Tuesday, July 18, 2006

Pluralisme (0092004)

Assalamu'alaikum wr. wb.
Kawan..... apabila sebelumnya saya berbincang tentang 'Berbagi Cinta', maka kali ini saya berbincang tentang 'Pluralisme', tentu saja sebatas ilmu yang saya punya. Apabila dalam tulisan saya ini dianggap bermanfaat... bolehlah anda sharing ke lain orang, tetapi apabila hanya memenuhi mail box anda, sudilah kiranya anda men 'delete'-nya.... Mohon maaf.

Pada suatu malam beberapa minggu lalu, di salah satu station televisi menayangkan film tentang apartheid, racism dan kejahatan Klu Klux Klan di negara bagian (?) Mississippi, USA. Film yang berdasarkan kisah nyata tersebut berlangsung belum lama -sekitar tahun 60 s.d. 70 an- dan terjadi di negara yang ‘katanya’ paling demokratis dan menjadi pembela HAM dunia, Amerika Serikat. Penyiksaan dan pengebirian hak-hak warga kulit hitam terjadi dimana mana. Begitu terpuruknya orang kulit hitam sehingga alat transportasi, fasilitas umum, gereja dan bahkan kuburanpun dibedakan berdasarkan warna kulit. Mengerikan... sehingga istri saya pun takut melihatnya.

Ada satu pelajaran berharga yang saya dapat dari film tersebut, satu perkataan dari seorang kulit hitam yang membekas di hati saya : ‘meskipun kulit kita berbeda warna, bukankah darah kita sama merah...?’. Sederhana..... tetapi kegetiran ungkapan tersebut menyadarkan saya bahwa kita memang berbeda, tetapi kita sama-sama manusia makhluk Allah yang memang diciptakan dalam bentuk, warna ukuran dan karakter yang berbeda.

Tanpa menafikan usaha manusia yang mempunyai akal, dan keharusan menggunakan akalnya dan berusaha seoptimal mungkin untuk mewujudkan sesuatu. Segala sesuatu yang sudah terjadi dan ada... pasti terjadi dan ada karena Allah setuju sesuatu itu terjadi dan ada. Seseorang lahir menjadi ras berkulit hitam, coklat atau putih tentu karena adanya persetujuan dan ijin dari Allah. Seseorang lahir di Indonesia, Amerika, Jepang atau China tentu karena adanya persetujuan dan ijin Allah. Pada akhirnya seburuk apapun atau sebaik apapun kejadian yang terjadi di dunia ini, pasti terjadi atas sepengetahuan dan ijin dari Allah. Faktor manusia ? ya ..... manusia pasti ikut mempengaruhi karena banyak kerusakan yang terjadi di muka bumi ini akibat ulah manusia juga.... Tetapi bukankah pada akhirnya.... hak ‘veto’ ada di tangan Allah.

Agama pun demikian juga... agama Budha, agama Hindu, agama Kong Hu Chu, agama Yahudi, agama Nasrani, agama Majusi ataupun Animisme tentu ada dan hidup ribuan tahun juga karena ijin dari Allah juga. Fakta bahwa mereka punya pengikut dan telah hidup ribuan tahun menunjukkan bahwa keberadaannya terjadi atas ijin Allah pula. Bukankah kalau Allah menghendaki ... adalah mudah bagi-Nya membuat semua agama menjadi agama Islam, atau semua agama menjadi agama Kristen, atau semua agama menjadi agama Yahudi. Bukankah mudah pula bagi Allah untuk menjadikan semua manusia menjadi muslim, seperti mudahnya untuk merubah semua manusia menjadi kafir. Semua penyeragaman itu tidak dilakukan, karena memang Allah menjadikan keberagaman sebagai sunnatullah, hukum Allah, agar tampak siapa yang berjalan di jalan Allah dan siapa yang tidak.

Ada perang ada damai, ada kulit putih ada kulit hitam, ada yang baik ada juga yang buruk, ada kaya ada juga miskin. Semua beragam tidak satu warna. Bagaimana ada syuhada-syuhada apabila tidak ada perjuangan dan semua orang telah Islam, bagaimana ada dermawan apabila semua orang telah kaya. Allah memang menciptakan keberagaman sebagaimana surat Al Hujurat ayat 13 : Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Lalu bagaimana kita menyikapinya keberagaman tersebut... Menurut saya janganlah memaksakan menjadi satu warna. Sebagai manusia ... kewajiban kita hanyalah mengajak berbuat baik (amar ma’ruf), mencegah kejahatan (nahi munkar) dan mengajak beriman kepada Allah (tukminuuna billah). Para Rasul pun hanya diwajibkan menyampaikan kebenaran, sedangkan apakah yang diberi ‘kabar’ tersebut menerima ataupun menolaknya itu hanyalah urusan penerima kabar tersebut dengan Allah, selama orang/kaum tersebut tidak mengganggu dan menghalang-halangi upaya kita untuk menyampaikan ‘kabar’ kebenaran tersebut. Model pemaksaan, ancaman dan intimidasi seharusnya tidak ada di dalam Islam. Tidak ada paksaan di dalam beragama (la ikraha fiddiin), bagimu agamamu dan bagiku agamaku (lakum dinukum waliadiin), sehingga model-model seperti mencabut anak dari orang tuanya yang papa untuk dibaptis misalnya sebagaimana yang dilakukan oleh kaum kulit putih Australia terhadap anak-anak orang Aborigin di masa lalu tidak pernah akan terjadi. Yang ada adalah persuasi...

Kalau sudah seperti ini apakah masih perlu untuk membunuh/ngebom orang lain akibat mereka berbeda keyakinan dengan kita...

Lain lagi apabila alasannya adalah karena mereka menjajah kita dan mengganggu hak azasi kita sebagai manusia yang wajib dan berhak untuk mengajak manusia lain berbuat baik, mencegah kejahatan dan beriman kepada Allah (amar ma’ruf nahi munkar wa tukminunabillah.)

Siapakah yang marah ketika lukisannya dirusak orang tanpa alasan yang benar... yang marah tentulah pelukisnya
Siapakah yang marah ketika patungnya dirusak orang tanpa alasan yang benar... yang marah tentulah pematungnya
Lalu siapakah yang marah ketika manusia dibunuh tanpa alasan yang hak... yang marah tentulah Penciptanya


Semoga Allah melembutkan hati kita ... agar selalu siap menerima kebenaran dan hidayah Nya
Amien
Wassalamu'alaikum
Ch An’s
00092004
avicenna1995@yahoo.com

No comments: