Monday, July 17, 2006

Bencana (09062006)

Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, shalawaatu wassalaamu ‘alaa rasulillahi Muhammad saw, assalamu'alaina wa ‘alaa ibadillahish shalihiin, alhamdulillahi rabbil ‘alamiin atas segala nikmat yang telah diberikan. Nyawa masih tinggal di raga, rumah tinggal masih tegak berdiri, tempat kerja masih beroperasi, dan keluarga masih sehat wal’afiat menunggu di rumah. Sementara saudara-saudara kita di Yogya dan sekitarnya meratapi nyawa saudara, rumah, dan harta yang tandas rata dengan tanah.

Siapa sangka… ketika contigency plan disiapkan untuk bencana dari utara, ternyata munculnya dari arah selatan. Disiapkan evakuasi bencana dari gunung, yang munculnya ternyata gempa dari kedalaman laut. Diprediksi sudah tidak akan ada lagi gempa, masih ada gempa susulan berskala 3.7 skala Richter. Gunung Merapi mereda, Gunung Slamet mulai batuk-batuk. Bencana tampaknya memang seperti kematian…, datang di tempat dan saat yang tidak disangka-sangka.

Lalu lihatlah ulah manusia.... Mulai dari ramalan paranormal tentang tanggal meletusnya Gunung Merapi yang nggak ada yang benar, para tokoh dan partai politik yang ramai-ramai cari simpati di daerah bencana, sponsorship consumer goods mengeksploitasi hot news bencana alam, para 'wisatawan' yang bukannya menolong korban bencana tetapi hanya sekedar melihat saudaranya yang terkena bencana, tolak bala dengan 'ikatan janur kuning', dihubungkan-hubungkannya bencana dengan marahnya Nyi Roro Kidul –yang hanya memakai kemben- karena pro RUU APP semakin marak, sampai kurangnya ruwatan dan sesajen yang di labuh di pantai Selatan.

Aneh dan lucu…Bagaimana bisa Nyi Roro Kidul menggoncangkan bumi, sementara membersihkan sampah di pantainya yang kotorpun tak mampu ?. Bagaimana ‘ikatan janur kuning’ bisa menolak bala sementara menolak ‘dirinya’ agar tidak menjadi ketupat pun tak mampu ? Bagaimana bisa kurang ruwatan dan sesajen, sementara Australia yang juga berhubungan dengan pantai selatanpun aman-aman saja, meski tidak pernah ruwatan dan kirim sesajen sama sekali ?

Itulah kita… padahal Allah sudah mengingatkan di dalam Al Zalzalah (99: 1-5) –meski ayat ini sebenarnya bercerita tentang yaumil akhir- . Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung) nya, dan manusia bertanya: "Mengapa bumi (jadi begini) ?", pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan kepadanya.

Allah lah yang memerintahkan kepada bumi dan gunung-gunung untuk 'menceritakan berita yang diterimanya dari Nya', sebagai peringatan bagi manusia agar sadar bahwa 'Betapa Berkuasanya Dia' dan 'Betapa Keras Siksanya'. Bencana yang diterima manusia bisa jadi ujian, tetapi bisa juga merupakan siksa, tergantung kualitas individu manusia yang menerimanya. Tetapi yang menjadi korban kan beragam dan banyak juga orang-orang beriman ?

Rasulullah pun telah mengingatkan dalam salah satu hadis di dalam Shakhih Bukhari -yang terjemahan bebasnya- Orang beriman dengan orang tidak beriman itu layaknya dalam satu kapal, apabila penumpang di bawah (tidak beriman) palka melubangi perahu dan orang yang di atas palka (beriman) tidak mencegah orang yang berbuat zhalim tersebut melakukan perbuatannya, maka akan tenggelamlah orang yang beriman tersebut bersama-sama dengan orang yang tidak beriman. Kapal akan karam.

Lalu bagaimana pula setelah bencana…? Isu dan gosip tentang bencana lain yang akan menimpa disebarkan kemana-mana memanfaatkan suasana kejiwaan masyarakat yang masih trauma dan khawatir dengan bencana. Beragam macam beritanya :
Dalam 3 bulan ini -Juni, Juli, Agustus- akan terjadi banyak jeritan-jeritan manusia akibat bencana di Indonesia. Tanggal 6 bulan 6 tahun 2006 atau 666 –sebagai simbol setan dalam ajaran Kristiani- akan terjadi bencana yang hebat / kiamat. Tanggal 7 Juni 2006 akan terjadi gempa akibat tumbukan lempeng Australia dengan lempeng Asia.“Badai Biru” sedang terjadi di luar angkasa, dan kemungkinan akan jadi bencana bagi planet bumi." dan banyak lagi e-mail tentang bencana yang akan menimpa dan kemudian kita respon dengan kekhawatiran yang terlalu berlebihan. Banyak do’a lah, banyak dzikir lah, dan bahkan mungkin sudah ada juga yang mempersiapkan diri dengan belanja kebutuhan untuk 3 bulan. Alasannya sih biasa… “Nggak ada jeleknya mempersiapkan diri”.

Nggak tahu apakah ini langkah antisipatif ataukah sekedar kekhawatiran yang berlebihan ? Karena alasan untuk khawatir tersebut sebenarnya tidak jelas dan tidak bisa dibuktikan secara ilmiah, dan bahkan beberapa ramalan tersebut sudah terbukti tidak terjadi sama sekali. Tampaknya kita memang terlalu outward looking. Coba kalau pendekatannya kita buat lebih inward looking

* Setiap hari kita berangkat tidur, yang sebenarnya juga berangkat menuju kematian. Bagaimana kalau ruh ditahan oleh Allah dan tidak dikembalikan lagi ke tubuh kita ?
* Bagaimana kalau saat kita pulang kerja ada bus nyelonong menubruk kita ?
* Bagaimana kalau saat kita berteriak gembira karena tercetaknya goal di saat nonton Piala Dunia nanti malam, kemudian detak jantung kita diberhentikan oleh Allah ?
* Bagaimana kalau saat ini pembuluh darah di otak kita pecah, hilang kesadaran, dan tidak lagi sadar -seperti Ariel Sharon saat ini-, sampai kemudian meninggal ?
* Bagaimana kalau kursi tempat kita duduk saat ini... luruh ke lantai dasar gedung karena ada gempa yang menghancurkan ?
* dsb.

Dan inilah realita hidup yang setiap hari, setiap malam, setiap jam, dan setiap saat kita hadapi. Lalu apakah kita sudah mengantisipasinya dan khawatir seperti kalau kita terima e-mail yang nggak jelas juntrungannya dan kemudian kita sebarkan ke sana kemari ? Apakah kita juga sudah memperbanyak berbuat baik, memperbanyak dzikir, memperbanyak do’a, banyak memohon maaf dan ampunan atas setiap kesalahan yang terjadi, dan banyak hal lain sebagai persiapan diri kita mengadapi ”bencana” yang ada di dalam diri kita sendiri dan setiap saat bisa menghampiri kita saat ini, seperti kalau kita terima e-mail bahwa tanggal 666 akan terjadi bencana besar ?

Selayaknya setiap saat kita memang harus siap hidup dan tak takut mati, serta tak putus berdo'a, menguatkan iman, dan berbuat baik sebanyak-banyaknya dan sesegera mungkin, tanpa harus menunggu momen tubrukan lempeng Australia dengan lempeng Asia, dsb.

Oleh karenanya –menurut saya- hidup terlalu singkat untuk dijalani bersama pilihan yang salah..., pilihan yang tidak didasarkan pada aturan Allah swt. Yang Maha Rahman dan Maha Keras Siksanya, karena sesaat sesudah baca e-mail ini bisa saja jantung kita berhenti berdetak dan kita tidak ada pilihan lagi selain menuju ke alam kubur.

Beriman dan beramal shalih tidak perlu menunggu prediksi tubrukan antar planet. Semoga bermanfaat dan mohon maaf apabila tidak berkenan.

Wassalamu’alaikum
ChAn
09062006

No comments: