Ramadhan telah lewat. Apa yang telah kita dapat ? Pengalaman ruhani apa yang telah kita gapai ? Implikasi apa yang dapat kita rasakan dalam kehidupan kita sehari-hari setelah Ramadhan ini ? Semakin beriman dan semakin senang beramal shalih ? Semakin senang menjalankan perintah Nya dan semakin jauh dari larangan Nya ? Insya Allah. Dan semoga saja Lebaran bukan merupakan antiklimaks dari ibadah yang kita lakukan.
Ramadhan dan Lebaran kali ini penuh warna, tanggal boleh beda tetapi makna tetap sama. Hati semakin bersih, nafsu semakin terkendali, dosa sudah dicuci, dan diri ini kembali fitri. Di samping suasana batin Ramadhan dan Lebaran yang sudah ama-sama kita rasakan -bagi yang menjalankan puasa-, ternyata di Ramadhan kali ini ada juga momen-momen duniawi yang tampaknya menarik kita simak dan cermati. Kenapa perlu dicemati ? Karena mungkin nantinya akan berhubungan dengan hajat kita di perusahaan kita. Ada pengurangan direksi, ada penyederhanaan organisasi, ada penutupan cabang, ada pembukaan cabang, ada orang-orang yang kehilangan pekerjaan, ada orang-orang yang kehilangan jabatan, dan kebalikannya ada juga yang dikejar jabatan, serta kisah lainnya yang berhubungan dengan jabatan, tahta, dan kekuasaan.
Perubahan adalah suatu keniscayaan, dan setiap perubahan tentu akan menciptaakan peluang dan juga cerita sedih. Ada banyak oportunity, tetapi tampaknya akan ada juga cerita sedih tentang jabatan dan kekuasaan bagi siapa saja yang tidak siap kehilangannya di masa-masa yang akan datang, di perusahaan ini. Organisasi tampaknya akan semakin flat, ramping, efektif, dan efisien. Perbaikan proses, job redesign, dan kemudian keluar outcome resources yang dibutuhkan, akan menjadi andalan ke depan. Dan who knows kita selanjutnya yang akan terima giliran. Bagi yang siap, pekerjaan, jabatan, dan kekuasaan hanyalah sekedar pakaian yang bisa saja setiap saat berganti model dan tampilan. Rezeki sudah disiapkan, tinggal ikhtiar dan kesiapan manusia untuk mendapatkannya. Meski siap... kadang kala sedih juga apabila kehilangan pekerjaan, jabatan, dan kekuasaan, apalagi yang tidak siap. Oleh karenanya tulisan ini ingin mengawali dan mengingatkan –termasuk diri saya sendiri- akan kemungkinan adanya gelombang perubahan yang tampaknya sebentar lagi akan datang menggilas orang-orang yang tidak siap kehilangan.
Bagaimana sih rasanya kehilangan jabatan direktur, misalnya ? Bagi yang tidak siap -menurut saya- rasanya mungkin hampir sama dengan tukang becak yang kehilangan becaknya. Sama-sama kecewa dan gelisah apabila tidak segera mendapat gantinya, sama-sama kehilangan 'mesin' pencetak uang yang sangat berarti dan penting bagi hajat hidup dan gengsinya. Meski sudah kaya, tentu mereka juga akan merasa kehilangan. Sama-sama kehilangan sesuatu yang sangat berarti, meski nilai nominalnya berbeda. Kalau tukang becak kehilangan penghasilan 30 ribu/hari tentu sangat berarti, sedangkan yang kaya kehilangan 3 juta/hari baru berarti. Tetapi rasa sedihnya sama, bedanya cuma tukang becak lebih beruntung... tidak sampai mengalami post power syndrom, karena power untuk nggenjot becaknya akan tetap ada selama suapan nasi masih tetap lancar melewati perutnya. Rasa kehilangannya juga hampir sama dengan PRT yang tidak kita perpanjang masa kontraknya, karena tidak sesuai dengan kriteria yang kita -sebagai juragan- harapkan.
Sebenarnya ada banyak hikmah yang dapat kita ambil kala kita amati kehidupan tukang becak, PRT, dan kaum senasib lainnya yang selama ini terpinggirkan. Ambillah contoh kala sangat jengkel terhadap pembantu, kadang kita tanpa sadar keluar omongan, ”Dasar bodoh...” atau ucapan lainnya yang senada. Tetapi pernahkah kita menyadari bahwa, ”Kalau dia pintar tentu dia tidak jadi PRT, dia akan jadi juragannya.”
Sebuah cerita yang terinspirasi ceritanya Cak Nun, terjadi di Surabaya. Di Surabaya masih banyak becak, dan untuk daerah / jalan-jalan tertentu becak dilarang lewat. Tetapi yang namanya tukang becak memang kebanyakan susah untuk diajak tertib dan taat aturan lalu lintas. Suatu saat sebuah becak sarat muatan sayur-sayuran nyelonong masuk dari arah berlawanan melewati jembatan yang searah dan sebenarnya verboden bagi becak. Mengetahui ada becak yang melanggar aturan lalu-lintas seorang polisi jaga menghentikannya dan menyuruhnya kembali.
"Priit... priit... heiiii... Cak, Cak mandeg ... Cak," teriak polisi lalu lintas mencoba menghentikannya.
"Nggak ngerti abot tah... ngengkoli maneh iku abot... Cuk," gerutu si tukang becak, cuek dan terus saja menggenjot becaknya. Sudah kepalang basah, terlanjur..., dan lagi jalan di jembatan tersebut agak naik, sehingga kalau berhenti dan kemudian mundur dengan muatan yang penuh sayur tentu sulit. Keputusan sudah diambil. Memang melanggar lalu lintas, tetapi jembatan itulah satu-satunya jalan tersingkat untuk mencapai pasar dengan muatan penuh sayur tersebut dengan sisa-sisa tenaga yang ada. "Biarlah ... asal aku tidak maling," begitulah alibi yang ada di benaknya.
Merasa tak digubris polisi tersebut marah dan berteriak mendampratnya, "Whoeee... guuoooblok"
"Gak goblok yo gak dadi tukang becak Pak..," jawabnya tenang dengan logat suroboyoan yang kental, sambil terus nyelonong.
Bagi saya ada sisi menarik dari kesadaran atas ”kegoblokan” diri ini. Kepolosan, kesederhanan sikap, dan kesadaran diri mereka seringkali menunjukkan keikhlasan dan kemuliaan mereka dalam menjalani hidup. Mereka tidak maling, korupsi, menyuap, menjilat, memfitnah, dan menjegal orang lain untuk menjadi tukang becak. Tidak banyak orang yang sadar ”kegoblokannya”. Tidak banyak orang yang ikhlas dengan potensinya dan kemudian menjalani hidup ini dengan mengeksploitasi potensinya sendiri tanpa iri, dengki, cemburu dengan potensi orang lain, atau berniat mencelakakan orang lain. Hanya orang-orang yang mulia yang sadar dengan potensinya, dan kemudian dia jalani profesi sesuai dengan potensi dan kesempatan yang ada bagi dirinya dengan sepenuh hati, tanpa harus menginjak, menjilat, menjegal, memfitnah, dan mencelakakan orang lain.
Coba bandingkan dengan orang yang haus dengan jabatan, kekuasaan dalam menjalani profesinya. Seringkali mereka membuat intrik-intrik, menginjak, menjilat, menjegal, memfitnah, santet, mencelakakan teman, dll untuk mencari/ melanggengkan jabatan dan kekuasaannya. Padahal yang namanya kekuasaan itu terbatas jumlahnya dan banyak orang berdesak-desak memperebutkannya.
Sebentar lagi gelombang itu akan datang, dan ada banyak pilihan untuk menghadapinya. Bertarung memperebutkan jabatan dan kekuasaan yang jumlahnya sedikit dan waktunya terbatas dengan segala cara, culas, dan saling sikut dengan teman sendiri untuk mendapatkannya, atau kita sadari potensi diri dan kemudian kita eksploitasi untuk kemuliaan diri. Kekuasaan jumlahnya terbatas, sedikit, dan orang berdesak-desakan memperebutkannya, sementara Kemuliaan itu jumlahnya banyak dan kita tak perlu berebut dengan orang lain untuk mendapatkannya. Di setiap profesi kita bisa membentuk kemuliaan diri, sehingga kita bisa menjadi manusia mulia di hadapan Allah tanpa harus ikut berdesak-desakkan memperebutkan kekuasaan. Tak perlu harus ikut-ikutan dalam intrik-intrik, jegal-menjegal, santet, dan fitnah demi mendapatkan jabatan / kekuasaan. Hidup memang pilihan, dan pilihan di jalan Nya adalah sebaik-baik pilihan.
Kekuasaan dan jabatan memang hanya sedikit jumlahnya, tetapi jika memang kita punya potensi dan kualitas prima, jabatan tersebut akan datang menghampiri kita. Tinggal anda pilih menerima atau menolaknya, tanpa harus mengurangi kemuliaan kita sebagai manusia.
Tantangan ke depan sangat berat bagi orang-orang yang tidak ikhlas dalam menjalani hidup ini, kegelisahan dan ketakutan akan melingkupinya. Dan hanya jiwa-jiwa yang tenang, yang telah dilatih selama sebulan ini yang dapat melaluinya dengan kemuliaan. Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku. (Al Fajr (89): 27-30)
Semoga bermanfaat. Selamat Idul Fitri 1427 H, mohon maaf lahir dan batin, taqabbalallahu minna wa minkum, taqabbal yaa Kariim.
Wassalamu’alaikum
ChAn
27102006
pojok-chan.blogspot.com
Ramadhan dan Lebaran kali ini penuh warna, tanggal boleh beda tetapi makna tetap sama. Hati semakin bersih, nafsu semakin terkendali, dosa sudah dicuci, dan diri ini kembali fitri. Di samping suasana batin Ramadhan dan Lebaran yang sudah ama-sama kita rasakan -bagi yang menjalankan puasa-, ternyata di Ramadhan kali ini ada juga momen-momen duniawi yang tampaknya menarik kita simak dan cermati. Kenapa perlu dicemati ? Karena mungkin nantinya akan berhubungan dengan hajat kita di perusahaan kita. Ada pengurangan direksi, ada penyederhanaan organisasi, ada penutupan cabang, ada pembukaan cabang, ada orang-orang yang kehilangan pekerjaan, ada orang-orang yang kehilangan jabatan, dan kebalikannya ada juga yang dikejar jabatan, serta kisah lainnya yang berhubungan dengan jabatan, tahta, dan kekuasaan.
Perubahan adalah suatu keniscayaan, dan setiap perubahan tentu akan menciptaakan peluang dan juga cerita sedih. Ada banyak oportunity, tetapi tampaknya akan ada juga cerita sedih tentang jabatan dan kekuasaan bagi siapa saja yang tidak siap kehilangannya di masa-masa yang akan datang, di perusahaan ini. Organisasi tampaknya akan semakin flat, ramping, efektif, dan efisien. Perbaikan proses, job redesign, dan kemudian keluar outcome resources yang dibutuhkan, akan menjadi andalan ke depan. Dan who knows kita selanjutnya yang akan terima giliran. Bagi yang siap, pekerjaan, jabatan, dan kekuasaan hanyalah sekedar pakaian yang bisa saja setiap saat berganti model dan tampilan. Rezeki sudah disiapkan, tinggal ikhtiar dan kesiapan manusia untuk mendapatkannya. Meski siap... kadang kala sedih juga apabila kehilangan pekerjaan, jabatan, dan kekuasaan, apalagi yang tidak siap. Oleh karenanya tulisan ini ingin mengawali dan mengingatkan –termasuk diri saya sendiri- akan kemungkinan adanya gelombang perubahan yang tampaknya sebentar lagi akan datang menggilas orang-orang yang tidak siap kehilangan.
Bagaimana sih rasanya kehilangan jabatan direktur, misalnya ? Bagi yang tidak siap -menurut saya- rasanya mungkin hampir sama dengan tukang becak yang kehilangan becaknya. Sama-sama kecewa dan gelisah apabila tidak segera mendapat gantinya, sama-sama kehilangan 'mesin' pencetak uang yang sangat berarti dan penting bagi hajat hidup dan gengsinya. Meski sudah kaya, tentu mereka juga akan merasa kehilangan. Sama-sama kehilangan sesuatu yang sangat berarti, meski nilai nominalnya berbeda. Kalau tukang becak kehilangan penghasilan 30 ribu/hari tentu sangat berarti, sedangkan yang kaya kehilangan 3 juta/hari baru berarti. Tetapi rasa sedihnya sama, bedanya cuma tukang becak lebih beruntung... tidak sampai mengalami post power syndrom, karena power untuk nggenjot becaknya akan tetap ada selama suapan nasi masih tetap lancar melewati perutnya. Rasa kehilangannya juga hampir sama dengan PRT yang tidak kita perpanjang masa kontraknya, karena tidak sesuai dengan kriteria yang kita -sebagai juragan- harapkan.
Sebenarnya ada banyak hikmah yang dapat kita ambil kala kita amati kehidupan tukang becak, PRT, dan kaum senasib lainnya yang selama ini terpinggirkan. Ambillah contoh kala sangat jengkel terhadap pembantu, kadang kita tanpa sadar keluar omongan, ”Dasar bodoh...” atau ucapan lainnya yang senada. Tetapi pernahkah kita menyadari bahwa, ”Kalau dia pintar tentu dia tidak jadi PRT, dia akan jadi juragannya.”
Sebuah cerita yang terinspirasi ceritanya Cak Nun, terjadi di Surabaya. Di Surabaya masih banyak becak, dan untuk daerah / jalan-jalan tertentu becak dilarang lewat. Tetapi yang namanya tukang becak memang kebanyakan susah untuk diajak tertib dan taat aturan lalu lintas. Suatu saat sebuah becak sarat muatan sayur-sayuran nyelonong masuk dari arah berlawanan melewati jembatan yang searah dan sebenarnya verboden bagi becak. Mengetahui ada becak yang melanggar aturan lalu-lintas seorang polisi jaga menghentikannya dan menyuruhnya kembali.
"Priit... priit... heiiii... Cak, Cak mandeg ... Cak," teriak polisi lalu lintas mencoba menghentikannya.
"Nggak ngerti abot tah... ngengkoli maneh iku abot... Cuk," gerutu si tukang becak, cuek dan terus saja menggenjot becaknya. Sudah kepalang basah, terlanjur..., dan lagi jalan di jembatan tersebut agak naik, sehingga kalau berhenti dan kemudian mundur dengan muatan yang penuh sayur tentu sulit. Keputusan sudah diambil. Memang melanggar lalu lintas, tetapi jembatan itulah satu-satunya jalan tersingkat untuk mencapai pasar dengan muatan penuh sayur tersebut dengan sisa-sisa tenaga yang ada. "Biarlah ... asal aku tidak maling," begitulah alibi yang ada di benaknya.
Merasa tak digubris polisi tersebut marah dan berteriak mendampratnya, "Whoeee... guuoooblok"
"Gak goblok yo gak dadi tukang becak Pak..," jawabnya tenang dengan logat suroboyoan yang kental, sambil terus nyelonong.
Bagi saya ada sisi menarik dari kesadaran atas ”kegoblokan” diri ini. Kepolosan, kesederhanan sikap, dan kesadaran diri mereka seringkali menunjukkan keikhlasan dan kemuliaan mereka dalam menjalani hidup. Mereka tidak maling, korupsi, menyuap, menjilat, memfitnah, dan menjegal orang lain untuk menjadi tukang becak. Tidak banyak orang yang sadar ”kegoblokannya”. Tidak banyak orang yang ikhlas dengan potensinya dan kemudian menjalani hidup ini dengan mengeksploitasi potensinya sendiri tanpa iri, dengki, cemburu dengan potensi orang lain, atau berniat mencelakakan orang lain. Hanya orang-orang yang mulia yang sadar dengan potensinya, dan kemudian dia jalani profesi sesuai dengan potensi dan kesempatan yang ada bagi dirinya dengan sepenuh hati, tanpa harus menginjak, menjilat, menjegal, memfitnah, dan mencelakakan orang lain.
Coba bandingkan dengan orang yang haus dengan jabatan, kekuasaan dalam menjalani profesinya. Seringkali mereka membuat intrik-intrik, menginjak, menjilat, menjegal, memfitnah, santet, mencelakakan teman, dll untuk mencari/ melanggengkan jabatan dan kekuasaannya. Padahal yang namanya kekuasaan itu terbatas jumlahnya dan banyak orang berdesak-desak memperebutkannya.
Sebentar lagi gelombang itu akan datang, dan ada banyak pilihan untuk menghadapinya. Bertarung memperebutkan jabatan dan kekuasaan yang jumlahnya sedikit dan waktunya terbatas dengan segala cara, culas, dan saling sikut dengan teman sendiri untuk mendapatkannya, atau kita sadari potensi diri dan kemudian kita eksploitasi untuk kemuliaan diri. Kekuasaan jumlahnya terbatas, sedikit, dan orang berdesak-desakan memperebutkannya, sementara Kemuliaan itu jumlahnya banyak dan kita tak perlu berebut dengan orang lain untuk mendapatkannya. Di setiap profesi kita bisa membentuk kemuliaan diri, sehingga kita bisa menjadi manusia mulia di hadapan Allah tanpa harus ikut berdesak-desakkan memperebutkan kekuasaan. Tak perlu harus ikut-ikutan dalam intrik-intrik, jegal-menjegal, santet, dan fitnah demi mendapatkan jabatan / kekuasaan. Hidup memang pilihan, dan pilihan di jalan Nya adalah sebaik-baik pilihan.
Kekuasaan dan jabatan memang hanya sedikit jumlahnya, tetapi jika memang kita punya potensi dan kualitas prima, jabatan tersebut akan datang menghampiri kita. Tinggal anda pilih menerima atau menolaknya, tanpa harus mengurangi kemuliaan kita sebagai manusia.
Tantangan ke depan sangat berat bagi orang-orang yang tidak ikhlas dalam menjalani hidup ini, kegelisahan dan ketakutan akan melingkupinya. Dan hanya jiwa-jiwa yang tenang, yang telah dilatih selama sebulan ini yang dapat melaluinya dengan kemuliaan. Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku. (Al Fajr (89): 27-30)
Semoga bermanfaat. Selamat Idul Fitri 1427 H, mohon maaf lahir dan batin, taqabbalallahu minna wa minkum, taqabbal yaa Kariim.
Wassalamu’alaikum
ChAn
27102006
pojok-chan.blogspot.com

No comments:
Post a Comment