Baiti jannati, rumahku adalah surgaku begitulah Rasullullah menggambarkan rumah tangganya. Membahas tentang baiti jannati tentu saja kurang mantap dan dalam apabila dilakukan oleh orang-orang yang hanya belasan tahun saja berrumah tangga, belum terbukti atau membuktikan diri bisa awet sampai kakek nenek, seperti saya. Tetapi karena sudah terlanjur janji memberi kado tulisan buat seorang teman yang baru menikah, maka saya beranikan diri untuk membahasnya di sisa hari dari sepertiga awal bulan Ramdhan yang penuh kasih sayang Allah ini, kasih sayang yang melebihi kasih sayang ibu kepada anaknya.
Cerita tentang bagaimana besarnya kasih sayang Allah kepada manusia ada dalam salah satu hadits riwayat Bukhari. Suatu ketika Nabi mengunjungi tawanan Yahudi bersama beberapa sahabat. Dilihatnya seorang wanita Yahudi yang jadi tawanan sedang menyusui anaknya. Selesai anaknya disusuinya pula anak-anak orang lain yang perlu menyusu. Sampai-sampai para sahabat terenyuh dan kagum terhadapnya. Begitu sayangnya ibu tersebut kepada anak-anak. Kemudian Nabi bertanya kepada sahabat, "Apakah wanita tersebut tega melemparkan anaknya ke neraka ?". "Tentu tidak," jawab sahabat. Maka Nabi pun bersabda "Kasih sayang Allah jauh lebih besar dari rasa sayang ibu tersebut kepada anaknya." Dan di hadits lainnya di HR Bukhari dijelaskan bahwa kasih sayang yang diberikan kepada semua makhluk Nya dan kemudian diekspresikan oleh para makhluk Nya tersebut hanyalah sebagian kecil dari 1% kasih sayang Allah, sedangkan yang 99% masih di tangan Allah yang akan diberikan kepada orang-orang yang dicintai Nya. Begitu besarnya rahmat Allah, sehingga menurut saya apabila ada yang tak bisa menggapai rahmat tersebut tentu karena begitu dlalim dia terhadap dirinya sendiri. Alangkah ruginya apabila kita lewati 10 hari pertama Ramadhan ini dengan kesia-siaan.
Kembali kepada baiti jannati, rumahku surgaku, rumah dalam frasa kata tersebut tentu saja bukan rumah dalam arti fisik (house) tetapi lebih rumah batin (home), sehingga terasa sebagai surga. Surga di rumah batin tidak tergantung kepada megah tidaknya rumah dan mewahnya perabotan, tetapi lebih tergantung pada interaksi batin di antara para penghuninya. Interaksi batin dari suami, istri, anak-anak, dan anggota keluarga lain yang ada di dalamnya. Betapa banyak rumah mewah yang di dalamnya ternyata dihuni pasangan-pasangan yang gelisah dan saling gugat, karena mereka sibuk dengan rumah fisiknya tetapi menelantarkan rumah batinnya.
Nabi sendiri menjalani kehidupan rumah tangganya secara sederhana dan sangat bersahaja. Meski merupakan surga, rumah Nabi bukanlah istana –kalau mau tentu mudah bagi Nabi membangunnya karena Beliau adalah pemimpin bangsa, kekuasaan ada di tangannya, dan kunci dunia telah diberikan Allah padanya-. Rumah Nabi untuk masing-masing istrinya hanyalah sebuah rumah kecil satu kamar yang terbuat dari batu bata anti api dengan beratapkan pelepah kurma, untuk masing-masing istrinya. Luas setiap rumah masing-masing istri Nabi tersebut hanya sekitar 5x4 m2 dengan tambahan halaman belakang 5 X 3,5 m2 dan jika seseorang berdiri di dalamnya, maka tangannya dapat menyentuh atap. RSS memang..., tetapi kesederhanaan tersebut ternyata merupakan surga bagi Nabi, tempat yang selalu dirindukan sebagai tempat kembali setelah kemanapun Beliau pergi. Kenapa demikian ? Karena di dalamnya ternyata ada sakinah, mawaddah, dan rahmah. Ada ketenangan, cinta, dan kasih sayang.
Bagi yang sudah menikah -apalagi yang baru saja nikah- atau yang pernah menghadiri akad nikah pasti pernah mendengar khutbah nikah dari naib / penghulu / penceramah pada acara akad nikah tersebut yang pada umumnya bercerita tentang "bagaimana mewujudkan keluarga yang sakinah ma waddah wa rahmah, keluarga yang tenang, penuh cinta, dan kasih sayang". Ada banyak penjelasan di dalamnya, tetapi kalau kita summary biasanya adalah adanya saling menghargai dan saling melindungi dari masing-masing pihak (suami istri) dalam menjalankan fungsi dan perannya, serta adanya uswatun hasanah. Hubungan saling menghargai dan saling melindungi ini digambarkan dalam Al Qur’an dengan indah …mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. (Al Baqarah (2):187).
Melindungi –terutama bagi pasangan-pasangan muda- mungkin mudah, karena situasinya masih layaknya orang pacaran, sayang-sayangan. Pintu mobil masih dibukakan, lecet sedikit si lelaki sudah bingung setengah mati, istri dilirik orang mata sudah melotot, istri dilindungi layaknya menjaga vas bunga yang nggak boleh pecah. Tetapi untuk saling menghargai ? Bukan hal yang mudah, apalagi dalam masyarakat yang budaya patriarchies-nya masih sangat kental. Budaya dimana laki-laki mempunyai banyak keistimewaan dan menempatkan wanita hanya sebagai konco wingking (teman untuk urusan belakang, dapur, dan kamar tidur).
Bukan hal yang mudah menurunkan ego laki-laki yang biasa berkuasa untuk bisa menghargai pasangan, bahkan kadang menjadi masalah besar dan ujung-ujungnya adalah bubar kalau tidak bisa diselesaikan. Contoh kecil dalam membantu urusan domestic rumah tangga yang biasa dikerjakan sang istri misalnya, nggak semua laki-laki mau mengerjakannya. Banyak yang gengsi dan takut tak disebut laki-laki kalau membantu urusan domestic rumah tangga seperti mencuci, ganti popok, dan membuatkan susu bayi di malam hari ketika sang ibu kelelahan mengurus bayinya, padahal kalau mau mencontoh Nabi, banyak hadits yang mejelaskan dan mencontohkan bagaimana Nabi Muhammad ikut membantu urusan domestic rumah tangga istrinya ketika Nabi berada di rumah.
Pada usia-usia perkawinan di bawah tiga sampai lima tahun biasanya rentan dengan masalah saling menghargai ini, sehingga harus ada take and give untuk mencapai suatu titik equilibrium yang baru yang khas untuk masing-masing pasangan agar biduk rumah tangga bisa terus melaju. Jika hal ini terlewati biasanya tahun-tahun perkawinan berikutnya akan semakin smooth.
Faktor lain yang membuat rumah batin terasa sebagai surga adalah hadirnya anak-anak yang sedap di pandang mata. Dalam logika normal –dengan hidayah Allah perkecualian tentu saja ada- anak-anak yang ’sedap dipandang mata’ tidak akan dapat dihasilkan apabila tidak ada role model yang dipakai anak-anak tersebut sebagai referensi tumbuh kembang mereka. Tentu absurd apabila kita berharap anak yang sholeh sementara diri kita sendiri amburadul. Janganlah berharap anak yang sopan jika diri kita sendiri tak tahu adat, janganlah berharap anak rajin mengaji jika diri kita tak memberi contoh rajin mengaji. Jangan berharap anak yang tidak durhaka, jika diri kita sendiri anak durhaka. Perlu praktek, perlu contoh lebih dahulu dari para orang tua yang ’sedap dipandang mata’ sebelum berharap anak keturunan yang ’sedap dipandang mata’ juga. Kita tak bisa hanya ngomel menasehati saja (mauidhoh hasanah), harus ada contoh (uswatun hasanah)
Ada banyak lagi arahan agar bisa membentuk rumah surga, tetapi kalau kita kaji lebih dalam lagi dan lebih sederhana, sebenarnya baiti jannati hanya akan terbentuk apabila sang suami adalah orang yang bertakwa, uswatun hasanah, sedangkan istri dan anak-anaknya adalah orang-orang yang tidak menyakitkan hati, orang-orang shalih dan shalihah, orang-orang yang sedap dipandang mata, sebagaimana firman Allah dan biasa kita mintakan dalam doa-doa kita kepada Nya sesudah shalat Rabbanaa hablanaa min azwajina wa dzurriyyaatinaa qurrata a’yun wa ja’alnaa lil muttaqiinaa imaamaa "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati , dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa".(Al Furqan (25):74).
Kalau sudah begini adakah tempat lain di dunia ini yang lebih indah, lebih tenang, lebih penuh cinta dan kasih sayang, dari pada rumah (home) ?
Semoga bermanfaat
Wassalamu’alaikum
ChAn
29092006
Wassalamu’alaikum
ChAn
29092006

No comments:
Post a Comment