Wednesday, October 04, 2006

Yang Ada Hanyalah Cinta Yang Lain (15092006)

Sudah beberapa kali saya menulis tentang cinta di rubrik ini, dan untuk kesekian kalinya topik tentang cinta saya angkat kembali. Cinta memang tidak pernah membosankan, selalu terasa fresh meski diulas banyak kali, layaknya produksi lagu-lagu bertema cinta yang tetap enak didengar meski temanya sama saja. Tentu saja kali ini saya tidak berbagi cerita tentang lagu cinta, saya hanya ingin berbagi cerita cinta berdasarkan pengalaman dan pengamatan perilaku manusia di kehidupan sehari-hari di sekitar kita.

Yang sudah berkeluarga tentu masih ingat bagaimana gundah-gulananya hati pada calon istri / suami di saat cinta masih menggelora. Atau bagi yang saat ini sedang jatuh cinta, tentu akan sangat merasakan bagaimana cinta begitu bergejolak dan mendominasi kehidupan kita. Sedang makan ingat dia, sedang duduk ingat dia, sedang berdiri ingat dia, sedang tidur ingat dia, sedang bercermin yang muncul adalah wajahnya, begitu antusias apabila diajak berbincang tentang dia, dan apapun dilakukan demi dia. Dunia terasa hanya milik berdua, sehingga penyanyi kondang alm. Gombloh membuat perumpamaan yang pas tentang kondisi orang yang sedang jatuh cinta "tai kucing pun terasa coklat"

Rasanya... ketika cinta begitu menggelegak di dalam diri, kita tak mampu menolak permintaan sang pujaan hati, tidak mampu berkata tidak ketika dia ingin mengajak kita bercengkerama, tidak membantah ketika dia memohon agar kita tak berbuat cela, selalu ingin membuatnya bahagia, dan ketika cinta berbalas kita sendiri juga sangat bahagia.

Waktupun berlalu... Hati yang selama ini hanya terisi cintanya, mulai dibagi untuk gacoan lainnya. Entah apa namanya… pacar lain, selingkuhan, atau teman tapi mesra (ttm), tetapi yang jelas fokus perhatian dan emosi mulai terbagi. Pribadi-pribadi yang seperti ini menjadi asing dan aneh, tampak mempunyai dua kepribadian. Halus dan lembut dengan kekasih sejati (istri /suami) ketika berada di rumah, tetapi menjadi liar, kurang ajar, dan menyakitkan ketika sudah berada di luar jangkauan. Bagaimana tidak menyakitkan... komitmen yang sudah dibangun ketika akad nikah, kemudian dengan seenaknya dilanggar hanya karena terpikat dengan wanita / lelaki lain.

Dalam berhubungan dengan sang Pencipta pun kita kadang demikian juga.
Komitmen sebenarnya sudah kita teken ketika kita akan dilahirkan ke dunia. Jiwa kita sudah sepakat, komit, setuju, dan berjanji kepada Allah bahwa kita akan menuhankan Nya dan tak akan pernah menduakan Nya. Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) : "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lengah terhadap ini ", atau agar kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu ?" (Al A'raaf (7) : 172-173).

Sebenarnya apabila manusia ini tetap komit dengan kontrak yang telah dibuatnya, tentu hatinya akan dipenuhi dengan cinta kepada Nya, menjadi orang-orang beriman, orang-orang berakal, orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi : "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Ali Imran (3):191). Selalu teringat kepada Nya dalam kondisi duduk, berdiri, berbaring tersebut menunjukkan ciri-ciri dari orang-orang yang hatinya sedang dipenuhi rasa cinta. Cinta kepada siapa ? Tentu saja kepada Allah swt... karena yang selalu diingat hanyalah Dia.

Kalau rasa cinta ini sudah begitu dahsyatnya menghunjam di hati, tentu saja dalam posisi apapun kita akan ingat kepada Nya. Apalagi dalam posisi shalat. Posisi yang seharusnya menjadi media bercengkerama yang intens dengan Nya. Tak ada yang lain selain Dia. Apapun yang diperintahkan dengan senang hati dilakukan dan apapun yang dilarang akan dengan senang hati pula ditinggalkan. Semuanya diberikan untuk Nya. Sehingga dalam mencinta yang berbalas seperti ini pasti bahagia seperti berbalasnya cinta kita kepada kekasih di saat remaja. Dalam mencinta seperti ini pasti kan terasa manisnya iman.

Cinta-cinta kepada yang lain bagaimana ? Cinta kepada yang lain yang muncul darinya hanyalah ekspresi dari gelegak rasa Cinta kepada Nya.

Kalau sudah begini keadaannya... apakah perlu pelatihan shalat khusyu' yang jutaan rupiah harganya ? Tentu tidak... karena khusyu’ memang bukan monopoli orang berduit, khusyu’ diberikan kepada orang-orang yang hatinya penuh rasa cinta kepada Nya. Khusyu’ akan datang dengan sendirinya seiring dengan penuhnya rasa Cinta.

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. (Al Mukminun (23) : 1-5 dan 8-11

Kemudian dunia -layaknya wanita cantik- begitu menggoda sehingga hati kita mendua, melupakan Nya, memenuhinya dengan cinta-cinta yang lain, harta, tahta, wanita, dengan pola cinta yang terpisah dan bukan merupakan ekspresi Cinta kepada Nya. Kita mulai ingkar terhadap komitmen yang telah kita buat kepada Nya. Biasanya kalau hati ini sudah diisi dengan yang lain tentu tak akan ada lagi cinta murni kepada Nya, tak ada lagi ciri-ciri dari orang yang sedang dimabuk cinta kepada Nya, tak ada lagi ciri-ciri orang yang beriman dan berakal, lalu bagaimana bisa khusyu’ ? Apalagi ingin merasakan manisnya iman ?

Rasa-rasanya berapapun uang yang dikeluarkan untuk pelatihan, kalau hati ini kosong dari rasa Cinta kepada Nya... tak akan bisa khusyu'. Baru takbiratul ikram sudah ingat pekerjaan yang belum diselesaikan, saat baca salah satu surat Al Quran terlintas wajah cantik dan desah napas yang pacar, saat ruku' ingat janji bisnis dengan teman, saat sujud ingat makanan, tahiyat akhir ingat sepatu yang belum dimasukkan loker penitipan, pikiran jadi bertanya-tanya Fatehahnya sudah dibaca apa belum ?, dan banyak lagi ganggunan yang kadang membuat kita lupa jumlah rakaatnya. Memang cinta kepada selain Nya seringkali membuat hati khawatir dan gelisah, karena memang telah menyalahi fitrahnya manusia. Takut kemalingan, takut kehilangan pacar, takut kehilangan tempat bersandar, bahkan takut kehilangan sandal.

Kalau kebanyakan takut dan gelisah, bagaimana bisa khusyu’, apalagi merasakan lezatnya iman ? Hanya rasa Cinta kepada Nya lah yang membuat seseorang merasakan lezatnya iman.
Rasa memang tidak bisa diungkapkan dengan kata, harus dilakoni, dijalani, dan dirasakan. Bagaimana bisa kukatakan rasa manisnya gula jika engkau tidak pernah merasakan dan mencicipi gula ? Bagaimana bisa kita rasakan lezzzzzzaatnya iman jika kita tidak menjalani perilaku dan syarat-syarat menjadi orang beriman ?

Mohon maaf apabila tulisan ini terasa menggurui, karena tulisan ini sebenarnya untuk menggurui diri saya sendiri agar hati ini selalu dan hanya terisi Cinta kepada Nya. Agar jiwa ini merasakan lezatnya iman.

Mari kita gapai bersama-sama, semoga Allah memberikan kekuatan agar kita selalu di jalan Nya. Amiiin.

Wassalamu’alaikum
ChAn
15092006

Jangan lupa cintailah produk anak negri, jika ada substitusinya jangan pilih dan beli barang dan jasa dari para penjajah.

No comments: