Tahukah bahwa pada tanggal 12 Juni 1952 di sidang darurat kaum Yahudi Dunia, seorang pendeta Yahudi Eropa, Emanuel Robinovich, pendeta tertinggi Yahudi berkata, ''Untuk mencapai tujuan akhir kita bisa saja memerlukan cara yang menyedihkan seperti kita lakukan pada masa Hitler, yaitu kita sendiri mengatur terjadinya peristiwa penindasan terhadap sebagian bangsa kita sendiri. Dengan kata lain, kita akan menumbalkan sebagian putra bangsa sendiri pada suatu peristiwa yang akan kita atur dari belakang layar.''
Beberapa tahun lalu Bush dengan penasehat spiritualnya pendeta Pat Robertson mengkampanyekan holy crusade menghancurkan satu bangsa hanya karena peristiwa 9/11 yang belum jelas siapa dalangnya, al Qaidah ? Kenapa lalu satu bangsa –Afganistan- tanpa pandang bulu dihancurleburkan ? Kemudian dengan kampanye adanya senjata pemusnah massal -yang tidak pernah ada buktinya- bangsa Irak diluluhlantakkan. Dengan kampanye adanya 2 tentara yang disandera, disetujui pula separoh negara dibumihanguskan. Tak peduli anak-anak, wanita, orang tua, orang sakit, rumah sakit, tempat ibadah, semua dihancurkan. Banyak lagi penghancuran, pembunuhan, penindasan, dan penjajahan, yang ketika ditanya alasannya, kenapa ? Jawabnya adalah perang suci atas nama Tuhan, atau demi Tuhan yang dipercayainya.
Penindasan yang dilakukan oleh tokoh yang mengaku Islam tidak pula kalah ganasnya, bagaimana Hasan al Banna, Sayyid Quthub, dan para tokoh Ikhwanul Muslimin dihukum mati di Mesir oleh Gamal Abdel Nasser hanya karena perbedaan ideologi. Pemberangusan sekolah-sekolah agama di Pakistan, Tunisia, Aljazair saat ini. Pemberangusan hak-hak rakyat dan wanita di banyak negara Arab dengan dalih agama. "Demi agama, demi Allah dan Rasulullah," katanya.
Lalu tegoklah lagi, hampir 50% negara yang masuk dalam daftar negara terkorup di dunia versi Transparency International adalah negara dengan mayoritas penduduk Islam. Sebagian koruptor yang sedang ditangani atau yang sudah dipenjara di negeri ini adalah juga para tokoh yang sebelumnya adalah pengurus organisasi berlabel agama, dan bahkan ada juga mantan menteri yang mengurusi agama. Memang tidak ngebom dan membunuh secara langsung, tetapi kerusakan yang ditimbulkan korupsi lebih dahsyat daripada pada bom. Meruntuhkan sendi-sendi hukum, moral, adat, agama, tatanan sosial, dan korbannya lintas generasi.... Dan bila dikatakan kepada mereka:"Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi ". Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan." Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.(QS Al Baqarah (2): 11-12)
Aneh memang... semua melakukannya dengan atas nama Tuhan. Demi Tuhan Yehova, demi Tuhan Yesus, demi Allah, dsb. Tetapi kenapa kerusakan yang ditimbulkannya ?
Persoalan besar kadang kala bisa didekati dengan contoh dan perumpamaan kecil dalam kehidupan sehari-hari. Contoh kecil kehidupan di hari-hari yang sedang berjalan ini, sedikit memberikan jawaban. Beberapa masalah membuat saya harus bersinggungan dengan orang-orang yang menempatkan Tuhan hanya saat berada di masjid / gereja saja, di bibir saja, bahkan mungkin sudah diletakkannya di tong sampah di bawah laci meja kerjanya.
"Demi Allah... saya tidak merugikan perusahaan. Saya hanya punya hubungan bisnis, hubungan utang piutang dengan client perusahaan," ucapnya dengan sangat persuasif.
"Demi Tuhan Yesus... saya tidak berniat merugikan perusahaan dan membantu client. Saya hanya bernasib sial saja sehingga penilaian yang saya buat semua datanya tidak valid dan tak bisa diverifikasi kebenarannya," kata yang lain tidak mau mengaku adanya rekayasa.
"Demi Allah... saya tidak minta, tetapi saya diberi, dan saya membelinya," ujar lainnya dengan menunjukkan kwitansi, padahal nggak ada jual beli dan kwitansi yang diberikan kosongan saja sesuai permintaan, sehingga terasa sudah persiapan alibi kalau sewaktu-waktu ditemukan penyimpangan oleh SPI.
"Demi Tuhan Yesus... semoga yang tidak mempercayai dan menginterogasi saya kualat," ancam yang lain, padahal jelas-jelas BG nasabah masuk ke rekeningnya beberapa kali.
Kata-kata seperti itulah yang keluar dari mereka, orang-orang di sekitar kita yang tampaknya taat beragama, menyimpan sajadah di lacinya, atau rajin ke gereja, orang-orang yang tampak innocent dan suci.
Kalau diamati... demi Allah, demi Yesus, dan demi-demi lainnya, hanyalah sekedar alibi untuk menutupi keadaan sebenarnya yang ujungnya adalah demi gengsi rumah mewah di regency, demi life stlyle yang tidak match dengan gaji, harta, tahta, dan nikmat semu dunia. Padahal Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka . Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?(Al An’aam (6) :32))
Harta dunia dan kekuasaan kadang membuat kita gelap mata, hingga sulit untuk membedakan yang haq dengan yang bathil, campur aduk. Kadang mendapatkannya dilakukan dengan cara yang culas, dan sesudah didapat pun kikirnya setengah mati, padahal bondho kuwi didholeki nanging ora usah kemanthil ning ati (harta itu dicari tetapi tidak usah melekat di hati), ya... seperti tukang parkir yang sedang dititipi banyak mobil mewah, tetap berusaha agar banyak pelanggan yang mau parkir ditempatnya tetapi tidak keberatan ketika si pemilik mengambil mobilnya. Mencari dan mempertahankannya tak perlu dilakukan dengan cara bohong, rekayasa, menipu, mengancam, sumpah serapah, atau bahkan membunuh. Meski kita tak melihat Nya, selayaknya kita sadar bahwa Dia melihat dan mengawasi, tentu saja apabila kita masih percaya pada Nya.
Bukan kebalikannya Tuhan diletakkan hanya di masjid, Tuhan tidak ada di kantor, Tuhan tidak melihat apa yang saya perbuat, Tuhan tidak mendengar, Tuhan tidak masalah dengan perbuatan saya, dan Tuhan itu lho... masih sayang sama saya. Buktinya ? Saya nggak dihukum, saya masih duduk di sini, rekayasa yang saya perbuat tak ada yang tahu, dan saya tambah berkuasa dan kaya. Gencarnya godaan dunia, gaya hidup, persaingan yang lebih menghargai nilai-nilai yang kasat mata, dan kekuasaan yang ada dalam genggaman, kadang membuat kita tidak sabar dalam menghadapinya, sehingga melakukan hal-hal yang tergesa-gesa dan culas. Padahal mereka-mereka ini pergi ke mesjid / gereja, beragama, bertuhan. Tampaknya bagi golongan ini, setelah keluar dari masjid / gereja.... Tuhan hanya ada di tong sampah.
Tokoh-tokoh dunia dalam skala besar, dan orang-orang "kecil" di sekitar kita, pada hakekatnya sama, meski output kerusakan yang ditimbulkan skalanya berbeda. Alibi yang digunakan sebagai pembenar tindakan sama-sama demi Tuhan yang dipercayainya, tetapi dari outputnya dapat sama-sama kita rasa dan simpulkan, bahwa demi Tuhan... demi Allah... dsb hanyalah alibi untuk mengelabui sesama dan menutupi alasan busuk yang menjadi agenda sebenarnya.
Mungkin tak masalah bagi agama lain, tetapi bagi yang muslim ? Betapa sia-sianya... Shalat hanya untuk badannya tetapi tidak hatinya, puasa hanya untuk perutnya tetapi tidak mengajak nafsunya, zakat dan shadaqah hanya untuk show force dan trade off .
"Untuk buang sial," katanya, seperti sedekah uang receh yang dilempar orang-orang kepada rombongan jenazah yang sedang lewat, yang biasa ada di tanah Jawa.
Sungguh rugi...... mohon maaf apabila tidak berkenan dan assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
ChAn
01092006

No comments:
Post a Comment