Tuesday, July 18, 2006

Berbagi Cinta (00082004)

Assalamu'alaikum

Seringkali saya tersentuh dengan sikap, kata dan kejadian-kejadian yang terjadi di sekitar saya. Kadangkala hati saya tergerak untuk berbagi cerita tentang 'sentuhan' itu, barangkali apa yang saya rasakan tersebut bermanfaat bagi orang lain. Jika kiriman e-mail ini anda rasakan manfaatnya, bolehlah anda sharing ke orang lain, atau apabila tidak berkenan mohon maaf telah memenuhi mail box anda dan silahkan delete.

Dalam perjalanan berangkat ke kantor seringkali saya dengarkan radio, dan suatu saat saya dengar obrolan singkat Emha A Najib tentang 'berbagi cinta' yang memberi inspirasi saya untuk menulis e-mail ini.

Dalam khotbah-khotbah di mesjid, ceramah-ceramah di majlis taklim, maupun arahan-arahan di kantor dan di tempat-tempat lain, seringkali kita dituntut untuk mencintai. Kita dituntut untuk mencintai Allah -padahal kenal namanya Allah saja belum, tahu wajahnya Allah juga belum, apalagi merasakan 'sentuhan' Allah- sudah dituntut lagi untuk mencintai Rasulullah -manusia yang kita tak pernah jumpa dengannya-, mencintai agama, negara. Belum lagi tuntutan untuk mencintai anak, istri, -lebih ruwet lagi apabila istri banyak dan anaknya juga banyak-, suami, tetangga, perusahaan, pekerjaan, kekasih, dll. Semua menuntut cinta yang sepenuhnya .... 100%.

Lalu bagaimana kita membagi 'cinta' tersebut yang semuanya menuntut 100% ?

Kadangkala kita terjebak bahwa kata 'membagi atau berbagi' tersebut dengan membagi sesuatu yang bersifat materi, yang berkonotasi semakin berkurang/ mengecil. Apabila sepotong kue dibagi ke orang lain maka kue itu akan semakin berkurang, semakin kecil. Padahal 'cinta' bukanlah 'materi', cinta adalah sesuatu yang bersifat 'spiritual', ruhaniyyah, seperti ilmu. Logika berfikir materialistik tidak dapat diterapkan dalam hal yang bersifat 'spiritual'. Jika seorang guru memberikan ilmunya ke murid-muridnya, maka ilmunya tidak akan berkurang, bahkan mungkin bertambah. Ilmu yang diberikan layaknya air di sumur zam-zam yang tak pernah kering walaupun telah diminum ribuan tahun dan diberikan ke berjuta-juta bahkan mungkin ber-milyard orang.

Demikian pula cinta, cinta yang kita berikan 100% kepada Allah tidak kan mengurangi cinta 100% kita kepada Rasulullah, 100% kepada anak, 100% kepada istri, 100% ke pekerjaan, 100% ke tetangga, 100% ke lain-lainnya, karena cinta yang sepenuhnya....100% tersebut kita berikan dalam kerangka cinta kepada 'Causa Prima', sang Penyebab Utama terjadinya segala sesuatu di alam semesta ini. Allah,-sebagai Penyebab Utama terciptanya makhluk yang bernama manusia dan kemudian menepatkannya di bumi-, tentu saja dan pasti tahu apa kebutuhan manusia dan pasti memberi 'guidance' agar makhluk yang bernama manusia ini dapat selamat menjalankan misinya. Dengan kerangka ini, maka 'kebutuhan' manusia untuk dapat berbagi rasa rasa cinta yang 100% kepada semua hal tentu saja ada 'guidance'- nya. Berbagi cinta secara penuh akan dapat dilakukan apabila kita lakukan karena rasa cinta kita sepenuhnya kepada Allah.

Kita mencintai Rasulullah sepenuhnya, karena rasa cinta kita kepada Allah.
Kita mencintai anak kita sepenuhnya, karena rasa cinta kita kepada Allah.
Kita mencintai istri kita -berapapun istri kita- sepenuhnya, karena cinta kita kepada Allah.
Kita mencintainya harta kita sepenuhnya, karena rasa cinta kita kepada Allah.
Kita mencintai perusahaan dan pekerjaan kita sepenuhnya, karena rasa cinta kita kepada Allah.
Kita mencintai alam semesta dan semua makhluk ciptaan Allah sepenuhnya, karena rasa cinta kita kepada Allah

Apabila semua itu kita lakukan maka hidup kita akan menjadi ringan, -sebagaimana layaknya seorang kekasih yang sedang jatuh cinta-, semua kita berikan dengan kualitas usaha terbaik (best effort) sebagai wujud dari rasa cinta kita kepada kekasih kita.

Dalam dunia kerja kita mungkin dalam minggu-minggu ke depan kita akan menghadapi 'job grading' yang dapat saja merugikan sebagian orang dan menguntungkan sebagian lainnya. Semua hal tersebut tentu saja akan ringan kita menghadapinya apabila pola berpikir kita adalah kita bekerja bukan karena apa atau siapa-siapa, tetapi kita lakukan karena rasa cinta kita kepada Allah.

Kita bekerja bukan karena alasan pangkat, gaji atau pujian atasan kita, semua hal tersebut adalah merupakan efek samping dari alasan utama kita bekerja. Misalnya, sebagai suami kita bekerja dan mencintai pekerjaan kita dalam rangka 'rasa cinta kepada Allah yang mewajibkan seorang suami berusaha sebaik mungkin untuk menafkahi anak-istrinya. Berangkat bekerja tentu saja dengan 'Bismillah' niat berusaha sebaik mungkin mencari rizki dan ridlo Allah untuk anak-istri kita. Dan apabila ternyata dari usaha terbaik yang kita berikan tersebut kemudian menghasilkan gaji bulanan, pangkat dan pujian atasan yang terus membaik, maka hal tersebut adalah sekedar merupakan efek samping saja dari perwujudan rasa cinta kita kepada Allah.

Ringan bukan .....satu cinta yang sepenuhnya.......... menimbulkan cinta lain yang tidak kalah penuhnya... Mari kita tenggelam di dalam Allah....

Karena memang Allah telah menjanjikan
'Tidak ada ketakutan dan tak ada kegelisahan bagi orang yang percaya padaNya' (wa la khaufun 'alaihim wa lahum yahzanuun)'.

Semoga bermanfaat.
Wassalamu'alaikum
ChAn's
00082004

No comments: