karena hanya pakai celana kolor dan kaos oblong sementara dompet dan HP ada di dalam tas terbawa bus bersama teman-temannya. Tak ada orang, tak ada angkutan, karena tengah malam dan pom bensin tersebut sebenarnya sudah tutup dan lagi letaknya terpencil, jauh dari keramaian.
Lalu apa yang kita lakukan dengan kondisi seperti ini ?. Menangis, teriak-teriak, atau ngomel-ngomel, mengumpat teman duduk yang tak peduli, mengumpat sopir bus yang tidak teliti, misuhi penjaga pom bensin yang enak-enakan tidur menyendiri, menyalahkan angkutan yang sepi, menyesali diri sendiri kenapa kok nggak hati-hati, dan banyak lagi ’kambing hitam” yang semua ujungnya adalah menyesali kejadian yang sudah terjadi dan sudah menjadi bagian masa lalu ? Ataukah menerima keadaan yang sudah terjadi tersebut dengan lapang dada dan kemudian melakukan ikhtiar terbaik berdasar potensi yang kita miliki, mencari alternatif-alternatif secara positif untuk menyelesaikan ’musibah’ yang menimpa ? Misalnya : yah sudah... lanjutkan saja istirahatnya di pom bensin, cari tempat untuk tidur, besok ketika hari sudah terang... minta bantuan orang, telpon teman, cari angkutan yang mau mengantar ke kota tujuan, pinjam baju, pinjam uang, atau bahkan nggandhol truk, dsb. yang semuanya merupakan alternatif-alternatif solutif dari masalah yang menimpa, yang orientasinya ke masa depan, tanpa mengumpat dan menyesali semua yang sudah terjadi.
Waktu tidak bisa kita putar lagi mundur.
Bagi orang-orang yang ’hatinya selesai’, pilihannya adalah menerima semua takdir yang menimpa, lalu kemudian melakukan ikhtiar terbaik berdasar potensi diri dan secara positif melakukan tindakan-tindakan solutif yang orientasinya ke depan dengan hati yang lapang, agar sisi negatif dari musibah yan terjadi tidak lagi terulang. Tak perlu mengumpat, menyalahkan kejadian, dan mencari kambing hitam.
Meski demikian, tentu tidak semua tindakan positif mendapatkan hasil yang instan, ada proses yang harus dilalui. Jika saat ini kita sedang mengalami kekecewaan yang sangat terhadap suami/istri, misalnya, tindakan-tindakan positif yang kita lakukan kadangkala tidak langsung dapat mengubah suami/ istri menjadi seperti yang kita harapkan. Tentu saja kita tak bisa terus-terusan ngomel, menyalahkan keadaan, dan mencari kambing hitam. Suami / istri yang ada sekarang tentulah tidak bisa dengan sekejap mata menjadi orang seperti yang kita harapkan. Dia menjadi pribadi seperti yang ”ada” saat ini melalui proses yang puluhan tahun lamanya, hasil interaksi dengan budayanya, lingkungannya, keluarganya, teman-temannya, dsb., sehingga kalau kita mau "kosongkan" dia dan kemudian kita jadikan dia sebagai pribadi seperti yang harapan yang ada di benak kita, tentulah butuh proses dan waktu yang lama pula. Bagi pribadi yang ”hatinya selesai”, dia akan terima kondisi ”ketidakcocokan” ini sambil secara positif menjadikan pasangannya sebagai –pinjam istilahnya A’a Gym- ladang amal. Yang namanya bercocok tanam di ”ladang” tentu butuh kesabaran... apalagi untuk pasangan-pasangan muda dengan usia perkawinan di bawah 5 tahun, yang masih sering kaget dengan tingkah polah pasangannya dan masih sering pula timbul friksi.
Demikian pula dengan ”musibah” gagalnya anak masuk di sekolah favorit, karena minimnya dana, misalnya. Kepentingan siapa sih sebenarnya menyekolahkan anak di sekolah-sekolah favorit ? Mana tahu sih anak yang masih playgroup, TK, dan SD dengan sekolah-sekolah favorit ? Bukankah ini hanya gengsi orang tuanya saja ? Bukankah banyak orang sukses yang dihasilkan bukan dari sekolah-sekolah favorit ? Bagi orang-orang yang hatinya selesai, kegagalan anak masuk ke sekolah favorit tentu tidak akan dihadapi dengan menggerutu, mencari kambing hitam, korupsi mencari tambahan dana untuk nyogok sekolahan, atau bahkan membunuh anak-anaknya karena kekhawatiran yang berlebihan. Kondisi seperti ini akan dihadapi dengan positif dan kreatif. Bisa dengan tambahan kualitas pendidikan di rumah mengimbangi kualitas pendidikan sekolah formalnya yang biasa-biasa saja, atau cari bea siswa, dsb.
Hati yang selesai bagi saya bukannya pasif menunggu, tetapi ikhlas menerima yang sudah terjadi, ambil hikmahnya, kemudian secara aktif ikhtiar berdasar potensi terbaik yang dimiliki untuk meminimalisir efek negatif dan memaksimalkan potensi positif yang bisa dimanfaatkan dari setiap peristiwa, tanpa menggerutu, menyalahkan, apalagi mencari kambing hitam. Ini menurut saya lho... entah menurut anda. Kalau nggak percaya silahkan praktekkan insya Allah banyak manfaatnya.
Ya... hati yang selesai. Mohon maaf apabila tidak berkenan, dan semoga bermanfaat
Wassalamu’alaikum
ChAn
07072006
avicenna1995@yahoo.com

No comments:
Post a Comment