Assalamu'alaikum warahmatulllahi wabarakatuh, allhummashalli 'alaa Muhammad wa ‘alaa ali muhammad, assalamu'alainaa wa 'alaa ibadillahishshaalihiin, alhamdulillah hi rabbil'alamiin atas segala nikmat yang telah diberikan. Nikmat sehat, nikmat tidak terbelit hutang, dan juga nikmat rumah tangga sejahtera. Coba bayangkan betapa menyedihkan dan sengsaranya –meskipun kaya- apabila tubuh kita sakit-sakitan, sementara anak, menantu, dan cucu kita saling berantem bak sinetron di televisi, seperti keluarga "Bapak Pembangunan" kita. Bersyukur... apabila secara pribadi dan keluarga, tidak terbelit hutang dan sengsara seperti bangsa kita ini. Bangsa yang "belum sempurna merdeka".
Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa dari awalnya bangsa ini sudah salah langkah... senang hutang. Beberapa saat setelah merdeka, pada saat Konferensi Meja Bundar (KMB) tahun 1948 salah satu poin penting yang dihasilkan -selain pengakuan kedaulatan oleh Belanda- adalah mengakui hutang Hindia Belanda (penjajah) sebagai hutang bangsa Indonesia yang baru saja merdeka. Hutang penjajah harus dibayar oleh yang dijajah dan bangsa ini mau menerima kesepakatan itu... OK lah sebagian orang mengatakan "Itu kan strategi agar ada pengakuan kedaulatan dari penjajah, dan akhirnya kan dikemplang (nggak dibayar) oleh Bung Karno."
Memang dikemplang saat Bung Karno berkuasa, tetapi saat Bung Karno jatuh ? Hutang itu diwariskan ke Pemerintahan Soeharto yang pada saat itu sedang butuh pengakuan dunia international. Pada tahun 1968 disepakati hutang tersebut direstrukturisasi untuk diangsur dengan jangka waktu 35 tahun, sampai tahun 2003. Jadi sampai periode Reformasi pun nggak ada yang keberatan dengan hutang warisan yang tidak masuk akal tersebut. Semua presiden setelah Suharto jatuh -mulai dari Habibie, Gus Dur, dan Megawati- setuju dan sepakat membayar hutang penjajah tersebut. Nggak ada yang protes. Dan hutang bangsa ini semakin membengkak dengan tambahan hutang yang dibuat oleh Presiden-Presiden tersebut, sampai-sampai untuk memenuhi amanat UU untuk menyediakan 20% anggaran untuk pendidikan pun tidak dapat direalisasikan, karena beratnya beban hutang.
"Tangan di atas lebih mulia daripada tangan di bawah" begitulah sabda Nabi, dan ini terbukti. Semakin banyak hutang semakin tidak dihargai oleh bangsa lain. Merunduk dan tidak ada keberanian untuk mengatakan "tidak" kepada para donor / rentenir penghisap kekayaan bangsa ini. Entahlah... apakah ini memang kesalahan massal bangsa ini karena yang dipilih adalah pemimpin yang tidak berani mengatakan "tidak", sehingga kadang timbul rasa iri..., kenapa bangsa ini tidak bisa menghasilkan sosok seperti Presiden Ahmadinejad si Pejantan Tangguh yang sederhana dan jadi presiden tanpa harus mengeluarkan dana kampanye sepeserpun, karena memang berkualitas, dan dicintai rakyatnya.
Itu kalau skala bangsa, bagaimana dengan skala rumah tangga ?
Sepertinya tidak jauh beda... karena karakter bangsa terbentuk dari karakter manusia pembentuk bangsa tersebut, rakyatnya. Tampaknya memang ada kecenderungan manusia Indonesia untuk tidak sabar, memaksakan diri menikmati semua hal "sekarang" meski harus terlilit hutang, dari pada bersabar menabung dan membatasi diri untuk berhutang hanya yang sesuai dengan batas kemampuan.
Kalau dilihat dari sisi budaya, tampaknya ini memang merupakan penyakit yang sebenarnya sudah diidentifikasi oleh orang-orang bijak di masa lalu, sehingga muncullah peribahasa : "Jangan besar pasak dari pada tiang", kata orang Melayu, atau "Ojo kegedhen empyak kurang cagak", kata orang Jawa. Bahkan kata Surabaya yang konon kabarnya berasal cerita legenda ikan hiu (Sura) dan buaya (Baya) yang bertarung sampai mati di delta muara sungai Brantas –sebagai cikal bakal kota Surabaya- pun bisa berganti menjadi satire.
Kalau orang Surabaya asli pasti pernah dengar pemeo Suro wani (berani) Boyo bebaya, utang. (bahaya, hutang, dll.). Jadi orang Surabaya itu berani terhadap bahaya... termasuk di dalamnya hutang, wani utang. Di kampung-kampung banyak orang yang suka berhutang kreditan barang, di pasar-pasar banyak rentenir berkeliaran, di kantor-kantor koperasi simpan pinjam selalu penuh antrian, dan banyak orang yang suka nggesek kartu kredit tanpa perhitungan. Meski tak jelas sumber dana pembayarannya, asal terpuaskan kebutuhan konsumtifnya, asal dapat selalu tampil bergaya, asal tidak turun standar hidupnya, asal gengsi tetap terjaga, hutang berbunga tinggi pun diembatnya. Padahal sumber income untuk membayar hutang tersebut tidak bertambah. Begitulah yang sering saya amati, dan tampaknya di tempat / budaya lain pun tidak jauh beda.
Hancurlah rumah apabila tiang penyangga (cagak) untuk mendukung atap (empyak) kurang. Hancur pula ketentraman rumah tangga dan suasana kerja karena kebingungan dikejar-kejar debt collector. Mulailah jurus gali lubang tutup lubang, tipu sana tipu sini, berdusta, dan tidak amanah lagi. Banyak contoh orang-orang di sekitar kita yang menghadapi kasus seperti ini. Dan memang begitulah keadaannya kalau banyak hutang dan tidak perhitungan, karena Rasulullah pun sudah mengingatkan di dalam Shahih Bukari No 2284 :
Aisyah ra menceritakan bahwa : suatu saat orang bertanya kepada Rasul, kenapa Rasululullah sering bedo’a "Ya Allah aku berlindung kepadamu dari dosa dan hutang", kemudian beliau menjawab : "Sesungguhnya orang itu apabila punya hutang, jika berkata berdusta, dan jika berjanji, menyalahi".
Hutang memang seharusnya sekedarnya saja dan controllable. Bagaimana dengan kita ? Mari kita review ulang gaya hidup yang sedang kita jalani. Alhamdulillah jika sudah di jalan yang tepat, apabila keliru mari kita bangkit dari keterpurukan ini. Nggak usah dalam sekala besar bangsa, mulai saja dari diri kita. Bank-bank -terutama bank asing- memang sedang giat-giatnya menggelontorkan pinjaman konsumtif agar bangsa ini menjadi bangsa yang konsumtif, sudah saatnya kita buat tameng menghadapi gempuran konsumerisme ini, kita jadikan keluarga kita keluarga yang produktif. Tak apalah tampil sederhana asal tak dililit hutang, daripada perlente tetapi suka berdusta karena lilitan hutang. Karena sesungguhnya di dalam kesederhanaan itu biasanya ada kejujuran, ketabahan, kebijaksanaan, kekuatan, dan kecerdasan emosional spiritual.
Susah dan berat memang … karena kita berhubungan dengan anak, istri, suami, orang tua, mertua, dsb. yang tentu saja kadang tidak setuju dan sependapat dengan kita. Tetapi kita bisa coba dari diri kita sendiri. Kalau kita sudah bisa jadi teladan... Insya Allah orang-orang dekat kita tentu saja akan tersinspirasi dengan keteladanan yang kita tampilkan.
Mohon maaf bila tak berkenan dan semoga bermanfaat
Wassalamu'alaikum
ChAn
26052006

1 comment:
Assalamu'alaiku wr wb, ini bukan tanggapan, hanya sekedar uji coba untuk mengukur response
Post a Comment