Tuesday, July 18, 2006

Keterpaksaan (23062006)

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, assalamu 'alaa ibadish shallihin, shalawaatu wassalamu 'alaa sayyidinaa Muhammad, alhamdulillahi rabbil 'alamiin, berjumpa lagi kita dalam rubrik 2 mingguan ini -semoga- dalam keadaan sejahtera. Jika ada kesedihan, kesempitan, dan masalah... semoga kesabaran, ketabahan, dan keikhlasan selalu ada dalam jiwa kita dan semoga pula Allah yang Maha Kaya, Maha Pemberi Rizki, Maha Kuasa memberikan kebahagian, kelapangan, dan jalan keluar.

Asa akan cahaya haruslah selalu ada di dalam jiwa, apapun masalahnya. Optimisme harusnya memang terpatri dalam diri, terpupuk setiap hari. Setiap lorong jalan yang buntu, insya Allah di dalamnya ada pintu terbuka yang siap menanti. Menatap hidup bak bunga mekar yang terus memancarkan keceriaan, semakin hari semakin indah, tak takut layu meski akhirnya luruh. Berani hidup dan tidak takut mati, -yang menjadi salah satu slogan dari Pesantren Gontor yang tersohor- seharusnya bisa menjadi motto kita dalam menjalani hidup ini.

Sedih rasanya mendengar seorang ibu muda (31 tahun), lulusan perguruan tinggi ternama di negeri ini, pintar, anak orang kaya, terpandang, taat beribadah, kemudian setelah menikah harus hidup sederhana, punya anak 3, terhimpit beragam masalah (utamanya ekonomi), tertekan jiwanya... kemudian menjadi paranoid dan secara tak sadar (?) tega membunuh ketiga anaknya yang masih kecil dan lucu, dengan alasan takut akan masa depan anak-anaknya. Astaghfirullah, semoga Allah memberi kesembuhan, kekuatan, dan jalan terang padanya.

Tak bermaksud menyalahkan siapa-siapa, tetapi saya kadang bertanya, haruskah dia (yang sakit secara psikologis) dijadikan satu-satunya terdakwa yang harus memikul beban kesalahan ini, sendirian ? Apakah sang suami dan lingkungan yang menciptakannya menjadi paranoid tidak harus ikut bertanggung jawab ?

Gaya hidup yang berubah drastis dari serba mudah menjadi serba terbatas, impian gadis muda cerdas yang tak kesampaian, aktualisasi diri yang tersumbat karena harus menjadi ibu RT, gempuran godaan dari gaya hidup konsumerisme yang berbiaya tinggi, godaan dari rasa bersaing dengan teman kuliah / sekolah yang lebih "bodoh" tetapi ternyata lebih mapan secara ekonomi, dsb., ditambah lagi tekanan dari laki-laki yang "mewajibkan" sang istri menjadi konco wingking yang hanya tinggal di rumah, hampir pasti akan membuat ibu-ibu muda -yang jiwanya masih bergejolak dengan urusan dunia- mengalami tekanan jiwa yang sangat hebat. Hanya perempuan tangguh yang bisa berdamai dengan kondisi yang berubah drastis seperti ini.

Sayangnya wanita-wanita anak orang kaya ini -tidak semua lho... ada juga yang tidak- tidak terlatih untuk berjuang dalam kerasnya kehidupan, platonistis, kehilangan realitas saat berpacaran, dan kemudian terkaget-kaget saat berumah tangga. Realitas hidup tidak semudah seperti saat masih menengadahkan tangan ke orang tua. Belum lagi kemudian ternyata pacar yang saat ini sudah menjadi suami, ternyata laki-laki yang "menuntut" pengorbanan sang istri, lebih dari dia menuntut dirinya sendiri bagi sang istri. Nggak boleh bekerjalah... harus berkerudunglah... nggak boleh inilah... nggak boleh itulah... dengan berbagai macam alasan -sering juga dengan berlindung pada alasan agama-. Dan semua larangan dan kewajiban tersebut dibebankan secara drastis, langsung, dan revolusioner, tanpa melihat kondisi psikologis pasangan. Padahal tidak semua orang mampu menanggung beban psikologis yang harus dipikulnya tersebut secara serentak. Padahal Allah dan Rasulullah pun juga telah memberi tauladan penerapan kewajiban yang sifatnya gradual. Lihatlah bagaimana penerapan hukum larangan minum khamr (zat addictive yang merusak, bukan hanya alkohol saja) yang berlangsung gradual, bacalah riwayat bagaimana Rasul mengajarkan Islam kepada seorang Badui yang pertamanya hanya berisi ajaran jangan berbohong, dan banyak lainnya yang menunjukkan pentingnya proses, tahapan-tahapan, istiqamah, dan keikhlasan dalam menjalankan ajaran.

Lalu lihatlah sekeliling kita. Betapa banyak remaja belia yang trendy dan ceria berubah drastis menjadi wanita bercadar, karena menikah dengan lelaki bercambang dan bercelana cingkrang. Tidak ada yang salah dengan cambang dan celana cingkrang, yang saya khawatirkan adalah perubahan yang drastis karena keterpaksaan. Memaksa istri memakai cadar, misalnya. Padahal cadar bukanlah yang diajarkan Al Quran, karena wajah dan tapak tangan bukan aurat, dan cadar pun tidak boleh dipakai saat thawaf di Baitullah, wajah harus kelihatan. Lihatlah lagi para selebritis yang rame-rame copot kerudung ketika berpisah dari pasangannya.

Betapa banyak contoh pelaksanaan ajaran agama yang dipaksakan, tanpa melalui tahapan-tahapan, dilakukan tanpa keikhlasan dari pelaku, dan kemudian ujung-ujungnya adalah penolakan ketika penyebab dia melaksanakan ajaran tersebut sudah tidak ada. Tanpa keikhlasan mustahil rasanya tumbuh hati yang tentram, hati yang selesai, hati yang bisa berdamai dengan keadaan tanpa menyalahkan siapapun / apapun, dan kemudian secara positif mencari penyelesaian atas keadaan yang menimpanya.

Dalam kasus anak yang banyak sementara kondisi financial terbatas, misalnya. Tak akan menjadi masalah besar bagi orang-orang yang hatinya selesai. Secara positif dan kreatif golongan ini akan meningkatkan usahanya menyongsong rizki yang telah disediakan Allah bagi anak-anaknya. Ya... rizki yang telah disediakan oleh Allah, tinggal ikhtiar maksimal manusia untuk mendapatkannya. Bukannya cemas, menolak, dan menyalahkan keadaan yang menimpanya, dan ujung-ujungnya kemudian membunuh anak-anaknya. Allah pun telah mengingatkan di dalam firman Nya Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar. (Al Isra' (17):31)

Rasanya sudah saatnya kita introspeksi diri, adakah diri ini merupakan sumber dari suasana horror di lingkungan kita ? Lihatlah lagi sekeliling kita –anak, istri, suami, anak buah, pembantu di rumah, dsb.- Adakah tekanan di dalam dirinya ? Lihat sekali lagi... telitilah, jangan sampai kepatuhan dan diamnya mereka seperti diamnya gunung berapi yang sedang mengumpulkan magma di kepundannya dan kemudian meledak. Tak terduga...

Hati yang selesai tidak bisa muncul dengan tekanan-tekanan, dia ada karena keikhlasan..., keikhlasan hanya karena Allah semata, bukan karena suami, istri, ataupun atasan.

Insya Allah 2 minggu lagi kita bahas lebih banyak lagi tentang hati yang selesai.
Billahi taufiq wal hidayat, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Semoga bermanfaat
ChAn
23062006

No comments: