Friday, October 20, 2006

Mari Lebaran Berbeda Tanggal.... (19102006)

Dalam salah satu e-mail yang saya terima menginformasikan posisi bulan pada tanggal 22 Oktober 2006 sbb : Dalam perhitungan, memang seluruh kota-kota besar yang ada di Pulau Sumatra memang hilal telah wujud pada Ahad Pahing 22 Oktober 2006, artinya tanggal 23 Oktober 2006 sudah memasuki 1 Syawal. Saat hilal wujud (pertanda Bulan baru) di kota-kota besar di Sumatra adalah sebagai berikut: Banda Aceh (0º 16' 25") baca (Nol derajat enam belas menit dua puluh lima detik), Medan (0º 20' 24"), Padang (0º 38' 48"), Pakanbaru (0º 30' 18"), Bengkulu (0º 48' 29"), Palembang (0º 40' 30"), Jambi (0º 35' 40") dan Bandar Lampung (0º 50' 35"). Sedangkan kota-kota di Jawa, tinggi hilal di Serang (0º 52' 04"), Jakarta (0º 51' 03"), Bandung (0º 53' 03"), Semarang (0º 48' 23"), Yogyakarta (0º 46' 58") dan Surabaya (0º 45' 20") Untuk Kepulauan Nusa Tenggara, Denpasar (0º 46' 47"), Matarama (0º 45' 05") dan Kupang (0º 38' 28"). Untuk Kalimantan, Pontianak (0º 19' 49"), Palangkaraya (0º 21' 46"), Banjarmasin (0º 25' 18"), dan Samarinda (0º 08' 28"). Untuk Sulawesi, Makassar (0º 24' 40"), Kendari (0º 14' 13"), Palu (-0º 05' 31"), Gorontalo (-0º 05' 46"), dan Manado (-0º 12' 36"). Untuk Maluku dan Papua, Ambon (0º 02' 32"), Ternate (-0º 18' 09"), Manokwari (-0º 17' 33"), dan Jayapura (-0º 42' 22"). Atau dari berpuluh-puluh ibu kota propinsi di Indonesia yang hilalnya belum wujud hanya Palu, Gorontalo, Manado, Ternate, Manokwari dan Jayapura. Bahkan untuk di Papua, Merauke yang terletak di ujung Timur Indonesia tinggi hilal sudah positip (0º 01' 31").

Sementara e-mail lainnya memberi argumentasi lain, mengenai tidak bisa digunakannya metode hisab sebagai landasan syar'i menentukan Lebaran
Pertama, adanya dalil yang qath'i baik secara tsubut maupun secara dilalah yang mengharuskan rukyatul hilal, khusus untuk menetapkan awal Ramadhan dan awal Syawwal. Sebagaimana hadits Dari Ibnu Umar ra. berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Bila kalian lihat hilal, maka berpuasalah. Dan bila kamu melihat hilal maka berLebaranlah. Tapi kalau tidak nampak oleh kalian, maka kadarkanlah (hitunglah)." (HR Muttafaq 'alaihi). Maka semata-mata mengandalkan ilmu hisab, jelas merupakan sebuah pelanggaran atas dalil nash yang sharih. Berbeda dengan penetapan waktu shalat yang tidak ada perintah untuk melihat, jadi boleh dengan memperkirakan atau memperhitungkan.

Kedua, ternyata ilmu hisab pun tidak semuanya valid. Meski sudah menggunakan rumus yang banyak serta perhitungan yang njelimet, tetapi hasilnya seringkali tetap berbeda. Begitu banyak ahli hisab yang mengeluarkan hasil hitung-hitungan yang satu dengan yang lain saling berbeda. Ada banyak faktornya, tetapi yang terpenting adalah bahwa ilmu hisab pun tidak pernah lepas dari perbedaan versi.

Alhamdulillah jika kita akan berbeda lagi dalam melaksanakan Lebaran kali ini. Ya... alhamdulillah karena libur lebarannya tambah panjang..., waktu silaturrahmi semakin panjang..., dan masyarakat akan semakin cerdas dan lentur dalam menyikapi perbedaan. Semakin cerdas karena kita jadi tahu bahwa menentukan tanggal 1 penanggalan lunar system itu ada cara perhitungannya, ada ilmunya, dan gampang bagi para ahlinya. Menentukan waktu gerhana bulan saja bisa sampai ke detiknya kok menentukan tanggal 1 Syawal saja kebingungan. Semakin cerdas karena kita tahu bahwa waktu-waktu shalat ditentukan dengan hisab bukan dengan melihat matahari, sehingga shalat tidak diundur jadwalnya hanya karena matahari tertutup awan. Semakin cerdas, karena kita tahu bahwa Indonesia itu negara dengan wilayah yang luas, mempunyai 3 wilayah waktu yang berbeda, sehingga sangat mungkin terjadi daerah wilayah WIB sudah masuk tanggal 1 Syawal sementara wilayah WIT belum masuk tanggal 1 Syawal. Semakin cerdas karena menjadi terbiasa dengan perberbedaan. Di samping semakin cerdas juga semakin lentur dalam menyikapi perbedaan tanggal lebaran. Cobalah kalau kita tetap bersitegang dengan perbedaan ini, apa yang terjadi.

"Sudah Lebaran kok masih puasa... haram," kata yang sudah berlebaran dan tidak berpuasa lagi.

"Masih Ramadhan kok nggak puasa ... berdosa," jawab mereka yang masih puasa dan belum berlebaran.

Apalagi kalau sudah pakai dalil hadits athii'u Allah, wa athii'ur Rasul, wa ulil amri minkum, taatlah kepada Allah, kepada Rasul, dan kepada pemimpin di antaramu, lalu ulil amri tersebut ditafsirkan sepihak sebagai Pemerintah. Kemudian karena penanggalan pemerintah lebarannya tanggal 24 maka kalau berlebaran tidak sesuai dengan pemerintah dianggap sebagai pemberontak, pembangkang (bughot). Apa nggak ruwet ? Semua pihak mengklaim dirinya yang paling benar dan paling sesuai syara' .

Orang yang sudah berpuasa sungguh-sungguh selama 29 atau 30 hari, sudah menjalankannya dengan baik hanya karena Allah swt semata, mendapatkan rahmat, maghfirah, dan pembebasan dari api neraka, kemudian hanya karena berbeda tanggal merayakan lebarannya kita anggap melakukan tindakan haram, pemberontak, dan dosa ? Apa nggak lucu ? Padahal apa sih esensinya orang beriman menjalankan ibadah puasa Ramadhan ? Al Baqarah:183 telah menjelaskannya agar terjadi peningkatan kualitas manusia menjadi orang-orang yang taqwa.

Jika proses penggemblengan selama 29 atau 30 hari Ramadhan telah dijalaninya dengan baik, apa sih artinya lebaran secara essensi ? Masak orang yang sudah diloloskan Allah swt sebagai orang yang taqwa malah mendapat gelar pendosa hanya karena berbeda tanggal lebaran. Apa iya.... ?

Lebaran hanyalah sekedar limitasi waktu berakhirnya ibadah puasa dan sunnahnya ada ritual untuk merayakannya. Masing-masing orang punya keyakinan dan cara menentukan limitasi waktu berakhirnya bulan Ramadhan ini, dan kemudian merayakannya. Eloknya sih bersamaan..., tetapi selisih sehari karena perbedaan persepsi insya Allah tak ada masalah, selama masih dalam range 29 atau 30 hari puasa.

Selama hidupnya Nabi Muhammad saw hanya sekali berpuasa Ramadhan yang lamanya 30 hari, sedang di tahun-tahun lainnya 29 hari saja. Dan lagian batasan untuk menyelesaikan limitasi waktu puasa Ramadhan saat itu sederhana saja, apabila terlihat bulan tanggal 1 dan apabila tidak terlihat -tertutup awan misalnya- digenapkan menjadi 30 hari. Lentur bukan.... ? Lalu kenapa kita pengikutnya sekarang ini menjadi sangat rigid ? Sebenarnya banyak ajaran Nabi yang sebenarnya lentur kita buat tafsirnya secara kaku, misalnya batasan akhir makan sahur. Waktu imsak itu masih boleh makan, bahkan ada hadis yang menceritakan bahwa meskipun azan Subuh sedang berkumandang, kalau masih ada makanan di mulut / di tangan, makanan tersebut ditelan /diselesaikan, bukannya kemudian dibuang sia-sia. Tetapi kita buat aturan sendiri waktu imsak sudah tidak boleh makan. Apa di luar Jawa, di luar negeri ada imsak ?

Yah... nggak apa-apa lah beda tanggal lebaran, wong Indonesia itu memang luas, kalau disuruh berbarengan semua se Indonesia ya susah. Yang sudah masuk lebaran tanggal 23 Oktober ya rayakanlah Lebaran, yang belum masuk 1 Syawal (sebagian kecil Indonesia Timur) ya nggak usah ikutan lebaran tanggal 23 Okt, lebarannya tanggal 24. Nggak usah dibuat susah yang lentur saja.... yang penting Ramadhan itu 29 atau 30 hari, seperti yang dilakukan Nabi, bukan 28 atau 31 hari.

Sehingga kalau saya ditanya, "Boleh nggak kalau tanggal 23 nya berbuka dan kemudian shalat lebarannya tanggal 24 ?"

Akan saya jawab, "Lho ya boleh-boleh saja kan... ? Asal jumlah hari puasanya tidak 28 atau 31 hari. Wong nggak sholat lebaran saja boleh... "

Apakah shalat lebaran diwajibkan ? Tidak kan... hanya sekedar sunnah, yang menjalankan dapat pahala dan tidak apa-apa bagi yang meninggalkannya.

Jadi gampang tho ? Anda mungkin tidak sependapat dengan saya, tak ada masalah, karena masalah keyakinan kalau dijadikan bahan debat nggak akan ada habisnya.... Tetapi semoga saja tim rukyat Depag dan NU Minggu 22 Oktober 2006 berhasil melihat bulan, sehingga indahnya lebaran bersama semakin terasa. Amiiin.

Selamat Lebaran Idul Fitri 1427 H
Taqabbalallahu minna wa minkum, taqabbal ya kariim,
Minal aidin wal faidzin,
Mohon maaf lahir dan batin

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

ChAn
19102006

Monday, October 16, 2006

Orang-orang Yang Dicintai (?) -13102006

Perode sepuluh hari kedua dari bulan Ramadhan yang penuh maghfirah (ampunan) akan kita lewati hari ini. Sudahkah kita mendapatkan bagian rahmat dan ampunan dari 20 hari yang telah kita lewati ? Adakah dua puluh hari bulan Ramadhan ini telah mengubah kita semakin mendekati orang yang taqwa, sebagaimana tujuan diwajibkannya puasa bagi orang-orang yang beriman (2:183) ? Adakah kita semakin mengenal Nya (makrifatullah) dan bergetar hati kita begitu ‘berjumpa’ dengan Nya ? Bukan hanya di masjid dan sajadah, tetapi juga di luarnya, karena Dia juga bisa ditemukan di pasar, di kantor, di gunung, di jalan raya, di angkot, di wajah kaum dhuafa, di setiap bentuk makhluk ciptaan Nya, dan di setiap peristiwa. Hanya masing-masing diri kita sendiri yang tahu dan merasakannya. Atau hanya sekedar lingkar pinggang saja yang semakin kecil ? Subhanallah

Idealnya bulan pelatihan ini minimal menghasilkan peningkatan rasa sabar dan pemaaf karena telah dilatih mengendalikan hawa nafsu. Menghasilkan pula peningkatan rasa syukur karena telah dilatih berempathy merasakan bagaimana menderitanya menjadi kaum dhuafa yang kebutuhan dan keinginannya tidak bisa terpenuhi. Sabar, pemaaf, rasa syukur, empathy dan mau berbagi terhadap sesama akan berimplikasi pada ketahanan mental yang kokoh dalam menghadapi segala cobaan hidup. Cobaan hidup memang beragam, tetapi orang yang telah sukses melalui Ramadhan tentu jiwanya sehat dan pantang berputus asa dalam menghadapi hidup, dan insya Allah mereka-mereka ini tidak akan termasuk dalam 873.000 orang pertahun yang bunuh diri, dan juga bukan anggota dari 450 juta orang yang mengidap gangguan mental di dunia ini, saat ini (sumber: release WHO yang baru saja merayakan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia pada tanggal 10 Oktober kemarin). Mengerikan bukan... ? Yang bunuh diri jauh lebih besar daripada jumlah kematian akibat perang, dan yang terkena gangguan mental pun +/- 2 kali jumlah penduduk Indonesia. Astaghfirullah

Cobaan bisa dengan berlimpahnya harta kekayaan, tingginya pangkat, dan besarnya kekuasaaan, tetapi juga bisa karena Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (2:155).

Apakah orang-orang yang diberi cobaan tersebut adalah orang-orang yang diabaikan Nya ? Menurut saya tidak .. bahkan mereka ini sebenarnya adalah orang-orang yang dicintai dan akan dinaikkan level kualitasnya sebagai manusia apabila sabar dan lolos dari cobaan tersebut. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (2:157) Dan di ayat lain Allah menginformasikan bagaimana beruntungnya orang-orang yang sabar dan berbuat kebaikan Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. Bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (39:10)

Demikian pula orang yang sedang dihukum di dunia ini dan kemudian mereka menjalaninya dengan ikhlas sebagai penebus atas segala kesalahan yang telah dilakukan. Mereka sebenarnya juga termasuk orang-orang yang dicintai Nya, karena diberi kesempatan untuk 'membersihkan dirinya' di dunia ini. Di satu sisi mungkin kita melihatnya sebagai penjahat atau pendosa yang menjalani akibat dari kejahatan dan dosa yang telah dilakukannya. Ya… tetapi bisa jadi endingnya mereka ternyata lebih mulia daripada kita. Mengapa ? Karena (mungkin) kita sama, bahkan lebih jelek dari mereka tetapi Allah masih ‘mengijinkan’ aib kita tertutup. Coba bayangkan kalau kemudian kita tak mau / tak punya kesempatan menyelesaikan aib kita tersebut di dunia ini, sehingga nanti di akhirat ‘ditagih’ oleh pihak-pihak yang kita rugikan selama di dunia ini, apakah kita masih menjadi orang-orang yang beruntung ? Coba buka topeng kita dan bercermin… bukankah banyak aib kita yang masih tertutup ? Bagaimanakah kalau aib tersebut terbuka, dibuka, dan diketahui oleh suami, istri, tetangga, teman kerja, perusahaan, dsb. ?

Sungguh… apakah kita tidak melihat, bahwa mereka yang telah menjalani hukuman di dunia ini dan kemudian bertobat dengan sungguh-sungguh juga sebagai orang yang dicintai Nya ? Mereka diberi peringatan, dibuka aibnya, dan kemudian diberi kesempatan untuk menyucikan dirinya di dunia ini. Semua kesalahan telah impas diselesaikan di dunia ini. Hukuman, penjara, denda, qishash, kaffarat, pemecatan, dll. akibat kesalahannya telah dijalani, impas… tinggal lagi menyelesaikan masalah dengan Allah yang lebih private dan mudah.

Kenapa lebih mudah ? Karena apapun dosa yang telah kita lakukan kepada Allah –selama bukan dosa syirik/menyekutukan Nya- akan diampuni, asal kita bersungguh-sungguh memohon ampun kepada Nya. Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (4:48). Oleh karenanya meski 20 hari bulan istimewa ini telah kita lalui, sungguh sayang apabila di sisa hari bulan ini dilewati dengan sia-sia. Mari kita perbanyak istighfar, taubatan nasuha, apalagi di bulan yang di design khusus dengan limpahan rahmat, ampunan, dan nikmat Nya.

“Hak Allah atas hama-hamba Nya ialah mereka harus menyembah Nya dan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu” dan “Hak hamba atas Allah ialah Dia tidak berhak menyiksa mereka, apabila mereka (hamba) telah mengerjakannya (menyembah dan tidak menyekutukanNya) ” (HR Bukhari no. 6182)

Mari kita gapai semaksimal mungkin di 10 hari terakhir ini ... siapa tahu kita tidak bisa lagi berjumpa dengan Ramadhan di tahun depan.

Wassalamu’alaikum
ChAn
13102006

Wednesday, October 04, 2006

Yang Ada Hanyalah Cinta Yang Lain (15092006)

Sudah beberapa kali saya menulis tentang cinta di rubrik ini, dan untuk kesekian kalinya topik tentang cinta saya angkat kembali. Cinta memang tidak pernah membosankan, selalu terasa fresh meski diulas banyak kali, layaknya produksi lagu-lagu bertema cinta yang tetap enak didengar meski temanya sama saja. Tentu saja kali ini saya tidak berbagi cerita tentang lagu cinta, saya hanya ingin berbagi cerita cinta berdasarkan pengalaman dan pengamatan perilaku manusia di kehidupan sehari-hari di sekitar kita.

Yang sudah berkeluarga tentu masih ingat bagaimana gundah-gulananya hati pada calon istri / suami di saat cinta masih menggelora. Atau bagi yang saat ini sedang jatuh cinta, tentu akan sangat merasakan bagaimana cinta begitu bergejolak dan mendominasi kehidupan kita. Sedang makan ingat dia, sedang duduk ingat dia, sedang berdiri ingat dia, sedang tidur ingat dia, sedang bercermin yang muncul adalah wajahnya, begitu antusias apabila diajak berbincang tentang dia, dan apapun dilakukan demi dia. Dunia terasa hanya milik berdua, sehingga penyanyi kondang alm. Gombloh membuat perumpamaan yang pas tentang kondisi orang yang sedang jatuh cinta "tai kucing pun terasa coklat"

Rasanya... ketika cinta begitu menggelegak di dalam diri, kita tak mampu menolak permintaan sang pujaan hati, tidak mampu berkata tidak ketika dia ingin mengajak kita bercengkerama, tidak membantah ketika dia memohon agar kita tak berbuat cela, selalu ingin membuatnya bahagia, dan ketika cinta berbalas kita sendiri juga sangat bahagia.

Waktupun berlalu... Hati yang selama ini hanya terisi cintanya, mulai dibagi untuk gacoan lainnya. Entah apa namanya… pacar lain, selingkuhan, atau teman tapi mesra (ttm), tetapi yang jelas fokus perhatian dan emosi mulai terbagi. Pribadi-pribadi yang seperti ini menjadi asing dan aneh, tampak mempunyai dua kepribadian. Halus dan lembut dengan kekasih sejati (istri /suami) ketika berada di rumah, tetapi menjadi liar, kurang ajar, dan menyakitkan ketika sudah berada di luar jangkauan. Bagaimana tidak menyakitkan... komitmen yang sudah dibangun ketika akad nikah, kemudian dengan seenaknya dilanggar hanya karena terpikat dengan wanita / lelaki lain.

Dalam berhubungan dengan sang Pencipta pun kita kadang demikian juga.
Komitmen sebenarnya sudah kita teken ketika kita akan dilahirkan ke dunia. Jiwa kita sudah sepakat, komit, setuju, dan berjanji kepada Allah bahwa kita akan menuhankan Nya dan tak akan pernah menduakan Nya. Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) : "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lengah terhadap ini ", atau agar kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu ?" (Al A'raaf (7) : 172-173).

Sebenarnya apabila manusia ini tetap komit dengan kontrak yang telah dibuatnya, tentu hatinya akan dipenuhi dengan cinta kepada Nya, menjadi orang-orang beriman, orang-orang berakal, orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi : "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Ali Imran (3):191). Selalu teringat kepada Nya dalam kondisi duduk, berdiri, berbaring tersebut menunjukkan ciri-ciri dari orang-orang yang hatinya sedang dipenuhi rasa cinta. Cinta kepada siapa ? Tentu saja kepada Allah swt... karena yang selalu diingat hanyalah Dia.

Kalau rasa cinta ini sudah begitu dahsyatnya menghunjam di hati, tentu saja dalam posisi apapun kita akan ingat kepada Nya. Apalagi dalam posisi shalat. Posisi yang seharusnya menjadi media bercengkerama yang intens dengan Nya. Tak ada yang lain selain Dia. Apapun yang diperintahkan dengan senang hati dilakukan dan apapun yang dilarang akan dengan senang hati pula ditinggalkan. Semuanya diberikan untuk Nya. Sehingga dalam mencinta yang berbalas seperti ini pasti bahagia seperti berbalasnya cinta kita kepada kekasih di saat remaja. Dalam mencinta seperti ini pasti kan terasa manisnya iman.

Cinta-cinta kepada yang lain bagaimana ? Cinta kepada yang lain yang muncul darinya hanyalah ekspresi dari gelegak rasa Cinta kepada Nya.

Kalau sudah begini keadaannya... apakah perlu pelatihan shalat khusyu' yang jutaan rupiah harganya ? Tentu tidak... karena khusyu’ memang bukan monopoli orang berduit, khusyu’ diberikan kepada orang-orang yang hatinya penuh rasa cinta kepada Nya. Khusyu’ akan datang dengan sendirinya seiring dengan penuhnya rasa Cinta.

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. (Al Mukminun (23) : 1-5 dan 8-11

Kemudian dunia -layaknya wanita cantik- begitu menggoda sehingga hati kita mendua, melupakan Nya, memenuhinya dengan cinta-cinta yang lain, harta, tahta, wanita, dengan pola cinta yang terpisah dan bukan merupakan ekspresi Cinta kepada Nya. Kita mulai ingkar terhadap komitmen yang telah kita buat kepada Nya. Biasanya kalau hati ini sudah diisi dengan yang lain tentu tak akan ada lagi cinta murni kepada Nya, tak ada lagi ciri-ciri dari orang yang sedang dimabuk cinta kepada Nya, tak ada lagi ciri-ciri orang yang beriman dan berakal, lalu bagaimana bisa khusyu’ ? Apalagi ingin merasakan manisnya iman ?

Rasa-rasanya berapapun uang yang dikeluarkan untuk pelatihan, kalau hati ini kosong dari rasa Cinta kepada Nya... tak akan bisa khusyu'. Baru takbiratul ikram sudah ingat pekerjaan yang belum diselesaikan, saat baca salah satu surat Al Quran terlintas wajah cantik dan desah napas yang pacar, saat ruku' ingat janji bisnis dengan teman, saat sujud ingat makanan, tahiyat akhir ingat sepatu yang belum dimasukkan loker penitipan, pikiran jadi bertanya-tanya Fatehahnya sudah dibaca apa belum ?, dan banyak lagi ganggunan yang kadang membuat kita lupa jumlah rakaatnya. Memang cinta kepada selain Nya seringkali membuat hati khawatir dan gelisah, karena memang telah menyalahi fitrahnya manusia. Takut kemalingan, takut kehilangan pacar, takut kehilangan tempat bersandar, bahkan takut kehilangan sandal.

Kalau kebanyakan takut dan gelisah, bagaimana bisa khusyu’, apalagi merasakan lezatnya iman ? Hanya rasa Cinta kepada Nya lah yang membuat seseorang merasakan lezatnya iman.
Rasa memang tidak bisa diungkapkan dengan kata, harus dilakoni, dijalani, dan dirasakan. Bagaimana bisa kukatakan rasa manisnya gula jika engkau tidak pernah merasakan dan mencicipi gula ? Bagaimana bisa kita rasakan lezzzzzzaatnya iman jika kita tidak menjalani perilaku dan syarat-syarat menjadi orang beriman ?

Mohon maaf apabila tulisan ini terasa menggurui, karena tulisan ini sebenarnya untuk menggurui diri saya sendiri agar hati ini selalu dan hanya terisi Cinta kepada Nya. Agar jiwa ini merasakan lezatnya iman.

Mari kita gapai bersama-sama, semoga Allah memberikan kekuatan agar kita selalu di jalan Nya. Amiiin.

Wassalamu’alaikum
ChAn
15092006

Jangan lupa cintailah produk anak negri, jika ada substitusinya jangan pilih dan beli barang dan jasa dari para penjajah.

Baiti Jannati (29092006)

Baiti jannati, rumahku adalah surgaku begitulah Rasullullah menggambarkan rumah tangganya. Membahas tentang baiti jannati tentu saja kurang mantap dan dalam apabila dilakukan oleh orang-orang yang hanya belasan tahun saja berrumah tangga, belum terbukti atau membuktikan diri bisa awet sampai kakek nenek, seperti saya. Tetapi karena sudah terlanjur janji memberi kado tulisan buat seorang teman yang baru menikah, maka saya beranikan diri untuk membahasnya di sisa hari dari sepertiga awal bulan Ramdhan yang penuh kasih sayang Allah ini, kasih sayang yang melebihi kasih sayang ibu kepada anaknya.

Cerita tentang bagaimana besarnya kasih sayang Allah kepada manusia ada dalam salah satu hadits riwayat Bukhari. Suatu ketika Nabi mengunjungi tawanan Yahudi bersama beberapa sahabat. Dilihatnya seorang wanita Yahudi yang jadi tawanan sedang menyusui anaknya. Selesai anaknya disusuinya pula anak-anak orang lain yang perlu menyusu. Sampai-sampai para sahabat terenyuh dan kagum terhadapnya. Begitu sayangnya ibu tersebut kepada anak-anak. Kemudian Nabi bertanya kepada sahabat, "Apakah wanita tersebut tega melemparkan anaknya ke neraka ?". "Tentu tidak," jawab sahabat. Maka Nabi pun bersabda "Kasih sayang Allah jauh lebih besar dari rasa sayang ibu tersebut kepada anaknya." Dan di hadits lainnya di HR Bukhari dijelaskan bahwa kasih sayang yang diberikan kepada semua makhluk Nya dan kemudian diekspresikan oleh para makhluk Nya tersebut hanyalah sebagian kecil dari 1% kasih sayang Allah, sedangkan yang 99% masih di tangan Allah yang akan diberikan kepada orang-orang yang dicintai Nya. Begitu besarnya rahmat Allah, sehingga menurut saya apabila ada yang tak bisa menggapai rahmat tersebut tentu karena begitu dlalim dia terhadap dirinya sendiri. Alangkah ruginya apabila kita lewati 10 hari pertama Ramadhan ini dengan kesia-siaan.

Kembali kepada baiti jannati, rumahku surgaku, rumah dalam frasa kata tersebut tentu saja bukan rumah dalam arti fisik (house) tetapi lebih rumah batin (home), sehingga terasa sebagai surga. Surga di rumah batin tidak tergantung kepada megah tidaknya rumah dan mewahnya perabotan, tetapi lebih tergantung pada interaksi batin di antara para penghuninya. Interaksi batin dari suami, istri, anak-anak, dan anggota keluarga lain yang ada di dalamnya. Betapa banyak rumah mewah yang di dalamnya ternyata dihuni pasangan-pasangan yang gelisah dan saling gugat, karena mereka sibuk dengan rumah fisiknya tetapi menelantarkan rumah batinnya.

Nabi sendiri menjalani kehidupan rumah tangganya secara sederhana dan sangat bersahaja. Meski merupakan surga, rumah Nabi bukanlah istana –kalau mau tentu mudah bagi Nabi membangunnya karena Beliau adalah pemimpin bangsa, kekuasaan ada di tangannya, dan kunci dunia telah diberikan Allah padanya-. Rumah Nabi untuk masing-masing istrinya hanyalah sebuah rumah kecil satu kamar yang terbuat dari batu bata anti api dengan beratapkan pelepah kurma, untuk masing-masing istrinya. Luas setiap rumah masing-masing istri Nabi tersebut hanya sekitar 5x4 m2 dengan tambahan halaman belakang 5 X 3,5 m2 dan jika seseorang berdiri di dalamnya, maka tangannya dapat menyentuh atap. RSS memang..., tetapi kesederhanaan tersebut ternyata merupakan surga bagi Nabi, tempat yang selalu dirindukan sebagai tempat kembali setelah kemanapun Beliau pergi. Kenapa demikian ? Karena di dalamnya ternyata ada sakinah, mawaddah, dan rahmah. Ada ketenangan, cinta, dan kasih sayang.

Bagi yang sudah menikah -apalagi yang baru saja nikah- atau yang pernah menghadiri akad nikah pasti pernah mendengar khutbah nikah dari naib / penghulu / penceramah pada acara akad nikah tersebut yang pada umumnya bercerita tentang "bagaimana mewujudkan keluarga yang sakinah ma waddah wa rahmah, keluarga yang tenang, penuh cinta, dan kasih sayang". Ada banyak penjelasan di dalamnya, tetapi kalau kita summary biasanya adalah adanya saling menghargai dan saling melindungi dari masing-masing pihak (suami istri) dalam menjalankan fungsi dan perannya, serta adanya uswatun hasanah. Hubungan saling menghargai dan saling melindungi ini digambarkan dalam Al Qur’an dengan indah …mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. (Al Baqarah (2):187).

Melindungi –terutama bagi pasangan-pasangan muda- mungkin mudah, karena situasinya masih layaknya orang pacaran, sayang-sayangan. Pintu mobil masih dibukakan, lecet sedikit si lelaki sudah bingung setengah mati, istri dilirik orang mata sudah melotot, istri dilindungi layaknya menjaga vas bunga yang nggak boleh pecah. Tetapi untuk saling menghargai ? Bukan hal yang mudah, apalagi dalam masyarakat yang budaya patriarchies-nya masih sangat kental. Budaya dimana laki-laki mempunyai banyak keistimewaan dan menempatkan wanita hanya sebagai konco wingking (teman untuk urusan belakang, dapur, dan kamar tidur).
Bukan hal yang mudah menurunkan ego laki-laki yang biasa berkuasa untuk bisa menghargai pasangan, bahkan kadang menjadi masalah besar dan ujung-ujungnya adalah bubar kalau tidak bisa diselesaikan. Contoh kecil dalam membantu urusan domestic rumah tangga yang biasa dikerjakan sang istri misalnya, nggak semua laki-laki mau mengerjakannya. Banyak yang gengsi dan takut tak disebut laki-laki kalau membantu urusan domestic rumah tangga seperti mencuci, ganti popok, dan membuatkan susu bayi di malam hari ketika sang ibu kelelahan mengurus bayinya, padahal kalau mau mencontoh Nabi, banyak hadits yang mejelaskan dan mencontohkan bagaimana Nabi Muhammad ikut membantu urusan domestic rumah tangga istrinya ketika Nabi berada di rumah.

Pada usia-usia perkawinan di bawah tiga sampai lima tahun biasanya rentan dengan masalah saling menghargai ini, sehingga harus ada take and give untuk mencapai suatu titik equilibrium yang baru yang khas untuk masing-masing pasangan agar biduk rumah tangga bisa terus melaju. Jika hal ini terlewati biasanya tahun-tahun perkawinan berikutnya akan semakin smooth.

Faktor lain yang membuat rumah batin terasa sebagai surga adalah hadirnya anak-anak yang sedap di pandang mata. Dalam logika normal –dengan hidayah Allah perkecualian tentu saja ada- anak-anak yang ’sedap dipandang mata’ tidak akan dapat dihasilkan apabila tidak ada role model yang dipakai anak-anak tersebut sebagai referensi tumbuh kembang mereka. Tentu absurd apabila kita berharap anak yang sholeh sementara diri kita sendiri amburadul. Janganlah berharap anak yang sopan jika diri kita sendiri tak tahu adat, janganlah berharap anak rajin mengaji jika diri kita tak memberi contoh rajin mengaji. Jangan berharap anak yang tidak durhaka, jika diri kita sendiri anak durhaka. Perlu praktek, perlu contoh lebih dahulu dari para orang tua yang ’sedap dipandang mata’ sebelum berharap anak keturunan yang ’sedap dipandang mata’ juga. Kita tak bisa hanya ngomel menasehati saja (mauidhoh hasanah), harus ada contoh (uswatun hasanah)

Ada banyak lagi arahan agar bisa membentuk rumah surga, tetapi kalau kita kaji lebih dalam lagi dan lebih sederhana, sebenarnya baiti jannati hanya akan terbentuk apabila sang suami adalah orang yang bertakwa, uswatun hasanah, sedangkan istri dan anak-anaknya adalah orang-orang yang tidak menyakitkan hati, orang-orang shalih dan shalihah, orang-orang yang sedap dipandang mata, sebagaimana firman Allah dan biasa kita mintakan dalam doa-doa kita kepada Nya sesudah shalat Rabbanaa hablanaa min azwajina wa dzurriyyaatinaa qurrata a’yun wa ja’alnaa lil muttaqiinaa imaamaa "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati , dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa".(Al Furqan (25):74).

Kalau sudah begini adakah tempat lain di dunia ini yang lebih indah, lebih tenang, lebih penuh cinta dan kasih sayang, dari pada rumah (home) ?
Semoga bermanfaat
Wassalamu’alaikum
ChAn
29092006