Saturday, December 09, 2006

Sex, Lies & Video Tape

Jika ada kumpulan bilangan dan memang hanya sekedar kumpulan bilangan yang terdiri dari bilangan –unlimited, -4, 0, ½, 1, 2, 4, 9, 25, 40, 100, unlimited dan kemudian masing-masing orang yang berakal disuruh memilih satu saja angka dari angka-angka tersebut, maka pilihan angka yang keluar dari masing-masing orang tentu akan mudah saja dan pasti beragam.

Dan kemudian apabila meningkat lagi bahwa kumpulan angka tersebut bukan hanya sekedar angka tanpa makna, tetapi juga menunjukkan jumlah dari tanggung jawab, beban, dan amanah yang harus dipikulnya, dan kemudian masing-masing orang yang berakal tersebut disuruh kembali memilih, maka tentu mereka akan berpikir ulang dengan mereview kepada kemampuan diri masing-masing. Seberapa kuat ilmu dan kemampuan mereka dalam menerima beban tanggung jawab tersebut akan menjadi faktor yang menentukan. Tetap saja beragam hasil yang didapatkannya.

Lalu apabila berlanjut lagi bahwa kumpulan angka tersebut bukan hanya sekedar obyek pilihan jumlah beban, tanggung jawab, dan amanah yang pasrah dan pasif, tetapi bilangan tersebut bernyawa dan juga merupakan subyek yang punya hak dan kehendak, yang bukan hanya sekedar bisa dipilih tetapi juga punya hak memilih. Dan kemudian pemilih juga tahu bahwa masing-masing pilihan juga punya potensi menciptakan masalah, kick back, dan jadi aib, apabila amanah dan tanggung jawab dari beban tersebut tidak dikelola dengan benar, maka orang-orang berakal yang disuruh memilih tersebut tentu akan lebih keras lagi berfikirnya sebelum memenentukan pilihan. Meski demikian tetap saja beragam hasilnya.

Pilihan angka (yang sudah berujud jadi tanggung jawab dan amanah) yang keluar dari orang-orang berakal ini tentu saja tergantung kepada kondisi internal (iman, ilmu, dan kemampuan pribadi baik jasmani, ruhani, finacial, non financial), maupun eksternal (sosio cultural, pressure group, aturan hukum yang berlaku, dsb) dari masing-masing individu. Tentu hasilnya tidak akan sama untuk tiap individu, dan khas problematikanya. Bahkan kadang-kadang pilihan yang muncul adalah tak terduga. Disuruh pilih salah satu angka tetapi inginnya kombisasi dari beberapa angka, misalnya : 0 dengan ½, 1 dengan ½, 1 dengan unlimited, atau keduanya unlimited (baik minus ataupun plus).

Akan terasa aneh dan janggal apabila pilihan kita ternyata berlawanan dengan mayoritas pilihan orang lain. Misalnya : Aneh dan terasa asing jika pilihan kita 1, sementara kita berada dalam kelompok orang-orang yang mayoritas memilih -4 (minus 4), atau mayoritas memilih 0, atau bahkan mewajibkan memilih ½. Belum lagi kalau kita meninjau dan menghakimi pilihan orang dari kaca-mata pilihan kita sendiri. Karena kita pilih ½ maka pilihan lainnya adalah pilihan yang keji dan menyakitkan. Karena kita pilih 1, maka pilihan -4, 0, ½, 2, atau 4 adalah salah dan harus dihujat habis-habisan. Siapa yang benar, siapa yang salah ?

------*--------

22 Desember sebentar lagi kita akan merayakan Hari Ibu Indonesia, terserah bagaimana kita memaknai hari besar ini, tetapi yang jelas kita masuki bulan Desember 2006 ini dengan gonjang-ganjing berita beberapa public figure yang ada hubungannya dengan Ibu. Sebuah panggung drama kehidupan telah disajikan oleh Allah swt untuk kita ambil hikmahnya.

Minggu ini tersiar kabar di media Jawa Pos, musisi kawakan mantan anggota group band terkenal ’Nsync pisah ranjang dari pasangannya yang tunggal jenis (homo). Lalu aktor kawakan Eddy Murphy menolak mengakui anak yang dikandung Melanie Brown (mantan pacar dan anggota Spice Gilrs) sebagai hasil karyanya. ”Harus test DNA dahulu,” katanya. Kemarin diberitakan pula ikon panutan anak muda Britney S yang sedang dalam proses cerai dengan suaminya, beberapa kali tertangkap kamera tidak memakai (maaf) celana dalam di keramaian pesta. Biarlah tak ada komentar, cari sensasi agar ngetop, dan lagi pula semuanya terjadi di dunia serba boleh, suka-suka aja...

Kemudian merambah ke Indonesia, seorang public figure, politisi beken, -diam-diam karena takut ketahuan istri- selingkuh dengan seorang biduanita. Terjadi 4 tahun lalu dan menurut pengakuan sepihak biduanita tersebut selingkuh berlangsung 2 tahun, sempat hamil 2 bulan, digugurkan dengan sepengetahuan public figure dan istrinya. Baru sekarang aib terbongkar, setelah video hubungan panas mereka di ranjang beredar kemana-mana, dan setelah 2 tahun hubungan mereka berakhir. Entah siapa memakan siapa, yang jelas kalau memang benar pengakuan biduanita tersebut, berapakah tindakan keji dan dosa besar yang telah dilakukan public figure tersebut ? Astaghfirullah, na’udzu billah min dzalik.

Tersebar pula kabar di bulan Desember ini seorang pelawak terkenal yang saat ini jadi anggota DPR, pernah mencoba berpoligami dengan 2 istri. Entah karena kurang ilmu dan kapasitasnya sehingga perkawinannya tidak bisa bertahan lama, kedua istri berantem, dan akhirnya bercerai dengan keduanya. Kawin lagi dengan yang lain monogami... cerai juga. Dan sekarang public figure ini sedang bermonogami dengan wanita yang keempat. Ya... kalau bakatnya kawin cerai memang susah. Apalagi berpoligami yang berat syaratnya. Agar poligami berjalan baik dan sukses, memang butuh ilmu dan kapasitas pribadi yang prima, bukan sekedar just for fun.

Beberapa bulan sebelumnya tersiar berita -dengan pertimbangan yang matang dan lama- seorang biduanita terkenal di Indonesia menolak menjadi istri pertama (kalau ada pertama berarti ada yang kedua), menggugat cerai suaminya. Sukses, berhasil, dan halal secara agama meski perceraian termasuk langkah yang tidak disukai oleh Allah. Alhamdulillah semua berjalan lancar

Dan di saat ini tersebar badai berita seorang public figure lainnya, da’i kondang. Memutuskan diri menikah lagi setelah menimbang, menimang, dan berfikir selama 5 tahun. Semua dilakukan dengan sepengetahuan dan seijin istri pertamanya. Cetha wela-wela, terang benderang, tak ada yang ditutup-tutupi. Banyak pro-kontra, langkah yang tidak populer, bukan merupakan tindak kejahatan, tidak ada aturan Allah yang dilanggar, halal, tetapi tetap saja menjadi sasaran antipati bagi sebagian penggemar dan pengagumnya. Subhanallah

Dan tidak masuk head line berita, hari ini (6/12) dalam perjalanan berangkat kantor, saya mendengar dari radio Delta FM seorang ibu yang mengatakan betapa sakitnya menjadi istri kedua. Ketika ditanya sang penyiar, ”Kenapa mau dijadikan istri kedua ?”. Jawabnya mengejutkan saya, ”Karena saat menikahi saya, suami saya berjanji akan menceraikan istri pertamanya. Saya mau. Tetapi ternyata janji tersebut hanya tinggal janji, dan sampai sekarang tidak diceraikannya !” . Wouuuw ...!!! ??? Hari giniii, jaman emansipasi, masih ada juga wanita yang mau-maunya dikadalin laki-laki. Apalagi mau juga menyakiti hati sesama wanita. Apa memang wanita itu suka dirayu dan dibohongi ya ?

Dan tentu saja tidak akan masuk berita media –karena bukan public figure-, tetangga saya seorang Tionghwa mempunyai istri banyak, dan hanya kawin adat saja di klentheng. Sebagai suami dan ayah, dia bertanggung jawab dengan baik terhadap istri-istri dan anak-anaknya, Dan last but not least, kehidupan rumah tangga kita yang ordinary saja, biasa-biasa saja, rata-rata anak 2 dan satu pasangan setia. Pas.... sudah sesuai dengan kapasitas, ilmu, dan kemampuan kita untuk mengarungi hidup ini secara layak.

Mau ikutan public figure ? Nggak berani, nggak mampu, nggak sesuai kapasitas terpasang, takut ngos-ngosan ? Wong namanya saja ordinary, lha kok mau yang extra ordinary.

Atau mungkin jawabnya adalah : ”Sudah ikutan sih… Cuma nggak formal, hanya diam-diam, suka sama suka, sekedar simpanan, takut ketahuan istri. Maklumlah bosan makan nasi rawon teruuus, penginnya sekali-sekali juga merasakan soto dan kare ayam.” Hah...???

------*------

Kembali ke angka-angka di atas, masing masing angka tersebut menunjukkan perilaku yang berlaku dan ada di masyarakat ”binatang” manusia. Minus 4 saya representasikan sebagai poliandri (1 wanita dengan banyak suami) yang setahu saya masih ada di budaya sebagian masyarakat di pegunungan Himalaya, di pedalaman Nepal. Dia layani banyak lelaki sebagai suaminya yang sah, dan hubungan ini adalah biasa karena begitulah norma adat yang berlaku di sana.

Angka 0 (nihil) adalah representasi dari pilihan untuk ”tidak memilih” bertanggung jawab memikul beban amanah memiliki istri / suami yang berlaku di dalam lingkungan para rabbi, pastur, romo, biarawati, dan bhiksu. ”Agar bisa melayani dengan sepenuh hati kepada umat,” begitulah biasanya alasan yang dipakai. Begitulah aturan, budaya, adat, bagi siapa saja yang sepakat untuk masuk dan menjadi anggota komunitas ini.

Nol juga bisa diartikan memilih unlimited ketika diterapkan pada orang-orang yang tidak mau direpotkan dengan tanggung jawab ’mempunyai” istri / suami karena ingin bebas memilih wanita mana saja yang mau, tak terbatas, asal suka (unlimited). ”Kalau memang bisa beli sate di warung sate, kenapa harus memelihara kambingnya ?” begitulah prinsip golongan unlimited ini. Poligami juga sebenarnya meski informal.

Angka ½ , pecahan merupakan representasi dari mereka yang memilih sesama jenis kelaminnya sebagai pasangan. Tidak 100% murni gendernya, secara fisik lelaki / wanita tetapi jiwa mereka berjenis kelamin lain dari jenis fisiknya, sehingga muncullah homosex, lesbian, dsb. ”Jika heterosexual sah dan diperbolehkan, maka berdasarkan HAM, homosexual seharusnya sah dan diperbolehkan juga,” begitulah motto dan gagasan golongan ini, ½ bukan berarti tidak sempurna, tetapi memang sudah dari sononya.

Angka 1 merupakan representasi dari para penganut monogami. Yang ordinary 1 pasangan saja, tidak neko-neko, dijaga dan dipelihara semaksimal mungkin agar tetap utuh 1, tetapi kalau sudah berusaha maksimal tidak bisa sejalan lagi, maka pisah bukan hal yang tabu. Ada banyak varian dari para penganut monogami ini, sehingga akhirnya bukan 1 tetapi bisa jadi 0, 1 ½ atau unlimited :
o Satu saja sampai mati karena Tuhan yang menyatukan dan hanya Tuhan yang boleh memisahkan (mati). Apapun kondisi dan situasi yang berlangsung dalam perjalanan pernikahan tersebut, meskipun sudah tidak cocok dan sudah tidak bisa disatukan lagi.
o Satu saja sampai mati. Tetapi karena sudah nggak cocok dan tidak boleh cerai secara resmi, maka formal tercatat punya istri satu, tetapi realitanya sudah cerai, tidak punya istri (0). Habis ijin untuk kawin lagi tidak turun-turun sih ?.
o Satu saja yang resmi. Tambahan lainnya ? Tak masalah asal tidak diresmikan sebagai istri / suami. Punya simpanan berapapun tak masalah asal tetap saja sebagai simpanan bukan sebagai istri / suami, dan atau tidak dilakukan di hadapan mata ( unlimited ).
o Satu saja yang resmi, tetapi hanya sebagai kedok, karena aslinya memang mencintai yang sesama jenis ( ½ )
o Satu saja, kalau sudah bosan dan nggak cocok ganti dengan istri /suami lain. Gonta-ganti, kawin cerai seenaknya, asal tetap saja satu.

2, 4, 9, 25, 100 adalah representasi dari orang-orang yang melakukan poligami. Di banyak budaya, resmi atau tidak resmi, dilegalkan atau dilarang, terdapat poligami dengan segala model turunannya. Ada kawin adat, kawin klentheng, kawin sirri, kawin kontrak, ada selir, ada harlem, ada istri simpanan, ada selingkuhan, kumpul kebo, gendakan, dan jangan lupa ada juga lokalisasi pelacuran untuk menyalurkan hasrat poligami bagi orang-orang yang tidak mau dibebani unsur ”bertanggung jawab” atas pilihan poligaminya. Raja-raja dan pangeran mempunyai banyak selir selain permaisuri. Para pedagang dan pelaut mempunyai istri di pelabuhan-pelabuhan tempat kapalnya merapat. Para pejabat dan politikus punya simpanan yang tidak diketahui sang istri resmi. Para sopir padha mampir di warung remang-remang di pinggir jalan ketika truknya harus istirahat. Dan jangan lupa pula pria-pria hidung belang yang buang hajat di lokalisasi pelacuran untuk memuaskan nafsu bisa berhubungan dengan banyak wanita itu juga poligami
------ * -------

Kalau kita lihat fakta di kehidupan ini, memang ada orang-orang extra ordinary yang harus diatur pola hubungan dengan pasangannya agar tidak terjadi kesewenang-wenangan, ada pola -4, 0, ½, dan >1. Budaya setempat, aturan komunitas, dan aturan agama yang dianut tentu saja akan sangat mempengaruhi.

Sementara itu, problematika rumah tangga adalah khas di masing-masing rumah tangga. Tentu tak bisalah kita mengukur problematika rumah tangga orang lain dengan ukuran kita. Misalnya : Bagaimana kita mengukur rumah tangga orang lain yang memang extra ordinary dengan ukuran kita yang hanya ordinary saja, yang hanya mampu mencukupi satu istri dengan 2 anak, dengan ”jatah” mungkin maksimal hanya 2-3 kali seminggu ? Dan ini pun pemenuhannya masih pas-pasan.

Banyak rumah tangga yang perlu emeregency exit sebagai satu-satunya cara untuk menyelesaikan problematikanya. Masalah-masalah tersebut sebenarnya kalau disederhanakan lagi ujung-ujungnya adalah perlu bantuan dan adanya kebutuhan kepada lebih dari satu wanita sebagai pendampingnya. Lalu apakah orang-orang yang extra ordinary dan perlu emeregency exit itu kita suruh menjadi pastor, bhiksu, atau menjadi seperti diri kita saja yang ordinary ? Atau ngono ya ngono ning ojo ngono, poligami ya poligami… tetapi dirahasiakan saja, nggak usah diformalkan, jadikan saja simpanan, selingkuhan, cem-ceman, gendakan, dan nggak perlu diekspose ? Atau bagaimana ?

Apalah jadinya apabila masing-masing golongan tersebut menilai pilihan golongan lain berdasarkan kriteria / paham yang dianut golongannya, dan kemudian memaksakannya agar orang lain mengikuti aturan kelompoknya. Aneh bukan kalau para rabi, bhiksu, pastor, dan biarawati memaksa orang lain di luar komunitasnya mengikuti aturan mereka ? Aneh bukan kalau menilai orang non Islam dengan aturan orang Islam ? Demikian juga sebaliknya, aneh sekali kalau orang Islam mengukur dirinya dengan ukuran kaum non Islam.

Islam mengatur terhadap orang-orang yang memang extra ordinary kebutuhan dan kapasitasnya dengan memberikan emeregency exit dengan syarat-syarat syar’i yang ketat, dan tanggung jawabnya dunia akhirat.
o Tidak semua angka pilihan diperbolehkan. Tidak boleh memilih -4 (poliandri), 0 (bertekat tidak menikah sama sekali), ½ (hubungan sesama jenis), atau > 4 (poligami lebih dari 4 orang istri)
o Hanya boleh dilakukan dengan syarat suami mampu mencukupi nafkah kepada istri-istri dan anaknya (1) dan dituntut berlaku adil kepada istri-istrinya (2).
Meski hanya 2 syaratnya, hukum berpoligami bisa berubah menjadi haram dan berdosa besar bagi pelakunya apabila si pelaku menelantarkan nafkah kepada orang-orang yang wajib dinafkahi, menyengsarakan, dan tidak berlaku adil kepada istri-istrinya, jasmani maupun ruhani.

Meski masih jadi perdebatan status hukumnya, hukum poligami pun bergerak sesuai dengan keadaan yang dihadapi pasangan tersebut, bisa wajib, sunnah, makruh, dan haram. Hukum nikah misalnya, bisa menjadi haram ketika si lelaki menikahi wanita untuk membohongi dan mencelakakan si wanita, apalagi hukum poligami.

Inilah manhaj rabbaniyah. Manhaj mana lagi yang akan kita ikuti ketika kita sudah bersyahadat, masuk dan setuju untuk beriman kepada Allah, beriman kepada malaikat-malaikat Nya, beriman kepada kitab-kitab yang diturunkan Nya, beriman kepada Rasul-rasul Nya, beriman kepada adanya hari Qiyamat, dan beriman terhadap Takdir Nya ? Aneh rasanya kalau kita apriori dan mencaci maki terhadap aturan-aturan Allah hanya karena adanya contoh jelek dari sebagian muslim yang berpoligami (padahal aslinya mereka ini menginjak-injak aturan Nya). Kenapa harus aturan Allah yang diserang ? Kenapa tidak oknumnya yang diberesin ? Atau hanya karena kita belum, tidak mampu, dan atau tidak mau menjalankannya, lalu kita serang aturan Allah ?.

Apakah karena kita belum mampu menutup aurat dengan baik, lalu kemudian lalu kita apriori dan mencela aturan menutup aurat dengan baik (berjilbab) ? Apakah karena kita belum bisa ikhlas merelakan suami kita dimiliki juga oleh istrinya yang lain, lalu kita apriori dan mencela kepada orang yang bisa ikhlas berbagi suami dengan saudaranya yang lain ? Apakah karena kita hanya mampu menghidupi secara layak dan adil kepada hanya satu orang istri dan dua anak, lalu kita cela dan apriori kepada laki-laki lain yang bisa menghidupi lebih dari satu istri dan 2 anak secara layak dan adil ?

Jangan... janganlah karena kurangnya ilmu dan kemampuan kita lalu mencela hukum dan aturan-aturan Allah yang memang telah digariskan ada sebagai emeregency exit. Jika memang kurang ilmu, tidak punya kapasitas, dan tidak mampu... ya jangan lakukan poligami. Tetap saja tidak elok rasanya mencela dan apriori terhadap aturan yang memang jelas-jelas ada di dalam Kitab yang kita imani. Jika aturan Allah dijalankan sesuai dengan arahan Nya, insya Allah tidak akan ada namanya KDRT (kekerasan dalam rumah tangga). Baik dari sisi suami maupun istri...

Contoh emeregency exit untuk orang-orang extra ordinary sudah ada, dan sedang ditampilkan Allah swt di dalam pentas kehidupan sekarang ini, seperti yang telah dilakukan oleh para public figure di atas. Mau yang penuh dosa dan haram.... ada contohnya. Mau yang halal tetapi tidak disukai Allah.... ada pilihannya. Mau poligami tidak sukses... ada contohnya. Atau mau pilih yang seratus 100% halal dan terang benderang tanpa harus ada yang disembunyi-sembunyikan... ada contohnya. Namun kalau memang dasarnya memang hanya ordinary saja... ya jangan memaksakan diri untuk masuk ke levelnya orang-orang extra ordinary. Bikin masalah dan akan menjadi contoh jelek saja...., karena dasarnya memang sudah tidak memenuhi syarat bolehnya berpoligami.

Semua pilihan berpulang pada masing-masing rumah tangga. ”Wanita yang dimadu itu telah didzalimi, dan poligami adalah ketidakadilan bagi wanita ! Telah terjadi kekerasan psikologis pada wanita dan bisa dimasukkan sebagai pelecehan dan tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) ! ” itulah jargon yang sering kita dengar.

Lho…apakah lelaki yang secara rasional memang perlu emeregency exit dan memang benar-benar tidak mencukupi kalau hanya satu istri harus diberangus, dikebiri, atau disuruh jajan di lokalisasi ? Apakah ini juga tidak termasuk kekerasan dan tekanan psikologis (KDRT) juga oleh istri kepada suami ? Apakah ini juga keadilan wanita kepada laki-laki ?

Sungguh dan memang sesungguhnya manusia itu mbingungi. Kalau laki-laki berani cerai, kenapa sih wanita takut cerai ? Bukankah nanti juga bakal kehilangan suami (mati) ? Emangnya kalau nggak ada suami nggak bisa hidup ? Kenapa harus terlalu bergantung pada suami ?. Katanya emansipasi ? Salut buat mereka yang menceraikan suaminya karena tidak setuju dengan poligami. Dan lebih salut pula buat istri yang ikhlas untuk berbagi suami dengan sesamanya.

Desember ini memang harinya para Ibu. Semua ini bisa terjadi juga karena Ibu. Yang bisa menjaga rumahtangganya tetap sakinah tanpa poligami juga Ibu. Yang mengikhlaskan suaminya berpoligami juga Ibu.Yang mau dinikahi sebagai istri kedua juga Ibu. Yang menggugat cerai suami karena tidak setuju jadi istri pertama juga Ibu. Yang membuat janin yang dikandungnya tidak diketahui bapaknya juga Ibu. Yang membunuh janin yang ada di kandungannya juga Ibu. Yang meminta lelaki menceraikan istri pertamanya juga Ibu. Yang membuat stress istri kedua juga Ibu. Yang saling berantem sehingga keduanya kehilangan suami juga Ibu. Yang ada di lokalisasi juga Ibu. Yang membuat poligami -baik yang formal maupun yang non formal (pelacuran, simpanan, selingkuhan, dsb.)- bisa terjadi atau tidak bisa terjadi juga karena kontribusi dari para Ibu-ibu. Apa bisa memang laki-laki berpoligami kalau semua Ibu sepakat tidak mau ? Sampai-sampai Ibu Menteri bidang Pemberdayaan Perempuan dipanggil Presiden dan merasa perlu meninjau ulang semua aturan yang menyangkut poligami juga karena SMS para Ibu.

Hebat...., tetapi sayangnya yang lebih diperhatikan adalah poligami formal yang jelas ada penanggungjawabnya. Kenapa tidak sekalian diatur (dilarang) dengan lebih detail tentang “Pengentasan Wanita Poligami Informal (Pelacuran, Sex Bebas, Kumpul Kebo).” Cobalah lihat hasilnya dari aturan-aturan yang dibuat manusia berapa banyak anak tanpa bapak resmi, berapa banyak jumlah wanita di lokalisasi, berapa banyak pelaku sex bebas yang memperbudak wanita di sekitar kita, dan sebagian dari kita diam saja menyikapi hal-hal seperti ini layaknya mayat-mayat di kuburan, tidak seimbang dengan teriakan dan semangatnya kita dalam mencela aturan Allah yang jelas ada dalam Alquran. Jika ada yang jelek dari para pelaku poligami, bikin aturan pelaksana agar malpraktek dari poligami tidak terjadi, bukan menyerang aturan bolehnya berpoligami dengan syarat yang telah diatur di dalam Kitab Allah.

Dan Al Qur'an ini adalah suatu kitab yang mempunyai berkah yang telah Kami turunkan. Maka mengapakah kamu mengingkarinya? (Al Anbiyaa (21) : 50).

Dan cobalah sekali lagi rasakan, di manakah bisa diletakkan ”Surga itu berada di bawah telapak kaki Ibu” dalam paragraf perilaku para Ibu di atas.

Dan cobalah sekali lagi rasakan berapa banyak jumlah lelaki yang layak menjadi suami baik secara lahir (fisik, financial) maupun batin (kematangan emosi, intellegensia, spiritualitas) dibandingkan wanita yang layak sebagai istri. Kalau hanya sebagai pejantan.... banyak, tetapi tidak banyak yang layak sebagai suami. Sedangkan setiap wanita yang waras insya Allah layak menjadi istri dan punya hak untuk reproduksi. Dari sudut pandang ini supply dan demand memang tidak berimbang, ada gap sehingga selamanya akan ada wanita yang bersedia menjadi yang kedua asal memiliki suami, bukan hanya memiliki lelaki.

Mohon maaf jika tidak berkenan
Wassalamu’alaikum
ChAn
08122006

Sedih dan Lucu

Sedikitnya delapan orang meninggal dan 5 orang masih hilang sebagai korban ledakan pipa gas Pertamina di pusat semburan lumpur di Porong, Sidoarjo, Rabu (22/11), karena mengalami luka bakar hebat ataupun karena ditenggelamkan oleh lumpur.
Ledakan yang mengejutkan, dan kobaran api yang membumbung tinggi membuat wilayah sekitarnya terang-benderang itu, juga membuat warga sekitar mengeluhkan sesak napas. Kepanikan saat kejadian juga dilaporkan melanda warga di sekitar pusat semburan luapan lumpur, seperti warga Desa Siring, Jatirejo, Kedungbendo, Besuki, Mindi dan lainnya. Warga sekitar lokasi berteriak histeris dan berlarian untuk menyelamatkan diri. Ada yang berlarian ke penyeberangan jalan tol, maupun ke beberapa ruas jalan raya, termasuk ke jalan Jalan raya Porong-Malang.
----*----
Saat tulisan ini ditulis (23/11 malam) masih banyak daerah –diantaranya Surabaya, Sidoarjo, Porong tempat lumpur Lapindo- belum mendapatkan jatah kucuran hujan. Sepanjang hari kegerahan, siang sangat panas, dan pagi pun bukannya dingin tetapi hangat. Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) memprakirakan musim hujan tahun ini mundur sehingga berdampak suhu udara di Surabaya kecenderungannya terus meningkat makin panas, berkisar 25-37 derajat Celcius.
Sementara di Banyuwangi Pada musim kemarau seperti sekarang ini, warga Desa Curahjati yang sebagian besar berladang tidak bisa lagi menjalankan pekerjaannya sebagai petani. "Jangankan untuk mengairi ladang atau lahan persawahan, untuk keperluan mandi dan memasak sudah sangat terbatas," kata Kepala Desa Curah Jati, Purwoharjo, Banyuwangi, Suwarmin seperti dikutip Antara, Senin (14/11).
Berita sebelumnya lagi 29/08/2006, ratusan hektar lahan pertanian di Kecamatan Cawas, Karangdowo dan Bayat, saat ini terancam tak berproduksi. Masalahnya, areal di sana dilanda bencana kekeringan. Kondisi ini masih diperparah serangan hama ulat lagi. Tanaman padi dan palawija di sana kini layu. Sebagian lain sudah menguning, pertanda akan mati. Sedang tanaman palawija yang masih menghijau diserang hama ulat. ''Melihat kondisi ini, jelas bakal gagal panen,'' ujar Suroso (35), petani di Desa Tlingsing, Cawas, Klaten.
----- * -----

Apa yang dilakukan beberapa manusia menghadapi fenomena alam yang tidak biasa, yang sebenarnya merupakan akibat dari ulah tangan-tangan manusia sendiri yang telah berbuat kerusakan di muka bumi ?

Ribuan warga Curah Jati, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi, Jawa Timur menggelar ritual meminta hujan (Mantu Kucing), setelah kekeringan akibat musim kemarau berkepanjangan. Selain sebagai wujud permohonan berkah dari Tuhan Yang Mahaesa agar segera menurunkan hujan, ritual ini juga untuk melestarikan budaya masyarakat setempat.
Dalam pelaksanaannya, mereka berangkat dari rumah sesepuh tokoh masyarakat dengan iring-iringan kesenian jaranan, tiban. Sebelum berangkat mereka membawa nasi tumpeng ke tempat sumber mata air umbul yang berlokasi di tengah hutan karetan. Lokasi ini berjarak dua kilo meter dari perkampungan. Para warga secara sukarela membawa tumpengan ini untuk dihidangkan kepada warga yang ikut selamatan dalam acara ritual itu.
Kelompok pertama terdiri dua warga, masing-masing membawa dua kucing jantan dan betina, bersama para jogo tirto, yang diikuti kesenian jaranan bersama warga masyarakat. Setiba di lokasi umbul, dengan dipimpin salah seorang sesepuh membacakan mantra di seputar sumber mata air umbul. Acara ini ditandai dengan memandikan dua kucing jantan dan betina, dengan melepas kucing tersebut ke lubang, tempat sumber mata air umbul tersebut. Setelah dimandikan, pasangan kucing jantan dan betina itu dilepas kembali di sekitar lokasi sumber mata air umbul itu.
----- * -----
Ritual menyedihkan juga dilakukan sekelompok orang berpeci putih haji yang mengaku punya kemampuan supranatural untuk menghentikan semburan lumpur Lapindo. Kambing, ayam, dan sesajen dilemparkan dengan sia-sia ke dalam kolam lumpur panas dengan maksud menghentikan semburan.

Cobalah rasakan betapa keji dan sia-sianya perbuatan mereka. Untuk hal yang demikiankah binatang-binatang dan makanan tersebut dibuat Allah ? Astaghfirullah...

Menghentikan aliran air dari kran PDAM yang sedang mengalir dengan debit yang kecil saja mereka memanggil tukang ledeng, nggak bisa..., apalagi semburan lumpur berdebit 150 ribu m3 / per hari. Sementara itu atribut-atribut yang selama ini sering dikonotasikan sebagai atribut orang Islam selalu saja mereka kenakan, agar direpresentasikan sebagai orang Islam. Adakah ajaran Islam yang mengajarkan perbuatan keji dan sia-sia seperti ini ? Bukankah perbuatan keji dan sia-sia merupakan perbuatan syaitan dan kawan-kawannya ?

Belum lagi cerita menyedihkan tentang ulah sebagian orang yang bikin mampet pompa pembuangan lumpur Lapindo. Lembaran-lembaran Alquran disobek-sobek dikumpulkan dalam sarung dan kemudian dilemparkan ke pusat semburan Lumpur. ”Agar sembutan lumpurnya mampet,” katanya.

Bukannya menghentikan semburan lumpur, yang tejadi malah jadi sampah yang menyumbat lubang pipa intake ke pompa penyedot lumpur yang akan dibuang ke kali Porong.

Aneh… tetapi itulah kenyataan sebagian dari saudara kita yang mengaku Islam, atau menggunakan atribut-atribut keislaman yang digunakan secara pamer. Ajaran Islam dicampur aduk dengan warisan nenek moyang layaknya upacara Kesada, masyarakat Badui Tengger di Gunung Bromo yang melemparkan kambing, ayam, dan sesajen lainnya ke kawah gunung. Bahkan perkiraan saya -kalau bukan takut dianggap kriminal- golongan mereka ini akan mengorbankan para gadis perawan sebagai persembahan kepada sang hyang atau para dewa layaknya film-film Conan the Barbarian…

Sedih melihat penderitaan yang dialami para korban, tetapi kenapa harus menyikapinya dengan tindakan yang lucu-lucu dan tidak rasional seperti ini ?. Padahal Allah swt telah mengingatkan agar jangan hanya anut grubyuk tanpa landasan akal dan syara’, dengan semua apa yang dilakukan nenek moyang kita.

Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: "Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya." Katakanlah: "Sesungguhnya Allah tidak menyuruh perbuatan yang keji." Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui? (7:28)

Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul". Mereka menjawab: "Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak mendapat petunjuk ?. (5:104)

Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.(2:169) Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: ", tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari nenek moyang kami". ", walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?". (2:170) Dan perumpamaan orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja . Mereka tuli, bisu dan buta, maka mereka tidak mengerti. (2:171).

Lucu memang melihat dan mendengar ulah-ulah yang menggelikan dan tidak masuk akal, tetapi tentu saja sedih karena dakwah Islam ke saudara-saudara kita ini “tidak” sampai dengan benar. Masih banyak yang masih harus kita lakukan, minimal paling tidak mari kita sendiri kembali Alquran dan Hikmah yang ada di dalamnya. Baca terjemahannya dan mari kita jalankan dalam wujud amal sholeh -yang jauh dari sifat keji dan sia-sia- setiap hari.

Mohon maaf apabila tak berkenan, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

ChAn
24112006
pojok-chan.blogspot.com

Jendela Dunia Jendela Akhirat 2

Pada tulisan sebelumnya Jendela Dunia…Jendela Akhirat tanggal 12/5/2006 telah saya singgung betapa pentingnya kita baca dan khatamkan Al Quran -minimal terjemahannya- agar kita tahu dengan haqqul dan’ainul yaqin isi Al Quran ini. Bukan hanya dari omongan, e-mail, teman, guru ngaji, ustad, dsb. Karena Kitab ini merupakan :
§ Bacaan yang mulia, yang ada pada kitab yang terpelihara ( 56:77 – 78)
§ Kitab yang tidak ada keraguan padanya (2:2)
§ Kitab yang ayat-ayatnya disusun rapi dan dijelaskan secara terperinci (11:1)
§ Benar-benar tinggi (berkualitas) dan amat banyak mengandung hikmah. (43:4)
§ Merupakan Cahaya (42:52), dan mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang (14:1)
§ Merupakan Petunjuk dan penjelasan-penjelasan mengenai Petunjuk itu (sendiri) dan Pembeda antara yang haq dan yang bathil (2:185)
§ Kitab yang mempunyai Berkah (21:50)
§ Kitab yang menjadi Rahmat (16:64)
§ Kitab yang menjadi Obat Penawar (41:44) dari ruhani / hati yang gelisah (sakit), dan bahkan bagi yang hatinya bersih bisa menjadikannya sebagai obat penawar jasmani yang sakit.
§ Kitab yang sampai saat ini (1400 tahun) dan sampai akhir zaman tak akan ada yang mampu mengubah dan menandinginya.

Cobalah cari dan rasakan, adakah Kitab yang begitu jelas, tegas, gamblang, puitis, dan dalam bahasa yang indah –terutama dalam bahasa aslinya- dalam menjelaskan konsep ketuhanannya ?

Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa”.
Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia".
(Al Ikhlas 1-4)

atau cari dan rasakanlah dengan hikmat, adakah Kitab yang menjelaskan tentang konsep waktu dengan bernas seperti ini ?
Demi waktu (masa).
Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
(Al Ashr 1-3)

Siapa yang rugi dan siapa yang beruntung ? Yang beruntung ternyata bukan orang kaya, pejabat, jendral, cantik, Islam, Nasrani, Yahudi, Hindu, Budha, NU, Muhammadiyah, Persis, Hizbut Tahrir, Salafi, dsb. Ternyata yang tidak termasuk dalam orang-orang yang rugi adalah orang-orang yang beriman kepada Allah, dan merealisasikan imannya dalam amal sholeh, dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Tidak dalam kotak-kotak yang dibuat manusia seperti yang ada sekarang ini.

Lalu kenapa hanya karena berbeda tanggal Lebaran dan cara sembahyang saja lalu kita saling merendahkan ? Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Quraan itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu. (6:114)

Setelah puas dengan Kitabullah Al Quran, Kitab kedua yang selayaknya dan seharusnya kita selesaikan sebelum menyelesaikan kitab-kitab lainnya adalah kitab yang menginformasikan segala aktivitas Nabi Muhammad saw (Sunnah). Semuanya.....diamnya, sabdanya, pendapatnya, tindakannya, perilakunya dalam berinteraksi dengan sesama makhluk Allah dan juga dengan Allah itu sendiri. Kitab kedua ini biasanya wujudnya adalah kumpulan hadits. Tetapi Sunnah tentu saja bukan hanya tekstual sebagaimana secara eksplisit tertulis sebagai kumpulan hadits, tetapi juga mencakup situasi, spirit, semangat, dan konteksnya yang secara implisit terkandung dalam teks hadits tersebut.

Untuk mendalami As Sunnah, mengetahui kesehariannya Nabi dan merasakan ”suasana batin” perjuangan Nabi dalam melaksanakan tujuan hidupnya, memang lebih afdol apabila langsung dari sumbernya, kitab-kitab hadits. Sudah banyak kumpulan hadits yang telah disusun oleh para Imam Ahli Hadits (Diantaranya tujuh orang yang terkenal : Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah), tetapi ini tidak mudah bagi kita yang sibuk, biasa instant, dan bukan alumni pesantren. Shahih Bukhari misalnya terdiri dari 9 jilid buku dengan jumlah 7194 nomor hadits yang panjangnya tidak sama. Ada yang satu nomor hadits panjangnya 3-4 halaman, sehingga perlu waktu banyak untuk dapat menangkap sosok Nabi Muhammad saw tersebut dalam kesehariannya ?

Kendala waktu, tentu saja tidak lantas mengakibatkan kita mempelajari sejarah Nabi hanya melalui buku-buku tipis seperti yang diajarkan di pelajaran sejarah Islam (Tarikh) di sekolah-sekolah yang ada sekarang, yang –setahu saya- isinya sangat kering. Bagaimana tidak ? Sejarah Islam isinya banyak cerita tentang perang... perang Badar, Perang Uhud, perang Khandaq, perang Khaibar, dsb., dan tidak dijelaskan dengan baik dan panjang lebar bagaimana diplomasi telah dilakukan Nabi agar tidak sampai terjadi perang, bagaimana provokasi yang terus menerus dilakukan pihak lawan, hal-hal yang melatar belakangi kenapa sampai terjadi perang, dsb. yang bisa membuat pembaca sejarah tersebut merasakan suasana batin yang terjadi saat itu. Buku-buku sejarah Islam seperti ini layaknya buku pelajaran sejarah tentang Perang Diponegoro, yang ujung-ujungnya hanyalah untuk menjawab pertanyaan ujian, ”Kapan Perang Diponegoro terjadi ?”. "Di mana terjadinya ?" dsb.

Hilang ruhnya.... hilang apinya.... yang ada hanyalah asap yang memedihkan mata.

Dalam Sejarah Islam dan Sirah Nabi seperti ini, kita akan kehilangan ahlak mulia Nabi. Kita tak merasakan bagaimana Rasul tetap bersahaja, tidak menampakkan diri dalam gaya penguas atau raja. Rasul yang tak mau dipuja sebagaimana orang Nasrani memuja Isa anak Maryam. Rasul yang tak mau disambut dengan berdiri sebagaimana orang-orang yang ingin diagungkan satu sama lain. Begitu juga kita akan kehilangan akhlak mulia / perilaku Nabi lainnya.

Dalam bergaul dengan sahabat beliau, beliau duduk di mana saja tempat luang di antara sahabatnya. Beliau bergurau dengan sahabatnya, diajaknya mereka bercakap-cakap, anak-anak mereka-pun diajaknya bermain-main dan didudukkan dalam pangkuannya. Rasul selalu memenuhi undangan siapapun yang mengundangnya -dari budak, orang miskin sampai yang kaya raya-. Dikunjunginya orang yang sakit walaupun tempatnya jauh dipinggiran kota. Beliau memulai memberi salam pada siapa saja yang dijumpainya, dan lebih dulu mengulurkan dan menjabat tangan sahabatnya.

Dimaafkannya musuh dan orang-orang berbuat salah padanya, baik meminta maaf maupun tidak padanya. Bahkan orang-orang yang hendak membunuhnya dengan pedang, meracuninya dengan daging kambing beracun yang diberikan kepadanya, memfitnah istrinya sebagai penzina, dan menyantetnya... semuanya dimaafkannya.

Apabila ada tamu yang menunggu beliau ketika beliau sholat, dipercepatnya sholat beliau dan bergegas ditemuinya orang tersebut untuk dipenuhi keperluannya dan kemudian beliau melanjutkan ibadahnya. Beliau selalu tersenyum.

Dalam rumah tangga-pun Rasul tak segan-segan membantu beban keluarga seperti mencuci pakaian, menambal pakaian yang sobek, memerah susu kambing, menjahit terompah beliau, mengurus unta. Tak pernah sekalipun memukul anggota keluarganya, tidak pernah sekalipun Nabi mencela dan mencaci anak, dan beliau tak segan duduk makan bersama pembantu rumah tangganya.

Bila ada orang yang membutuhkan pertolongan, Rasul dan keluarganya pasti mengalah dan mendahulukan keperluan orang tsb sekalipun mereka sendiri dalam kekurangan. Tak ada yang disimpannya untuk besok sehingga tatkala Rasul wafat, baju besinya sedang digadaikan pada seorang Yahudi untuk mendapat sejumlah uang untuk keperluan keluarga beliau.

Rasul juga sangat menyayangi binatang. Beliau bangun dan membukakan pintu rumahnya untuk seekor kucing yang mencari tempat berteduh, merawat seekor ayam yang sakit, mengelus-elus kudanya dengan lengan baju beliau, dan mengingatkan Aisyah yang menarik-narik kekang untanya yang sedang 'mogok' agar bersikap lemah lembut pada hewan tersebut.

Dalam hal makanan, Rasul lebih sering makan makanan yang dimakan oleh masyarakat umumnya dan jarang sekali memakan makanan mewah. Dalam hal lapar, Rasul mempunyai prestasi yang sulit ditandingi sehingga ketika seorang sahabat datang dan menunjukkan betapa laparnya dia dengan meletakkan sejumlah batu untuk mengganjal perutnya, Rasul dengan rasa lapar yang lebih menunjukkan sejumlah batu yang lebih banyak untuk mengganjal perut beliau yang sudah 2-3 hari tak diisi.

Semua informasi akhlak mulia tersebut tentu tidak akan kita dapatkan apabila kita hanya belajar dari buku-buku tipis sejarah Islam. Entah siapa yang memulai dan kenapa pula sejarah Islam yang beredar dan diajarkan di sekolah-sekolah dan madrasah-madrasah, porsi cerita perang lebih banyak. Sepertinya sejarah Nabi itu isinya hanya perang, padahal sejarah kehidupan Nabi penuh warna dan sangat menyentuh sisi ruhani manusia, sampai-sampai WS Rendra pun menangis kalau dia membaca sejarah Nabi Muhammad saw (sumber : Republika 29/10/2006).

Ada buku yang menurut saya cukup representative, sebagai Jendela Akhirat kedua agar kita lebih mengetahui dan lebih mudah untuk mendapatkan suasana batin Nabi di masa hidupnya, Sejarah Hidup Muhammad, by Muhammad Husain Haikal. Meski buku ini dikarang sekitar tahun 1935, tetapi kualitas buku ini masih sangat bagus dan enak untuk dibaca sampai sekarang, paling tidak sebelum kita masuk ke dalam buku kumpulan-kumpulan hadits yang agak berat, atau Sirah Nabi yang lain.

Semoga bermanfaat
Wassalamu’alaiku warahmatullahi wabarakatuh
ChAn
101101

Wednesday, November 01, 2006

Kemuliaan (Tukang Becak)

Ramadhan telah lewat. Apa yang telah kita dapat ? Pengalaman ruhani apa yang telah kita gapai ? Implikasi apa yang dapat kita rasakan dalam kehidupan kita sehari-hari setelah Ramadhan ini ? Semakin beriman dan semakin senang beramal shalih ? Semakin senang menjalankan perintah Nya dan semakin jauh dari larangan Nya ? Insya Allah. Dan semoga saja Lebaran bukan merupakan antiklimaks dari ibadah yang kita lakukan.

Ramadhan dan Lebaran kali ini penuh warna, tanggal boleh beda tetapi makna tetap sama. Hati semakin bersih, nafsu semakin terkendali, dosa sudah dicuci, dan diri ini kembali fitri. Di samping suasana batin Ramadhan dan Lebaran yang sudah ama-sama kita rasakan -bagi yang menjalankan puasa-, ternyata di Ramadhan kali ini ada juga momen-momen duniawi yang tampaknya menarik kita simak dan cermati. Kenapa perlu dicemati ? Karena mungkin nantinya akan berhubungan dengan hajat kita di perusahaan kita. Ada pengurangan direksi, ada penyederhanaan organisasi, ada penutupan cabang, ada pembukaan cabang, ada orang-orang yang kehilangan pekerjaan, ada orang-orang yang kehilangan jabatan, dan kebalikannya ada juga yang dikejar jabatan, serta kisah lainnya yang berhubungan dengan jabatan, tahta, dan kekuasaan.

Perubahan adalah suatu keniscayaan, dan setiap perubahan tentu akan menciptaakan peluang dan juga cerita sedih. Ada banyak oportunity, tetapi tampaknya akan ada juga cerita sedih tentang jabatan dan kekuasaan bagi siapa saja yang tidak siap kehilangannya di masa-masa yang akan datang, di perusahaan ini. Organisasi tampaknya akan semakin flat, ramping, efektif, dan efisien. Perbaikan proses, job redesign, dan kemudian keluar outcome resources yang dibutuhkan, akan menjadi andalan ke depan. Dan who knows kita selanjutnya yang akan terima giliran. Bagi yang siap, pekerjaan, jabatan, dan kekuasaan hanyalah sekedar pakaian yang bisa saja setiap saat berganti model dan tampilan. Rezeki sudah disiapkan, tinggal ikhtiar dan kesiapan manusia untuk mendapatkannya. Meski siap... kadang kala sedih juga apabila kehilangan pekerjaan, jabatan, dan kekuasaan, apalagi yang tidak siap. Oleh karenanya tulisan ini ingin mengawali dan mengingatkan –termasuk diri saya sendiri- akan kemungkinan adanya gelombang perubahan yang tampaknya sebentar lagi akan datang menggilas orang-orang yang tidak siap kehilangan.

Bagaimana sih rasanya kehilangan jabatan direktur, misalnya ? Bagi yang tidak siap -menurut saya- rasanya mungkin hampir sama dengan tukang becak yang kehilangan becaknya. Sama-sama kecewa dan gelisah apabila tidak segera mendapat gantinya, sama-sama kehilangan 'mesin' pencetak uang yang sangat berarti dan penting bagi hajat hidup dan gengsinya. Meski sudah kaya, tentu mereka juga akan merasa kehilangan. Sama-sama kehilangan sesuatu yang sangat berarti, meski nilai nominalnya berbeda. Kalau tukang becak kehilangan penghasilan 30 ribu/hari tentu sangat berarti, sedangkan yang kaya kehilangan 3 juta/hari baru berarti. Tetapi rasa sedihnya sama, bedanya cuma tukang becak lebih beruntung... tidak sampai mengalami post power syndrom, karena power untuk nggenjot becaknya akan tetap ada selama suapan nasi masih tetap lancar melewati perutnya. Rasa kehilangannya juga hampir sama dengan PRT yang tidak kita perpanjang masa kontraknya, karena tidak sesuai dengan kriteria yang kita -sebagai juragan- harapkan.

Sebenarnya ada banyak hikmah yang dapat kita ambil kala kita amati kehidupan tukang becak, PRT, dan kaum senasib lainnya yang selama ini terpinggirkan. Ambillah contoh kala sangat jengkel terhadap pembantu, kadang kita tanpa sadar keluar omongan, ”Dasar bodoh...” atau ucapan lainnya yang senada. Tetapi pernahkah kita menyadari bahwa, ”Kalau dia pintar tentu dia tidak jadi PRT, dia akan jadi juragannya.”

Sebuah cerita yang terinspirasi ceritanya Cak Nun, terjadi di Surabaya. Di Surabaya masih banyak becak, dan untuk daerah / jalan-jalan tertentu becak dilarang lewat. Tetapi yang namanya tukang becak memang kebanyakan susah untuk diajak tertib dan taat aturan lalu lintas. Suatu saat sebuah becak sarat muatan sayur-sayuran nyelonong masuk dari arah berlawanan melewati jembatan yang searah dan sebenarnya verboden bagi becak. Mengetahui ada becak yang melanggar aturan lalu-lintas seorang polisi jaga menghentikannya dan menyuruhnya kembali.

"Priit... priit... heiiii... Cak, Cak mandeg ... Cak," teriak polisi lalu lintas mencoba menghentikannya.

"Nggak ngerti abot tah... ngengkoli maneh iku abot... Cuk," gerutu si tukang becak, cuek dan terus saja menggenjot becaknya. Sudah kepalang basah, terlanjur..., dan lagi jalan di jembatan tersebut agak naik, sehingga kalau berhenti dan kemudian mundur dengan muatan yang penuh sayur tentu sulit. Keputusan sudah diambil. Memang melanggar lalu lintas, tetapi jembatan itulah satu-satunya jalan tersingkat untuk mencapai pasar dengan muatan penuh sayur tersebut dengan sisa-sisa tenaga yang ada. "Biarlah ... asal aku tidak maling," begitulah alibi yang ada di benaknya.

Merasa tak digubris polisi tersebut marah dan berteriak mendampratnya, "Whoeee... guuoooblok"

"Gak goblok yo gak dadi tukang becak Pak..," jawabnya tenang dengan logat suroboyoan yang kental, sambil terus nyelonong.

Bagi saya ada sisi menarik dari kesadaran atas ”kegoblokan” diri ini. Kepolosan, kesederhanan sikap, dan kesadaran diri mereka seringkali menunjukkan keikhlasan dan kemuliaan mereka dalam menjalani hidup. Mereka tidak maling, korupsi, menyuap, menjilat, memfitnah, dan menjegal orang lain untuk menjadi tukang becak. Tidak banyak orang yang sadar ”kegoblokannya”. Tidak banyak orang yang ikhlas dengan potensinya dan kemudian menjalani hidup ini dengan mengeksploitasi potensinya sendiri tanpa iri, dengki, cemburu dengan potensi orang lain, atau berniat mencelakakan orang lain. Hanya orang-orang yang mulia yang sadar dengan potensinya, dan kemudian dia jalani profesi sesuai dengan potensi dan kesempatan yang ada bagi dirinya dengan sepenuh hati, tanpa harus menginjak, menjilat, menjegal, memfitnah, dan mencelakakan orang lain.

Coba bandingkan dengan orang yang haus dengan jabatan, kekuasaan dalam menjalani profesinya. Seringkali mereka membuat intrik-intrik, menginjak, menjilat, menjegal, memfitnah, santet, mencelakakan teman, dll untuk mencari/ melanggengkan jabatan dan kekuasaannya. Padahal yang namanya kekuasaan itu terbatas jumlahnya dan banyak orang berdesak-desak memperebutkannya.

Sebentar lagi gelombang itu akan datang, dan ada banyak pilihan untuk menghadapinya. Bertarung memperebutkan jabatan dan kekuasaan yang jumlahnya sedikit dan waktunya terbatas dengan segala cara, culas, dan saling sikut dengan teman sendiri untuk mendapatkannya, atau kita sadari potensi diri dan kemudian kita eksploitasi untuk kemuliaan diri. Kekuasaan jumlahnya terbatas, sedikit, dan orang berdesak-desakan memperebutkannya, sementara Kemuliaan itu jumlahnya banyak dan kita tak perlu berebut dengan orang lain untuk mendapatkannya. Di setiap profesi kita bisa membentuk kemuliaan diri, sehingga kita bisa menjadi manusia mulia di hadapan Allah tanpa harus ikut berdesak-desakkan memperebutkan kekuasaan. Tak perlu harus ikut-ikutan dalam intrik-intrik, jegal-menjegal, santet, dan fitnah demi mendapatkan jabatan / kekuasaan. Hidup memang pilihan, dan pilihan di jalan Nya adalah sebaik-baik pilihan.

Kekuasaan dan jabatan memang hanya sedikit jumlahnya, tetapi jika memang kita punya potensi dan kualitas prima, jabatan tersebut akan datang menghampiri kita. Tinggal anda pilih menerima atau menolaknya, tanpa harus mengurangi kemuliaan kita sebagai manusia.

Tantangan ke depan sangat berat bagi orang-orang yang tidak ikhlas dalam menjalani hidup ini, kegelisahan dan ketakutan akan melingkupinya. Dan hanya jiwa-jiwa yang tenang, yang telah dilatih selama sebulan ini yang dapat melaluinya dengan kemuliaan. Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku. (Al Fajr (89): 27-30)

Semoga bermanfaat. Selamat Idul Fitri 1427 H, mohon maaf lahir dan batin, taqabbalallahu minna wa minkum, taqabbal yaa Kariim.
Wassalamu’alaikum

ChAn
27102006
pojok-chan.blogspot.com

Friday, October 20, 2006

Mari Lebaran Berbeda Tanggal.... (19102006)

Dalam salah satu e-mail yang saya terima menginformasikan posisi bulan pada tanggal 22 Oktober 2006 sbb : Dalam perhitungan, memang seluruh kota-kota besar yang ada di Pulau Sumatra memang hilal telah wujud pada Ahad Pahing 22 Oktober 2006, artinya tanggal 23 Oktober 2006 sudah memasuki 1 Syawal. Saat hilal wujud (pertanda Bulan baru) di kota-kota besar di Sumatra adalah sebagai berikut: Banda Aceh (0º 16' 25") baca (Nol derajat enam belas menit dua puluh lima detik), Medan (0º 20' 24"), Padang (0º 38' 48"), Pakanbaru (0º 30' 18"), Bengkulu (0º 48' 29"), Palembang (0º 40' 30"), Jambi (0º 35' 40") dan Bandar Lampung (0º 50' 35"). Sedangkan kota-kota di Jawa, tinggi hilal di Serang (0º 52' 04"), Jakarta (0º 51' 03"), Bandung (0º 53' 03"), Semarang (0º 48' 23"), Yogyakarta (0º 46' 58") dan Surabaya (0º 45' 20") Untuk Kepulauan Nusa Tenggara, Denpasar (0º 46' 47"), Matarama (0º 45' 05") dan Kupang (0º 38' 28"). Untuk Kalimantan, Pontianak (0º 19' 49"), Palangkaraya (0º 21' 46"), Banjarmasin (0º 25' 18"), dan Samarinda (0º 08' 28"). Untuk Sulawesi, Makassar (0º 24' 40"), Kendari (0º 14' 13"), Palu (-0º 05' 31"), Gorontalo (-0º 05' 46"), dan Manado (-0º 12' 36"). Untuk Maluku dan Papua, Ambon (0º 02' 32"), Ternate (-0º 18' 09"), Manokwari (-0º 17' 33"), dan Jayapura (-0º 42' 22"). Atau dari berpuluh-puluh ibu kota propinsi di Indonesia yang hilalnya belum wujud hanya Palu, Gorontalo, Manado, Ternate, Manokwari dan Jayapura. Bahkan untuk di Papua, Merauke yang terletak di ujung Timur Indonesia tinggi hilal sudah positip (0º 01' 31").

Sementara e-mail lainnya memberi argumentasi lain, mengenai tidak bisa digunakannya metode hisab sebagai landasan syar'i menentukan Lebaran
Pertama, adanya dalil yang qath'i baik secara tsubut maupun secara dilalah yang mengharuskan rukyatul hilal, khusus untuk menetapkan awal Ramadhan dan awal Syawwal. Sebagaimana hadits Dari Ibnu Umar ra. berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Bila kalian lihat hilal, maka berpuasalah. Dan bila kamu melihat hilal maka berLebaranlah. Tapi kalau tidak nampak oleh kalian, maka kadarkanlah (hitunglah)." (HR Muttafaq 'alaihi). Maka semata-mata mengandalkan ilmu hisab, jelas merupakan sebuah pelanggaran atas dalil nash yang sharih. Berbeda dengan penetapan waktu shalat yang tidak ada perintah untuk melihat, jadi boleh dengan memperkirakan atau memperhitungkan.

Kedua, ternyata ilmu hisab pun tidak semuanya valid. Meski sudah menggunakan rumus yang banyak serta perhitungan yang njelimet, tetapi hasilnya seringkali tetap berbeda. Begitu banyak ahli hisab yang mengeluarkan hasil hitung-hitungan yang satu dengan yang lain saling berbeda. Ada banyak faktornya, tetapi yang terpenting adalah bahwa ilmu hisab pun tidak pernah lepas dari perbedaan versi.

Alhamdulillah jika kita akan berbeda lagi dalam melaksanakan Lebaran kali ini. Ya... alhamdulillah karena libur lebarannya tambah panjang..., waktu silaturrahmi semakin panjang..., dan masyarakat akan semakin cerdas dan lentur dalam menyikapi perbedaan. Semakin cerdas karena kita jadi tahu bahwa menentukan tanggal 1 penanggalan lunar system itu ada cara perhitungannya, ada ilmunya, dan gampang bagi para ahlinya. Menentukan waktu gerhana bulan saja bisa sampai ke detiknya kok menentukan tanggal 1 Syawal saja kebingungan. Semakin cerdas karena kita tahu bahwa waktu-waktu shalat ditentukan dengan hisab bukan dengan melihat matahari, sehingga shalat tidak diundur jadwalnya hanya karena matahari tertutup awan. Semakin cerdas, karena kita tahu bahwa Indonesia itu negara dengan wilayah yang luas, mempunyai 3 wilayah waktu yang berbeda, sehingga sangat mungkin terjadi daerah wilayah WIB sudah masuk tanggal 1 Syawal sementara wilayah WIT belum masuk tanggal 1 Syawal. Semakin cerdas karena menjadi terbiasa dengan perberbedaan. Di samping semakin cerdas juga semakin lentur dalam menyikapi perbedaan tanggal lebaran. Cobalah kalau kita tetap bersitegang dengan perbedaan ini, apa yang terjadi.

"Sudah Lebaran kok masih puasa... haram," kata yang sudah berlebaran dan tidak berpuasa lagi.

"Masih Ramadhan kok nggak puasa ... berdosa," jawab mereka yang masih puasa dan belum berlebaran.

Apalagi kalau sudah pakai dalil hadits athii'u Allah, wa athii'ur Rasul, wa ulil amri minkum, taatlah kepada Allah, kepada Rasul, dan kepada pemimpin di antaramu, lalu ulil amri tersebut ditafsirkan sepihak sebagai Pemerintah. Kemudian karena penanggalan pemerintah lebarannya tanggal 24 maka kalau berlebaran tidak sesuai dengan pemerintah dianggap sebagai pemberontak, pembangkang (bughot). Apa nggak ruwet ? Semua pihak mengklaim dirinya yang paling benar dan paling sesuai syara' .

Orang yang sudah berpuasa sungguh-sungguh selama 29 atau 30 hari, sudah menjalankannya dengan baik hanya karena Allah swt semata, mendapatkan rahmat, maghfirah, dan pembebasan dari api neraka, kemudian hanya karena berbeda tanggal merayakan lebarannya kita anggap melakukan tindakan haram, pemberontak, dan dosa ? Apa nggak lucu ? Padahal apa sih esensinya orang beriman menjalankan ibadah puasa Ramadhan ? Al Baqarah:183 telah menjelaskannya agar terjadi peningkatan kualitas manusia menjadi orang-orang yang taqwa.

Jika proses penggemblengan selama 29 atau 30 hari Ramadhan telah dijalaninya dengan baik, apa sih artinya lebaran secara essensi ? Masak orang yang sudah diloloskan Allah swt sebagai orang yang taqwa malah mendapat gelar pendosa hanya karena berbeda tanggal lebaran. Apa iya.... ?

Lebaran hanyalah sekedar limitasi waktu berakhirnya ibadah puasa dan sunnahnya ada ritual untuk merayakannya. Masing-masing orang punya keyakinan dan cara menentukan limitasi waktu berakhirnya bulan Ramadhan ini, dan kemudian merayakannya. Eloknya sih bersamaan..., tetapi selisih sehari karena perbedaan persepsi insya Allah tak ada masalah, selama masih dalam range 29 atau 30 hari puasa.

Selama hidupnya Nabi Muhammad saw hanya sekali berpuasa Ramadhan yang lamanya 30 hari, sedang di tahun-tahun lainnya 29 hari saja. Dan lagian batasan untuk menyelesaikan limitasi waktu puasa Ramadhan saat itu sederhana saja, apabila terlihat bulan tanggal 1 dan apabila tidak terlihat -tertutup awan misalnya- digenapkan menjadi 30 hari. Lentur bukan.... ? Lalu kenapa kita pengikutnya sekarang ini menjadi sangat rigid ? Sebenarnya banyak ajaran Nabi yang sebenarnya lentur kita buat tafsirnya secara kaku, misalnya batasan akhir makan sahur. Waktu imsak itu masih boleh makan, bahkan ada hadis yang menceritakan bahwa meskipun azan Subuh sedang berkumandang, kalau masih ada makanan di mulut / di tangan, makanan tersebut ditelan /diselesaikan, bukannya kemudian dibuang sia-sia. Tetapi kita buat aturan sendiri waktu imsak sudah tidak boleh makan. Apa di luar Jawa, di luar negeri ada imsak ?

Yah... nggak apa-apa lah beda tanggal lebaran, wong Indonesia itu memang luas, kalau disuruh berbarengan semua se Indonesia ya susah. Yang sudah masuk lebaran tanggal 23 Oktober ya rayakanlah Lebaran, yang belum masuk 1 Syawal (sebagian kecil Indonesia Timur) ya nggak usah ikutan lebaran tanggal 23 Okt, lebarannya tanggal 24. Nggak usah dibuat susah yang lentur saja.... yang penting Ramadhan itu 29 atau 30 hari, seperti yang dilakukan Nabi, bukan 28 atau 31 hari.

Sehingga kalau saya ditanya, "Boleh nggak kalau tanggal 23 nya berbuka dan kemudian shalat lebarannya tanggal 24 ?"

Akan saya jawab, "Lho ya boleh-boleh saja kan... ? Asal jumlah hari puasanya tidak 28 atau 31 hari. Wong nggak sholat lebaran saja boleh... "

Apakah shalat lebaran diwajibkan ? Tidak kan... hanya sekedar sunnah, yang menjalankan dapat pahala dan tidak apa-apa bagi yang meninggalkannya.

Jadi gampang tho ? Anda mungkin tidak sependapat dengan saya, tak ada masalah, karena masalah keyakinan kalau dijadikan bahan debat nggak akan ada habisnya.... Tetapi semoga saja tim rukyat Depag dan NU Minggu 22 Oktober 2006 berhasil melihat bulan, sehingga indahnya lebaran bersama semakin terasa. Amiiin.

Selamat Lebaran Idul Fitri 1427 H
Taqabbalallahu minna wa minkum, taqabbal ya kariim,
Minal aidin wal faidzin,
Mohon maaf lahir dan batin

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

ChAn
19102006

Monday, October 16, 2006

Orang-orang Yang Dicintai (?) -13102006

Perode sepuluh hari kedua dari bulan Ramadhan yang penuh maghfirah (ampunan) akan kita lewati hari ini. Sudahkah kita mendapatkan bagian rahmat dan ampunan dari 20 hari yang telah kita lewati ? Adakah dua puluh hari bulan Ramadhan ini telah mengubah kita semakin mendekati orang yang taqwa, sebagaimana tujuan diwajibkannya puasa bagi orang-orang yang beriman (2:183) ? Adakah kita semakin mengenal Nya (makrifatullah) dan bergetar hati kita begitu ‘berjumpa’ dengan Nya ? Bukan hanya di masjid dan sajadah, tetapi juga di luarnya, karena Dia juga bisa ditemukan di pasar, di kantor, di gunung, di jalan raya, di angkot, di wajah kaum dhuafa, di setiap bentuk makhluk ciptaan Nya, dan di setiap peristiwa. Hanya masing-masing diri kita sendiri yang tahu dan merasakannya. Atau hanya sekedar lingkar pinggang saja yang semakin kecil ? Subhanallah

Idealnya bulan pelatihan ini minimal menghasilkan peningkatan rasa sabar dan pemaaf karena telah dilatih mengendalikan hawa nafsu. Menghasilkan pula peningkatan rasa syukur karena telah dilatih berempathy merasakan bagaimana menderitanya menjadi kaum dhuafa yang kebutuhan dan keinginannya tidak bisa terpenuhi. Sabar, pemaaf, rasa syukur, empathy dan mau berbagi terhadap sesama akan berimplikasi pada ketahanan mental yang kokoh dalam menghadapi segala cobaan hidup. Cobaan hidup memang beragam, tetapi orang yang telah sukses melalui Ramadhan tentu jiwanya sehat dan pantang berputus asa dalam menghadapi hidup, dan insya Allah mereka-mereka ini tidak akan termasuk dalam 873.000 orang pertahun yang bunuh diri, dan juga bukan anggota dari 450 juta orang yang mengidap gangguan mental di dunia ini, saat ini (sumber: release WHO yang baru saja merayakan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia pada tanggal 10 Oktober kemarin). Mengerikan bukan... ? Yang bunuh diri jauh lebih besar daripada jumlah kematian akibat perang, dan yang terkena gangguan mental pun +/- 2 kali jumlah penduduk Indonesia. Astaghfirullah

Cobaan bisa dengan berlimpahnya harta kekayaan, tingginya pangkat, dan besarnya kekuasaaan, tetapi juga bisa karena Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (2:155).

Apakah orang-orang yang diberi cobaan tersebut adalah orang-orang yang diabaikan Nya ? Menurut saya tidak .. bahkan mereka ini sebenarnya adalah orang-orang yang dicintai dan akan dinaikkan level kualitasnya sebagai manusia apabila sabar dan lolos dari cobaan tersebut. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (2:157) Dan di ayat lain Allah menginformasikan bagaimana beruntungnya orang-orang yang sabar dan berbuat kebaikan Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. Bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (39:10)

Demikian pula orang yang sedang dihukum di dunia ini dan kemudian mereka menjalaninya dengan ikhlas sebagai penebus atas segala kesalahan yang telah dilakukan. Mereka sebenarnya juga termasuk orang-orang yang dicintai Nya, karena diberi kesempatan untuk 'membersihkan dirinya' di dunia ini. Di satu sisi mungkin kita melihatnya sebagai penjahat atau pendosa yang menjalani akibat dari kejahatan dan dosa yang telah dilakukannya. Ya… tetapi bisa jadi endingnya mereka ternyata lebih mulia daripada kita. Mengapa ? Karena (mungkin) kita sama, bahkan lebih jelek dari mereka tetapi Allah masih ‘mengijinkan’ aib kita tertutup. Coba bayangkan kalau kemudian kita tak mau / tak punya kesempatan menyelesaikan aib kita tersebut di dunia ini, sehingga nanti di akhirat ‘ditagih’ oleh pihak-pihak yang kita rugikan selama di dunia ini, apakah kita masih menjadi orang-orang yang beruntung ? Coba buka topeng kita dan bercermin… bukankah banyak aib kita yang masih tertutup ? Bagaimanakah kalau aib tersebut terbuka, dibuka, dan diketahui oleh suami, istri, tetangga, teman kerja, perusahaan, dsb. ?

Sungguh… apakah kita tidak melihat, bahwa mereka yang telah menjalani hukuman di dunia ini dan kemudian bertobat dengan sungguh-sungguh juga sebagai orang yang dicintai Nya ? Mereka diberi peringatan, dibuka aibnya, dan kemudian diberi kesempatan untuk menyucikan dirinya di dunia ini. Semua kesalahan telah impas diselesaikan di dunia ini. Hukuman, penjara, denda, qishash, kaffarat, pemecatan, dll. akibat kesalahannya telah dijalani, impas… tinggal lagi menyelesaikan masalah dengan Allah yang lebih private dan mudah.

Kenapa lebih mudah ? Karena apapun dosa yang telah kita lakukan kepada Allah –selama bukan dosa syirik/menyekutukan Nya- akan diampuni, asal kita bersungguh-sungguh memohon ampun kepada Nya. Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (4:48). Oleh karenanya meski 20 hari bulan istimewa ini telah kita lalui, sungguh sayang apabila di sisa hari bulan ini dilewati dengan sia-sia. Mari kita perbanyak istighfar, taubatan nasuha, apalagi di bulan yang di design khusus dengan limpahan rahmat, ampunan, dan nikmat Nya.

“Hak Allah atas hama-hamba Nya ialah mereka harus menyembah Nya dan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu” dan “Hak hamba atas Allah ialah Dia tidak berhak menyiksa mereka, apabila mereka (hamba) telah mengerjakannya (menyembah dan tidak menyekutukanNya) ” (HR Bukhari no. 6182)

Mari kita gapai semaksimal mungkin di 10 hari terakhir ini ... siapa tahu kita tidak bisa lagi berjumpa dengan Ramadhan di tahun depan.

Wassalamu’alaikum
ChAn
13102006

Wednesday, October 04, 2006

Yang Ada Hanyalah Cinta Yang Lain (15092006)

Sudah beberapa kali saya menulis tentang cinta di rubrik ini, dan untuk kesekian kalinya topik tentang cinta saya angkat kembali. Cinta memang tidak pernah membosankan, selalu terasa fresh meski diulas banyak kali, layaknya produksi lagu-lagu bertema cinta yang tetap enak didengar meski temanya sama saja. Tentu saja kali ini saya tidak berbagi cerita tentang lagu cinta, saya hanya ingin berbagi cerita cinta berdasarkan pengalaman dan pengamatan perilaku manusia di kehidupan sehari-hari di sekitar kita.

Yang sudah berkeluarga tentu masih ingat bagaimana gundah-gulananya hati pada calon istri / suami di saat cinta masih menggelora. Atau bagi yang saat ini sedang jatuh cinta, tentu akan sangat merasakan bagaimana cinta begitu bergejolak dan mendominasi kehidupan kita. Sedang makan ingat dia, sedang duduk ingat dia, sedang berdiri ingat dia, sedang tidur ingat dia, sedang bercermin yang muncul adalah wajahnya, begitu antusias apabila diajak berbincang tentang dia, dan apapun dilakukan demi dia. Dunia terasa hanya milik berdua, sehingga penyanyi kondang alm. Gombloh membuat perumpamaan yang pas tentang kondisi orang yang sedang jatuh cinta "tai kucing pun terasa coklat"

Rasanya... ketika cinta begitu menggelegak di dalam diri, kita tak mampu menolak permintaan sang pujaan hati, tidak mampu berkata tidak ketika dia ingin mengajak kita bercengkerama, tidak membantah ketika dia memohon agar kita tak berbuat cela, selalu ingin membuatnya bahagia, dan ketika cinta berbalas kita sendiri juga sangat bahagia.

Waktupun berlalu... Hati yang selama ini hanya terisi cintanya, mulai dibagi untuk gacoan lainnya. Entah apa namanya… pacar lain, selingkuhan, atau teman tapi mesra (ttm), tetapi yang jelas fokus perhatian dan emosi mulai terbagi. Pribadi-pribadi yang seperti ini menjadi asing dan aneh, tampak mempunyai dua kepribadian. Halus dan lembut dengan kekasih sejati (istri /suami) ketika berada di rumah, tetapi menjadi liar, kurang ajar, dan menyakitkan ketika sudah berada di luar jangkauan. Bagaimana tidak menyakitkan... komitmen yang sudah dibangun ketika akad nikah, kemudian dengan seenaknya dilanggar hanya karena terpikat dengan wanita / lelaki lain.

Dalam berhubungan dengan sang Pencipta pun kita kadang demikian juga.
Komitmen sebenarnya sudah kita teken ketika kita akan dilahirkan ke dunia. Jiwa kita sudah sepakat, komit, setuju, dan berjanji kepada Allah bahwa kita akan menuhankan Nya dan tak akan pernah menduakan Nya. Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) : "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lengah terhadap ini ", atau agar kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu ?" (Al A'raaf (7) : 172-173).

Sebenarnya apabila manusia ini tetap komit dengan kontrak yang telah dibuatnya, tentu hatinya akan dipenuhi dengan cinta kepada Nya, menjadi orang-orang beriman, orang-orang berakal, orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi : "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Ali Imran (3):191). Selalu teringat kepada Nya dalam kondisi duduk, berdiri, berbaring tersebut menunjukkan ciri-ciri dari orang-orang yang hatinya sedang dipenuhi rasa cinta. Cinta kepada siapa ? Tentu saja kepada Allah swt... karena yang selalu diingat hanyalah Dia.

Kalau rasa cinta ini sudah begitu dahsyatnya menghunjam di hati, tentu saja dalam posisi apapun kita akan ingat kepada Nya. Apalagi dalam posisi shalat. Posisi yang seharusnya menjadi media bercengkerama yang intens dengan Nya. Tak ada yang lain selain Dia. Apapun yang diperintahkan dengan senang hati dilakukan dan apapun yang dilarang akan dengan senang hati pula ditinggalkan. Semuanya diberikan untuk Nya. Sehingga dalam mencinta yang berbalas seperti ini pasti bahagia seperti berbalasnya cinta kita kepada kekasih di saat remaja. Dalam mencinta seperti ini pasti kan terasa manisnya iman.

Cinta-cinta kepada yang lain bagaimana ? Cinta kepada yang lain yang muncul darinya hanyalah ekspresi dari gelegak rasa Cinta kepada Nya.

Kalau sudah begini keadaannya... apakah perlu pelatihan shalat khusyu' yang jutaan rupiah harganya ? Tentu tidak... karena khusyu’ memang bukan monopoli orang berduit, khusyu’ diberikan kepada orang-orang yang hatinya penuh rasa cinta kepada Nya. Khusyu’ akan datang dengan sendirinya seiring dengan penuhnya rasa Cinta.

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. (Al Mukminun (23) : 1-5 dan 8-11

Kemudian dunia -layaknya wanita cantik- begitu menggoda sehingga hati kita mendua, melupakan Nya, memenuhinya dengan cinta-cinta yang lain, harta, tahta, wanita, dengan pola cinta yang terpisah dan bukan merupakan ekspresi Cinta kepada Nya. Kita mulai ingkar terhadap komitmen yang telah kita buat kepada Nya. Biasanya kalau hati ini sudah diisi dengan yang lain tentu tak akan ada lagi cinta murni kepada Nya, tak ada lagi ciri-ciri dari orang yang sedang dimabuk cinta kepada Nya, tak ada lagi ciri-ciri orang yang beriman dan berakal, lalu bagaimana bisa khusyu’ ? Apalagi ingin merasakan manisnya iman ?

Rasa-rasanya berapapun uang yang dikeluarkan untuk pelatihan, kalau hati ini kosong dari rasa Cinta kepada Nya... tak akan bisa khusyu'. Baru takbiratul ikram sudah ingat pekerjaan yang belum diselesaikan, saat baca salah satu surat Al Quran terlintas wajah cantik dan desah napas yang pacar, saat ruku' ingat janji bisnis dengan teman, saat sujud ingat makanan, tahiyat akhir ingat sepatu yang belum dimasukkan loker penitipan, pikiran jadi bertanya-tanya Fatehahnya sudah dibaca apa belum ?, dan banyak lagi ganggunan yang kadang membuat kita lupa jumlah rakaatnya. Memang cinta kepada selain Nya seringkali membuat hati khawatir dan gelisah, karena memang telah menyalahi fitrahnya manusia. Takut kemalingan, takut kehilangan pacar, takut kehilangan tempat bersandar, bahkan takut kehilangan sandal.

Kalau kebanyakan takut dan gelisah, bagaimana bisa khusyu’, apalagi merasakan lezatnya iman ? Hanya rasa Cinta kepada Nya lah yang membuat seseorang merasakan lezatnya iman.
Rasa memang tidak bisa diungkapkan dengan kata, harus dilakoni, dijalani, dan dirasakan. Bagaimana bisa kukatakan rasa manisnya gula jika engkau tidak pernah merasakan dan mencicipi gula ? Bagaimana bisa kita rasakan lezzzzzzaatnya iman jika kita tidak menjalani perilaku dan syarat-syarat menjadi orang beriman ?

Mohon maaf apabila tulisan ini terasa menggurui, karena tulisan ini sebenarnya untuk menggurui diri saya sendiri agar hati ini selalu dan hanya terisi Cinta kepada Nya. Agar jiwa ini merasakan lezatnya iman.

Mari kita gapai bersama-sama, semoga Allah memberikan kekuatan agar kita selalu di jalan Nya. Amiiin.

Wassalamu’alaikum
ChAn
15092006

Jangan lupa cintailah produk anak negri, jika ada substitusinya jangan pilih dan beli barang dan jasa dari para penjajah.

Baiti Jannati (29092006)

Baiti jannati, rumahku adalah surgaku begitulah Rasullullah menggambarkan rumah tangganya. Membahas tentang baiti jannati tentu saja kurang mantap dan dalam apabila dilakukan oleh orang-orang yang hanya belasan tahun saja berrumah tangga, belum terbukti atau membuktikan diri bisa awet sampai kakek nenek, seperti saya. Tetapi karena sudah terlanjur janji memberi kado tulisan buat seorang teman yang baru menikah, maka saya beranikan diri untuk membahasnya di sisa hari dari sepertiga awal bulan Ramdhan yang penuh kasih sayang Allah ini, kasih sayang yang melebihi kasih sayang ibu kepada anaknya.

Cerita tentang bagaimana besarnya kasih sayang Allah kepada manusia ada dalam salah satu hadits riwayat Bukhari. Suatu ketika Nabi mengunjungi tawanan Yahudi bersama beberapa sahabat. Dilihatnya seorang wanita Yahudi yang jadi tawanan sedang menyusui anaknya. Selesai anaknya disusuinya pula anak-anak orang lain yang perlu menyusu. Sampai-sampai para sahabat terenyuh dan kagum terhadapnya. Begitu sayangnya ibu tersebut kepada anak-anak. Kemudian Nabi bertanya kepada sahabat, "Apakah wanita tersebut tega melemparkan anaknya ke neraka ?". "Tentu tidak," jawab sahabat. Maka Nabi pun bersabda "Kasih sayang Allah jauh lebih besar dari rasa sayang ibu tersebut kepada anaknya." Dan di hadits lainnya di HR Bukhari dijelaskan bahwa kasih sayang yang diberikan kepada semua makhluk Nya dan kemudian diekspresikan oleh para makhluk Nya tersebut hanyalah sebagian kecil dari 1% kasih sayang Allah, sedangkan yang 99% masih di tangan Allah yang akan diberikan kepada orang-orang yang dicintai Nya. Begitu besarnya rahmat Allah, sehingga menurut saya apabila ada yang tak bisa menggapai rahmat tersebut tentu karena begitu dlalim dia terhadap dirinya sendiri. Alangkah ruginya apabila kita lewati 10 hari pertama Ramadhan ini dengan kesia-siaan.

Kembali kepada baiti jannati, rumahku surgaku, rumah dalam frasa kata tersebut tentu saja bukan rumah dalam arti fisik (house) tetapi lebih rumah batin (home), sehingga terasa sebagai surga. Surga di rumah batin tidak tergantung kepada megah tidaknya rumah dan mewahnya perabotan, tetapi lebih tergantung pada interaksi batin di antara para penghuninya. Interaksi batin dari suami, istri, anak-anak, dan anggota keluarga lain yang ada di dalamnya. Betapa banyak rumah mewah yang di dalamnya ternyata dihuni pasangan-pasangan yang gelisah dan saling gugat, karena mereka sibuk dengan rumah fisiknya tetapi menelantarkan rumah batinnya.

Nabi sendiri menjalani kehidupan rumah tangganya secara sederhana dan sangat bersahaja. Meski merupakan surga, rumah Nabi bukanlah istana –kalau mau tentu mudah bagi Nabi membangunnya karena Beliau adalah pemimpin bangsa, kekuasaan ada di tangannya, dan kunci dunia telah diberikan Allah padanya-. Rumah Nabi untuk masing-masing istrinya hanyalah sebuah rumah kecil satu kamar yang terbuat dari batu bata anti api dengan beratapkan pelepah kurma, untuk masing-masing istrinya. Luas setiap rumah masing-masing istri Nabi tersebut hanya sekitar 5x4 m2 dengan tambahan halaman belakang 5 X 3,5 m2 dan jika seseorang berdiri di dalamnya, maka tangannya dapat menyentuh atap. RSS memang..., tetapi kesederhanaan tersebut ternyata merupakan surga bagi Nabi, tempat yang selalu dirindukan sebagai tempat kembali setelah kemanapun Beliau pergi. Kenapa demikian ? Karena di dalamnya ternyata ada sakinah, mawaddah, dan rahmah. Ada ketenangan, cinta, dan kasih sayang.

Bagi yang sudah menikah -apalagi yang baru saja nikah- atau yang pernah menghadiri akad nikah pasti pernah mendengar khutbah nikah dari naib / penghulu / penceramah pada acara akad nikah tersebut yang pada umumnya bercerita tentang "bagaimana mewujudkan keluarga yang sakinah ma waddah wa rahmah, keluarga yang tenang, penuh cinta, dan kasih sayang". Ada banyak penjelasan di dalamnya, tetapi kalau kita summary biasanya adalah adanya saling menghargai dan saling melindungi dari masing-masing pihak (suami istri) dalam menjalankan fungsi dan perannya, serta adanya uswatun hasanah. Hubungan saling menghargai dan saling melindungi ini digambarkan dalam Al Qur’an dengan indah …mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. (Al Baqarah (2):187).

Melindungi –terutama bagi pasangan-pasangan muda- mungkin mudah, karena situasinya masih layaknya orang pacaran, sayang-sayangan. Pintu mobil masih dibukakan, lecet sedikit si lelaki sudah bingung setengah mati, istri dilirik orang mata sudah melotot, istri dilindungi layaknya menjaga vas bunga yang nggak boleh pecah. Tetapi untuk saling menghargai ? Bukan hal yang mudah, apalagi dalam masyarakat yang budaya patriarchies-nya masih sangat kental. Budaya dimana laki-laki mempunyai banyak keistimewaan dan menempatkan wanita hanya sebagai konco wingking (teman untuk urusan belakang, dapur, dan kamar tidur).
Bukan hal yang mudah menurunkan ego laki-laki yang biasa berkuasa untuk bisa menghargai pasangan, bahkan kadang menjadi masalah besar dan ujung-ujungnya adalah bubar kalau tidak bisa diselesaikan. Contoh kecil dalam membantu urusan domestic rumah tangga yang biasa dikerjakan sang istri misalnya, nggak semua laki-laki mau mengerjakannya. Banyak yang gengsi dan takut tak disebut laki-laki kalau membantu urusan domestic rumah tangga seperti mencuci, ganti popok, dan membuatkan susu bayi di malam hari ketika sang ibu kelelahan mengurus bayinya, padahal kalau mau mencontoh Nabi, banyak hadits yang mejelaskan dan mencontohkan bagaimana Nabi Muhammad ikut membantu urusan domestic rumah tangga istrinya ketika Nabi berada di rumah.

Pada usia-usia perkawinan di bawah tiga sampai lima tahun biasanya rentan dengan masalah saling menghargai ini, sehingga harus ada take and give untuk mencapai suatu titik equilibrium yang baru yang khas untuk masing-masing pasangan agar biduk rumah tangga bisa terus melaju. Jika hal ini terlewati biasanya tahun-tahun perkawinan berikutnya akan semakin smooth.

Faktor lain yang membuat rumah batin terasa sebagai surga adalah hadirnya anak-anak yang sedap di pandang mata. Dalam logika normal –dengan hidayah Allah perkecualian tentu saja ada- anak-anak yang ’sedap dipandang mata’ tidak akan dapat dihasilkan apabila tidak ada role model yang dipakai anak-anak tersebut sebagai referensi tumbuh kembang mereka. Tentu absurd apabila kita berharap anak yang sholeh sementara diri kita sendiri amburadul. Janganlah berharap anak yang sopan jika diri kita sendiri tak tahu adat, janganlah berharap anak rajin mengaji jika diri kita tak memberi contoh rajin mengaji. Jangan berharap anak yang tidak durhaka, jika diri kita sendiri anak durhaka. Perlu praktek, perlu contoh lebih dahulu dari para orang tua yang ’sedap dipandang mata’ sebelum berharap anak keturunan yang ’sedap dipandang mata’ juga. Kita tak bisa hanya ngomel menasehati saja (mauidhoh hasanah), harus ada contoh (uswatun hasanah)

Ada banyak lagi arahan agar bisa membentuk rumah surga, tetapi kalau kita kaji lebih dalam lagi dan lebih sederhana, sebenarnya baiti jannati hanya akan terbentuk apabila sang suami adalah orang yang bertakwa, uswatun hasanah, sedangkan istri dan anak-anaknya adalah orang-orang yang tidak menyakitkan hati, orang-orang shalih dan shalihah, orang-orang yang sedap dipandang mata, sebagaimana firman Allah dan biasa kita mintakan dalam doa-doa kita kepada Nya sesudah shalat Rabbanaa hablanaa min azwajina wa dzurriyyaatinaa qurrata a’yun wa ja’alnaa lil muttaqiinaa imaamaa "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati , dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa".(Al Furqan (25):74).

Kalau sudah begini adakah tempat lain di dunia ini yang lebih indah, lebih tenang, lebih penuh cinta dan kasih sayang, dari pada rumah (home) ?
Semoga bermanfaat
Wassalamu’alaikum
ChAn
29092006

Tuesday, September 05, 2006

Tuhan Itu Hanya Ada di Tong Sampah (01092006)

Tahukah bahwa pada tanggal 12 Juni 1952 di sidang darurat kaum Yahudi Dunia, seorang pendeta Yahudi Eropa, Emanuel Robinovich, pendeta tertinggi Yahudi berkata, ''Untuk mencapai tujuan akhir kita bisa saja memerlukan cara yang menyedihkan seperti kita lakukan pada masa Hitler, yaitu kita sendiri mengatur terjadinya peristiwa penindasan terhadap sebagian bangsa kita sendiri. Dengan kata lain, kita akan menumbalkan sebagian putra bangsa sendiri pada suatu peristiwa yang akan kita atur dari belakang layar.''

Beberapa tahun lalu Bush dengan penasehat spiritualnya pendeta Pat Robertson mengkampanyekan holy crusade menghancurkan satu bangsa hanya karena peristiwa 9/11 yang belum jelas siapa dalangnya, al Qaidah ? Kenapa lalu satu bangsa –Afganistan- tanpa pandang bulu dihancurleburkan ? Kemudian dengan kampanye adanya senjata pemusnah massal -yang tidak pernah ada buktinya- bangsa Irak diluluhlantakkan. Dengan kampanye adanya 2 tentara yang disandera, disetujui pula separoh negara dibumihanguskan. Tak peduli anak-anak, wanita, orang tua, orang sakit, rumah sakit, tempat ibadah, semua dihancurkan. Banyak lagi penghancuran, pembunuhan, penindasan, dan penjajahan, yang ketika ditanya alasannya, kenapa ? Jawabnya adalah perang suci atas nama Tuhan, atau demi Tuhan yang dipercayainya.

Penindasan yang dilakukan oleh tokoh yang mengaku Islam tidak pula kalah ganasnya, bagaimana Hasan al Banna, Sayyid Quthub, dan para tokoh Ikhwanul Muslimin dihukum mati di Mesir oleh Gamal Abdel Nasser hanya karena perbedaan ideologi. Pemberangusan sekolah-sekolah agama di Pakistan, Tunisia, Aljazair saat ini. Pemberangusan hak-hak rakyat dan wanita di banyak negara Arab dengan dalih agama. "Demi agama, demi Allah dan Rasulullah," katanya.
Lalu tegoklah lagi, hampir 50% negara yang masuk dalam daftar negara terkorup di dunia versi Transparency International adalah negara dengan mayoritas penduduk Islam. Sebagian koruptor yang sedang ditangani atau yang sudah dipenjara di negeri ini adalah juga para tokoh yang sebelumnya adalah pengurus organisasi berlabel agama, dan bahkan ada juga mantan menteri yang mengurusi agama. Memang tidak ngebom dan membunuh secara langsung, tetapi kerusakan yang ditimbulkan korupsi lebih dahsyat daripada pada bom. Meruntuhkan sendi-sendi hukum, moral, adat, agama, tatanan sosial, dan korbannya lintas generasi.... Dan bila dikatakan kepada mereka:"Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi ". Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan." Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.(QS Al Baqarah (2): 11-12)

Aneh memang... semua melakukannya dengan atas nama Tuhan. Demi Tuhan Yehova, demi Tuhan Yesus, demi Allah, dsb. Tetapi kenapa kerusakan yang ditimbulkannya ?

Persoalan besar kadang kala bisa didekati dengan contoh dan perumpamaan kecil dalam kehidupan sehari-hari. Contoh kecil kehidupan di hari-hari yang sedang berjalan ini, sedikit memberikan jawaban. Beberapa masalah membuat saya harus bersinggungan dengan orang-orang yang menempatkan Tuhan hanya saat berada di masjid / gereja saja, di bibir saja, bahkan mungkin sudah diletakkannya di tong sampah di bawah laci meja kerjanya.

"Demi Allah... saya tidak merugikan perusahaan. Saya hanya punya hubungan bisnis, hubungan utang piutang dengan client perusahaan," ucapnya dengan sangat persuasif.

"Demi Tuhan Yesus... saya tidak berniat merugikan perusahaan dan membantu client. Saya hanya bernasib sial saja sehingga penilaian yang saya buat semua datanya tidak valid dan tak bisa diverifikasi kebenarannya," kata yang lain tidak mau mengaku adanya rekayasa.

"Demi Allah... saya tidak minta, tetapi saya diberi, dan saya membelinya," ujar lainnya dengan menunjukkan kwitansi, padahal nggak ada jual beli dan kwitansi yang diberikan kosongan saja sesuai permintaan, sehingga terasa sudah persiapan alibi kalau sewaktu-waktu ditemukan penyimpangan oleh SPI.

"Demi Tuhan Yesus... semoga yang tidak mempercayai dan menginterogasi saya kualat," ancam yang lain, padahal jelas-jelas BG nasabah masuk ke rekeningnya beberapa kali.
Kata-kata seperti itulah yang keluar dari mereka, orang-orang di sekitar kita yang tampaknya taat beragama, menyimpan sajadah di lacinya, atau rajin ke gereja, orang-orang yang tampak innocent dan suci.

Kalau diamati... demi Allah, demi Yesus, dan demi-demi lainnya, hanyalah sekedar alibi untuk menutupi keadaan sebenarnya yang ujungnya adalah demi gengsi rumah mewah di regency, demi life stlyle yang tidak match dengan gaji, harta, tahta, dan nikmat semu dunia. Padahal Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka . Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?(Al An’aam (6) :32))

Harta dunia dan kekuasaan kadang membuat kita gelap mata, hingga sulit untuk membedakan yang haq dengan yang bathil, campur aduk. Kadang mendapatkannya dilakukan dengan cara yang culas, dan sesudah didapat pun kikirnya setengah mati, padahal bondho kuwi didholeki nanging ora usah kemanthil ning ati (harta itu dicari tetapi tidak usah melekat di hati), ya... seperti tukang parkir yang sedang dititipi banyak mobil mewah, tetap berusaha agar banyak pelanggan yang mau parkir ditempatnya tetapi tidak keberatan ketika si pemilik mengambil mobilnya. Mencari dan mempertahankannya tak perlu dilakukan dengan cara bohong, rekayasa, menipu, mengancam, sumpah serapah, atau bahkan membunuh. Meski kita tak melihat Nya, selayaknya kita sadar bahwa Dia melihat dan mengawasi, tentu saja apabila kita masih percaya pada Nya.

Bukan kebalikannya Tuhan diletakkan hanya di masjid, Tuhan tidak ada di kantor, Tuhan tidak melihat apa yang saya perbuat, Tuhan tidak mendengar, Tuhan tidak masalah dengan perbuatan saya, dan Tuhan itu lho... masih sayang sama saya. Buktinya ? Saya nggak dihukum, saya masih duduk di sini, rekayasa yang saya perbuat tak ada yang tahu, dan saya tambah berkuasa dan kaya. Gencarnya godaan dunia, gaya hidup, persaingan yang lebih menghargai nilai-nilai yang kasat mata, dan kekuasaan yang ada dalam genggaman, kadang membuat kita tidak sabar dalam menghadapinya, sehingga melakukan hal-hal yang tergesa-gesa dan culas. Padahal mereka-mereka ini pergi ke mesjid / gereja, beragama, bertuhan. Tampaknya bagi golongan ini, setelah keluar dari masjid / gereja.... Tuhan hanya ada di tong sampah.

Tokoh-tokoh dunia dalam skala besar, dan orang-orang "kecil" di sekitar kita, pada hakekatnya sama, meski output kerusakan yang ditimbulkan skalanya berbeda. Alibi yang digunakan sebagai pembenar tindakan sama-sama demi Tuhan yang dipercayainya, tetapi dari outputnya dapat sama-sama kita rasa dan simpulkan, bahwa demi Tuhan... demi Allah... dsb hanyalah alibi untuk mengelabui sesama dan menutupi alasan busuk yang menjadi agenda sebenarnya.

Mungkin tak masalah bagi agama lain, tetapi bagi yang muslim ? Betapa sia-sianya... Shalat hanya untuk badannya tetapi tidak hatinya, puasa hanya untuk perutnya tetapi tidak mengajak nafsunya, zakat dan shadaqah hanya untuk show force dan trade off .

"Untuk buang sial," katanya, seperti sedekah uang receh yang dilempar orang-orang kepada rombongan jenazah yang sedang lewat, yang biasa ada di tanah Jawa.

Sungguh rugi...... mohon maaf apabila tidak berkenan dan assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

ChAn
01092006

Thursday, August 24, 2006

Merdeka Bung ? (18082006)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, tahukah saudara dari kain apa bendera pusaka ukuran 178 * 207 cm yang dikibarkan pada tanggal 17 Agustus 1945 berasal ? Tak terduga ternyata bendera yang dijahit oleh ibu Fatmawati tersebut warna putihnya berasal dari kain sprei, dan karena Ibu Fatmawati tidak mempunyai warna merah maka dicarilah kain warna merah. Begitu sulitnya mendapatkan kain merah saat itu, sehingga kain warna merah baru didapat dan dibeli dari kain tenda sebuah warung soto. Dijahit oleh ibu Fatmawati dan jadilah bendera pusaka yang dikibarkan saat proklamasi kemerdekaan bangsa ini. Penggalan cerita sejarah di atas paling tidak sedikit menggambarkan suasana batin saat-saat proklamasi kemerdekaan. Kesederhanaan, keteguhan hati, dan kuatnya mental pada saat itu telah mengangkat martabat bangsa Indonesia dari bangsa terjajah menjadi bangsa yang merdeka.

Waktu berlalu… kenyamanan, kemapanan, dan harta mulai menggerus nilai-nilai luhur bangsa. Nilai-nilai luhur hanya ada dalam tataran kata, jauh dari kenyataannya. Merdeka mulai bergeser ke dalam simbol-simbolnya semata dan mulai jauh dari hakekatnya. Kemeriahan perayaan ultah kemerdekaan memang terasa, pembacaan proklamasi kemerdekaan memang selalu ada di setiap upacara, tetapi apakah bangsa ini sudah benar-benar merdeka ?

Merdeka seharusnya bukan hanya sekedar jargon, lomba-lomba, simbol-simbol, dan upacara bendera. Merdeka adalah bangkitnya martabat bangsa sebagai wujud dari kemandirian dalam berbagai aspek dan dimensinya. Begitulah -paling tidak- yang ada dalam pandangan saya.
Apakah martabat bangsa ini sudah terangkat dalam posisi yang seharusnya ? Bukan hanya dalam pergaulan bangsa-bangsa, tetapi juga dalam ukuran kebenaran yang hakiki, yang mengandung nilai-nilai ruhani. Memang ada kata "Tuhan" dalam landasan negara republik ini, dijunjung tinggi secara simbolis, tetapi dalam prakteknya ? Tuhan ternyata hanyalah sekedar kata tak bermakna, dipakai dalam pengambilan sumpah, dan kemudian ‘dibuang’ dalam tong sampah.

Lihatlah bangsa ini masih menduduki rangking atas dalam hal negara terkorup di dunia. Dalam beberapa segi, pornografi diberi kebebasan lebih dari negara-negara yang mengaku biangnya kebebasan. Rasakanlah bagaimana ‘adilnya’ bangsa ini sehingga para koruptor dan pembunuh -yang dengan uangnya bisa membeli ‘apapun’- mendapatkan remisi optimal pada hari kemerdekaan kali ini. Belum lagi berbagai privileges yang diberikan kepada kalangan berpunya ketika mereka berhadapan dengan hukum.

Lihatlah lagi betapa loyonya pemimpin bangsa ini menghadapi tekanan asing. Membayar hutang sendiri pun tak berani jika si pemberi hutang belum memberi lampu hijau dan bersedia dibayar. Menghukum mati orang yang sudah jelas-jelas bersalah membantai puluhan bahkan ratusan saudara sebangsanya pun tak berani, hanya karena ada surat dari petinggi asing di luar negeri. Menjebloskan rakyat sendiri ke penjara seperti sudah menjadi tradisi, meski dengan tuduhan yang dicari-cari. Dan semuanya dilakukan demi menyenangkan ndoro tuan meneer

Banyak lagi tindakan yang membuat martabat bangsa ini terpuruk, bahkan di mata rakyatnya sendiri. Sebuah hasil penelitian menunjukkan bagaimana merosotnya martabat ini dari tahun ke tahun. Di tahun 2002 masih ada 93.5% masyarakat yang bangga sebagai bangsa Indonesia, tahun 2003 (88.6%), tahun 2004 mengalami lonjakan sedikit menjadi 94.1%, tahun 2005 melorot kembali menjadi 76.5%, dan di tahun 2006 bahkan menjadi 67% (sumber : Menuju Bangsa yang Mandiri, harian Republika, 16/8/2006). Ironis memang… penyakit inferior complex tampaknya menghinggapi bangsa ini. "Bermental tempe ", kata Bung Karno yang –dengan segala kekurangannya- gigih berusaha mengangkat martabat bangsa ini dengan salah satu manifesto politiknya "Berdikari" (berdiri di kaki sendiri).

Mental bangsa tentu saja kumpulan dari mental rakyatnya. Bangsa ini menjadi bangsa terkorup tentu karena pemimpin dan mayoritas rakyatnya memang suka korupsi. Pornografi di sini merajarela tentu karena pemimpin dan mayoritas rakyatnya menikmati ‘nikmatnya’ hasil industri pornografi. Ada produksi tentu karena ada yang mengkonsumsi. Bangsa ini bermental tempe tentu karena pemimpin dan mayoritas rakyatnya memang ‘tempe’. Bangsa ini menjadi tidak mandiri tentu karena pemimpin dan rakyatnya susah diajak mandiri. Dan begitu gampang nilai-nilai buruk ini berkembang bersama dengan gencarnya serbuan materialisme, konsumerisme dan hedonisme.

Gemebyarnya harta, kegagahan dan kecantikan, life style public figure yang aristokratis, kesombongan dan kepintaran para hedonis dalam berargumen, kadang begitu memukau, sehingga mengaburkan nilai-nilai luhur dari kehidupan yang seharusnya kita pegang teguh dalam menjalani kehidupan dunia ini. Keperawanan dijual demi tampil modis dan metropolis, harga diri dijual dengan menjadi ‘pengemis berdasi’ agar anak istri bisa tampil trendi, keluhuran diri dijual hanya demi kursi, dan bahkan martabat bangsa pun dijual untuk mengamankan posisi. Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar . Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran) ? (63: 4) Dan apabila dikatakan kepada mereka: Marilah (beriman) , agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu, mereka membuang muka mereka dan kamu lihat mereka berpaling sedang mereka menyombongkan diri. (Al Munafiquun (63): 5). Sebagian dari kita ikut-ikutan larut dalam value mereka. Padahal mereka hanyalah seperti kayu yang tersandar, meski tubuh mereka gagah, bagus-bagus, dan pandai berbicara, tetapi sebenarnya otak mereka "kosong", tidak dapat memahami hakikatnya kebenaran, begitulah informasi yang diberikan Allah dalam firman Nya.

Seperti biasa … tentu saja susah untuk mengubah yang besar kalau tidak dari yang kecil, diri kita sendiri, kemudian membesar ke lingkungan yang masih bisa kita pengaruhi, begitu seterusnya sehingga bisa menggelinding sebagai bola salju yang besar.

Balik ke diri sendiri… Sudahkan kita punya benteng yang kokoh menghadapi gempuran nilai-nilai yang menghancurkan idealisme, yang biasanya terkemas dalam indahnya dunia dan manisnya harta. Kalau sudah … pertanyaan selanjutnya adalah seberapa bebas kita bisa mengekspresikannya dalam kehidupan nyata ? Masihkah ada kekhawatiran, ketakutan, atau kesedihan pada saat menjalankan nilai-nilai luhur tersebut ? Takut dipecat, takut miskin, takut dikucilkan teman, khawatir nggak bisa makan, khawatir dibenci suami / istri, dan banyak ketakutan dan kekhawatiran lain yang tak wajar ? Pantaskah kita takut dengan semua ini, jika kita di dalam jalan Nya ?

Takut seharusnya hanyalah kepada adzab Allah, karena Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak mereka bersedih hati. (Al Baqarah (2): 277)

Jika nilai-nilai luhur tersebut hanya terkungkung di dalam diri, tak wujud dalam tindakan nyata, lalu ketakutan dan kekhawatiran masih mendominasi kita, maka pada hakekatnya kita belumlah merdeka. Masih menjadi hamba thoghut, budak dari selain Allah.

Oleh karenanya merdekalah… Mohon maaf bila tidak berkenan.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
ChAn
18082006

NB :
Meski pembantaian saudara kita di Lebanon, Palestina dan banyak tempat lainnya sejenak berhenti…, jika masih memungkinkan ada barang substitusi atas barang yang kita konsumsi, kenapa kita harus membeli dan memakai barang kaum dzalimiin ? Mari kita mulai dengan mencintai produk saudara kita sendiri, dari yang kecil… makan, beli barang, pakai jasa, dll dari saudara-saudara kita sendiri meski mungkin dengan selisih harga yang sedikit lebih mahal.

Friday, August 04, 2006

(Sementara ini) belum ada jawabnya ? (04082006)

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, sebelumnya saya mohon agar tulisan ringan ini di delete saja apabila tidak berkenan, agar tidak memenuhi mail box anda. Sorry.

Dalam beragama kadangkala kita menemukan pertanyaan-pertanyaan, masalah-masalah yang saat ini belum ketemu jawabannya secara akal. Dan tentu saja kalau menghadapi pertanyaan yang belum ketemu jawabannya, tidak bisalah dijawab dengan akal-akalan, apalagi menghadapi anak-anak kita yang semakin kritis. Saya mempunyai pengalaman buruk dengan jawaban yang akal-akalan ini. Suatu saat semasa SMP seorang guru saya menjawab pertanyaan tentang fajar Subuh dengan jawaban yang ngarang dan mengada-ada. Entah karena terpengaruh adanya dua adzan di zaman Nabi (adzannya Bilal yang pertama dan kemudian disusul adzannya Umi Maktum untuk shalat Subuh) jawabannya jadi ngelantur.

"Ada fajar semu dan fajar sebenarnya, fajar semu dibuat oleh setan, sedangkan fajar yang sebenarnya adalah fajar di saat Subuh", katanya.Nggak ngeh... saya pun protes berat bagaimana bisa fajar (fenomena alam) dihubungkan dengan perbuatan setan, nggak masuk akal. Ya jadilah dimarahin guru.... dan dianggap sebagai murid yang tukang protes.

Lalu kemarin, seorang teman memicu bahasan pendekatan akal ini dengan mengirimkan e-mail pertanyaan yang menggelitik, yang mungkin juga merupakan pertanyaan kita semua : kenapa pada saat duduk tahiyat jari telunjuknya nduding ?, kenapa kalau salam harus menoleh ke kanan dan ke kiri ? Saya coba jawab semampu saya dan berusaha tidak mengada-ada. Tetapi mungkin karena tidak ilmiah, maka jawaban saya tidak memuaskannya... alhamdulillah berarti teman saya tersebut akan mencari terus, dan insya Allah ketemu.

Fakta empiris yang ada sekarang ini memang menunjukkan bahwa belum semua pertanyaan bisa dijawab dengan pendekatan ilmiah yang memuaskan, misalnya : fakta bahwa ilmu pengetahuan meyakini adanya jiwa (sehingga ada ilmu jiwa, psikologi), tetapi bagaimana wujudnya jiwa, di mana letaknya jiwa, terbuat dari apa jiwa, setahu saya saat ini belum ada jawabnya secara ilmiah, apalagi tentang ruh. Dan apabila mau, pertanyaan di atas bisa kita buat semakin panjang, misalnya :

  • kenapa yang kentut lubang belakang, cara menyucikannya kok wudlu, dimana yang dibasahi adalah wajah, tangan, kepala, kaki ?
  • kenapa kalau shalat diawali dengan takbiratul ihram, langsung fatehah saja kan enak cepat....?
  • kenapa kalau shalat kok pakai ruku' dan sujud, kan enak langsung saja berdiri terus seperti shalat jenazah... ?
  • kenapa kalau wudlu dengan khuf (sepatu) yang diusap kok tutup atasnya sepatu, kok nggak bawahnya sepatu saja ?
  • kenapa saat umrah / haji yang dicium Hajar Aswad yang lokasinya kecil dan sempit sehingga harus berdesak desak, kenapa yang dicium nggak Ka'bah-nya saja yang besar sehingga memudahkan ?

Nggak ada habisnya, sampai-sampai mungkin bisa dikembangkan pertanyaannya menjadi : kenapa harus shalat, puasa, zakat, haji ? nggak pakai shalat, dsb. kan enak... nggak ngrepoti...

Pertanyaan-pertanyaan tersebut pasti ada jawabnya secara ilmiah, meski saat ini beberapa di antarnya belum ditemukan. Ada banyak usaha untuk menjelaskan pertanyaan-pertanyaan kenes tersebut secara akal, tetapi saya belum menemukan jawaban yang pas. Sampai kemudian saya menemukan jawaban semuanya dalam salah satu kumpulan hadits dalam shahih Bukhari, dari Ali ra yang terjemahan bebasnya : "Seandainya agama itu hanyalah pendekatan akal saja, maka seharusnya pada saat wudlu dengan memakai khuf, yang dibasuh bawahnya khuf (sepatu) bukan hanya diusap atasnya saja". Secara akal bukankah yang paling kotor itu bawahnya khuf yang langsung berhubungan dengan tanah ?

Kemudian saya ingat pula apa yang dikatakan Umar bin Khattab ketika mencium Hajar Aswad, "Kamu hanyalah sekedar batu, seandainya Rasulullah tidak melakukannya, aku tidak akan sudi menciummu". Sehingga saya menyimpulkan sendiri bahwa yang dilakukan salafushshalih dalam beragama ternyata adalah gabungan dari akal dan iman. Bukan pendekatan melalui akal saja yang dibatasi oleh dimensi ruang dan waktu.

Kalau dilihat sejarah, banyak hal yang di saat kejadian (dahulu) merupakan urusan iman, ternyata setelah ribuan tahun (saat ini) secara teori keilmuan bisa dijelaskan. Misalnya, Isra' Mi'raj yang terjadi 14 abad yang lalu. Peristiwa tersebut di jaman Nabi tentu saja nggak masuk akal, nggak ada penjelasan ilmiahnya. Pada saat itu, bagi Abu Bakar, dkk hanya cukup percaya, beriman terhadap semua yang diceritakan Nabi, tetapi bagi kaum musyrikin... peristiwa itu digunakan sebagai bahan cemooh, nggak masuk akal.

Ribuan tahun kemudian setelah peristiwa Isra' Mi'raj -sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan- ternyata secara teori : materi bisa diubah menjadi energi, materi bisa menjadi cahaya, dan manusia adalah materi..., teoritis tentu saja bisa diubah menjadi energi dan bisa bergerak dengan kecepatan cahaya. Akan tetapi kendalanya adalah alat untuk mengubah manusia menjadi energi saat ini belum ditemukan. Tidak seperti mengubah materi lainnya (uranium yang sudah dikayakan) menjadi energi nuklir yang sudah ditemukan alatnya (reaktor nuklir).

Di Al Quran pun banyak hal yang sampai saat ini belum terbukti secara ilmiah –belum ada teknologi yang bisa membuktikan kebenarannya-, misalnya An Naml 40, Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab : "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari . Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia". Dari materi (singgasana), lenyap berubah jadi energi (?), berpindah dalam sekejap mata, dan kemudian menjadi materi (singgasan) lagi di tempat yang lain.

Bukannya tidak mungkin fenomena pemindahan singgasana tahta ratu Balqis oleh orang beriman di zaman Nabi Sulaiman, yang dilakukan dalam hitungan ‘kedipan mata’ tersebut apabila dieksplorasi terus menerus oleh fisikawan dari masa ke masa, kemudian dibuka ilmunya oleh Allah untuk manusia, maka akan ditemukanlah teknologinya oleh manusia. Materi bisa berpindah-pindah dalam sekejap, seperti yang sudah ada di dalam film-film fiksi ilmiah.

Kemudian kalau dikembalikan lagi ke dalam urusan ibadah maghdhoh, ada qaidah fiqih -yang namanya qaidah fiqih tentu saja landasannya Kitabullah dan Sunnah- yang seharusnya digunakan : "Pada dasarnya semua ibadah dilarang kecuali yang dicontohkan / dikerjakan / diomongkan oleh Rasulullah Muhammad saw". Berdasar qaidah tersebut urusan praktek ibadah maghdhoh hanyalah mencontoh apa yang dilakukan Nabi, baik sudah ketemu ataupun belum ketemu alasannya secara akal. Terbatasnya perkembangan ilmu pengetahuan manusia saat ini, membuat ilmu pengetahuan belum bisa memberi jawaban / alasan yang pas terhadap amalan-amalan ibadah maghdhoh, sehingga menyikapinya balik lagi kepada kedalaman iman dan akal masing-masing individu.

Bagaimana menyikapinya ? Kalau saya itba' Rasul, mencontoh kepada apa yang dicontohkan oleh Rasulullah, yang kemudian diikuti oleh para salafushshalih: Abu Bakar ra., Umar ra., Ali ra. dalam menyikapi hal-hal yang belum ditemukan jawabnya secara akal pada saat itu. Mereka menyikapi dengan lebih memperbanyak unsur imannya, tanpa menafikan akalnya. Insya Allah suatu saat jawaban ilmiahnya pasti ditemukan, meski mungkin butuh ribuan tahun.

Oleh karenanya untuk urusan shalat, puasa, zakat, haji, dsb (semua urusan yang termasuk ibadah maghdhoh) rujukannya tentu kepada apa yang sudah dicontohkan / dilakukan oleh Nabi. Di Al Quran biasanya bersifat global misalnya : yuqiimunashshalat (shalat), yunfiquu (infaqlah, zakatlah), kutiba ’alaikumush shiaam (wajib berpuasa), dsb., sedangkan detail pelaksanaannya dari sunnah Nabi, yang diambil dari hadits Nabi, baik yang tersurat maupun yang tersirat.

Lho... kan kita harus menggunakan akal ?

Ya memang... tentu semuanya tidak boleh berhenti di sini, kita tak boleh berpuas diri untuk mencari jawabnya. Dengan perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan, dibukanya ilmu-ilmu Allah untuk manusia, ikhtiar dan explorasi berbagai bidang keilmuan yang tiada henti-hentinya dilakukan umat manusia, insya Allah semuanya akan semakin terang-benderang. Inilah tantangan-tantangan sebenarnya dari ilmuwan-ilmuwan Islam, anak-anak keturunan kita.

Lha kalau sampai sekarang belum ketemu jawaban ilmiahnya, apa kemudian kita nggak usah shalat ?

Semoga bermanfaat, mohon maaf apabila tidak berkenan.
Wassalamu'alaikum
ChAn
03082006
pojok-chan.blogspot.com
avicenna1995@yahoo.com
NB:
Jangan lupa : Mari kita cintai produk bangsa kita sendiri, jika tidak terlalu penting, pilih barang, jasa, mata uang, dan lain-lain yang bukan dari USA, Inggris, Australia, Israel, dan sekutunya. Mari kita galang solidaritas sesama muslim.