Pada tulisan sebelumnya Jendela Dunia…Jendela Akhirat tanggal 12/5/2006 telah saya singgung betapa pentingnya kita baca dan khatamkan Al Quran -minimal terjemahannya- agar kita tahu dengan haqqul dan’ainul yaqin isi Al Quran ini. Bukan hanya dari omongan, e-mail, teman, guru ngaji, ustad, dsb. Karena Kitab ini merupakan :
§ Bacaan yang mulia, yang ada pada kitab yang terpelihara ( 56:77 – 78)
§ Kitab yang tidak ada keraguan padanya (2:2)
§ Kitab yang ayat-ayatnya disusun rapi dan dijelaskan secara terperinci (11:1)
§ Benar-benar tinggi (berkualitas) dan amat banyak mengandung hikmah. (43:4)
§ Merupakan Cahaya (42:52), dan mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang (14:1)
§ Merupakan Petunjuk dan penjelasan-penjelasan mengenai Petunjuk itu (sendiri) dan Pembeda antara yang haq dan yang bathil (2:185)
§ Kitab yang mempunyai Berkah (21:50)
§ Kitab yang menjadi Rahmat (16:64)
§ Kitab yang menjadi Obat Penawar (41:44) dari ruhani / hati yang gelisah (sakit), dan bahkan bagi yang hatinya bersih bisa menjadikannya sebagai obat penawar jasmani yang sakit.
§ Kitab yang sampai saat ini (1400 tahun) dan sampai akhir zaman tak akan ada yang mampu mengubah dan menandinginya.
Cobalah cari dan rasakan, adakah Kitab yang begitu jelas, tegas, gamblang, puitis, dan dalam bahasa yang indah –terutama dalam bahasa aslinya- dalam menjelaskan konsep ketuhanannya ?
Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa”.
Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia".
(Al Ikhlas 1-4)
atau cari dan rasakanlah dengan hikmat, adakah Kitab yang menjelaskan tentang konsep waktu dengan bernas seperti ini ?
Demi waktu (masa).
Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
(Al Ashr 1-3)
Siapa yang rugi dan siapa yang beruntung ? Yang beruntung ternyata bukan orang kaya, pejabat, jendral, cantik, Islam, Nasrani, Yahudi, Hindu, Budha, NU, Muhammadiyah, Persis, Hizbut Tahrir, Salafi, dsb. Ternyata yang tidak termasuk dalam orang-orang yang rugi adalah orang-orang yang beriman kepada Allah, dan merealisasikan imannya dalam amal sholeh, dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Tidak dalam kotak-kotak yang dibuat manusia seperti yang ada sekarang ini.
Lalu kenapa hanya karena berbeda tanggal Lebaran dan cara sembahyang saja lalu kita saling merendahkan ? Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Quraan itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu. (6:114)
Setelah puas dengan Kitabullah Al Quran, Kitab kedua yang selayaknya dan seharusnya kita selesaikan sebelum menyelesaikan kitab-kitab lainnya adalah kitab yang menginformasikan segala aktivitas Nabi Muhammad saw (Sunnah). Semuanya.....diamnya, sabdanya, pendapatnya, tindakannya, perilakunya dalam berinteraksi dengan sesama makhluk Allah dan juga dengan Allah itu sendiri. Kitab kedua ini biasanya wujudnya adalah kumpulan hadits. Tetapi Sunnah tentu saja bukan hanya tekstual sebagaimana secara eksplisit tertulis sebagai kumpulan hadits, tetapi juga mencakup situasi, spirit, semangat, dan konteksnya yang secara implisit terkandung dalam teks hadits tersebut.
Untuk mendalami As Sunnah, mengetahui kesehariannya Nabi dan merasakan ”suasana batin” perjuangan Nabi dalam melaksanakan tujuan hidupnya, memang lebih afdol apabila langsung dari sumbernya, kitab-kitab hadits. Sudah banyak kumpulan hadits yang telah disusun oleh para Imam Ahli Hadits (Diantaranya tujuh orang yang terkenal : Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah), tetapi ini tidak mudah bagi kita yang sibuk, biasa instant, dan bukan alumni pesantren. Shahih Bukhari misalnya terdiri dari 9 jilid buku dengan jumlah 7194 nomor hadits yang panjangnya tidak sama. Ada yang satu nomor hadits panjangnya 3-4 halaman, sehingga perlu waktu banyak untuk dapat menangkap sosok Nabi Muhammad saw tersebut dalam kesehariannya ?
Kendala waktu, tentu saja tidak lantas mengakibatkan kita mempelajari sejarah Nabi hanya melalui buku-buku tipis seperti yang diajarkan di pelajaran sejarah Islam (Tarikh) di sekolah-sekolah yang ada sekarang, yang –setahu saya- isinya sangat kering. Bagaimana tidak ? Sejarah Islam isinya banyak cerita tentang perang... perang Badar, Perang Uhud, perang Khandaq, perang Khaibar, dsb., dan tidak dijelaskan dengan baik dan panjang lebar bagaimana diplomasi telah dilakukan Nabi agar tidak sampai terjadi perang, bagaimana provokasi yang terus menerus dilakukan pihak lawan, hal-hal yang melatar belakangi kenapa sampai terjadi perang, dsb. yang bisa membuat pembaca sejarah tersebut merasakan suasana batin yang terjadi saat itu. Buku-buku sejarah Islam seperti ini layaknya buku pelajaran sejarah tentang Perang Diponegoro, yang ujung-ujungnya hanyalah untuk menjawab pertanyaan ujian, ”Kapan Perang Diponegoro terjadi ?”. "Di mana terjadinya ?" dsb.
Hilang ruhnya.... hilang apinya.... yang ada hanyalah asap yang memedihkan mata.
Dalam Sejarah Islam dan Sirah Nabi seperti ini, kita akan kehilangan ahlak mulia Nabi. Kita tak merasakan bagaimana Rasul tetap bersahaja, tidak menampakkan diri dalam gaya penguas atau raja. Rasul yang tak mau dipuja sebagaimana orang Nasrani memuja Isa anak Maryam. Rasul yang tak mau disambut dengan berdiri sebagaimana orang-orang yang ingin diagungkan satu sama lain. Begitu juga kita akan kehilangan akhlak mulia / perilaku Nabi lainnya.
Dalam bergaul dengan sahabat beliau, beliau duduk di mana saja tempat luang di antara sahabatnya. Beliau bergurau dengan sahabatnya, diajaknya mereka bercakap-cakap, anak-anak mereka-pun diajaknya bermain-main dan didudukkan dalam pangkuannya. Rasul selalu memenuhi undangan siapapun yang mengundangnya -dari budak, orang miskin sampai yang kaya raya-. Dikunjunginya orang yang sakit walaupun tempatnya jauh dipinggiran kota. Beliau memulai memberi salam pada siapa saja yang dijumpainya, dan lebih dulu mengulurkan dan menjabat tangan sahabatnya.
Dimaafkannya musuh dan orang-orang berbuat salah padanya, baik meminta maaf maupun tidak padanya. Bahkan orang-orang yang hendak membunuhnya dengan pedang, meracuninya dengan daging kambing beracun yang diberikan kepadanya, memfitnah istrinya sebagai penzina, dan menyantetnya... semuanya dimaafkannya.
Apabila ada tamu yang menunggu beliau ketika beliau sholat, dipercepatnya sholat beliau dan bergegas ditemuinya orang tersebut untuk dipenuhi keperluannya dan kemudian beliau melanjutkan ibadahnya. Beliau selalu tersenyum.
Dalam rumah tangga-pun Rasul tak segan-segan membantu beban keluarga seperti mencuci pakaian, menambal pakaian yang sobek, memerah susu kambing, menjahit terompah beliau, mengurus unta. Tak pernah sekalipun memukul anggota keluarganya, tidak pernah sekalipun Nabi mencela dan mencaci anak, dan beliau tak segan duduk makan bersama pembantu rumah tangganya.
Bila ada orang yang membutuhkan pertolongan, Rasul dan keluarganya pasti mengalah dan mendahulukan keperluan orang tsb sekalipun mereka sendiri dalam kekurangan. Tak ada yang disimpannya untuk besok sehingga tatkala Rasul wafat, baju besinya sedang digadaikan pada seorang Yahudi untuk mendapat sejumlah uang untuk keperluan keluarga beliau.
Rasul juga sangat menyayangi binatang. Beliau bangun dan membukakan pintu rumahnya untuk seekor kucing yang mencari tempat berteduh, merawat seekor ayam yang sakit, mengelus-elus kudanya dengan lengan baju beliau, dan mengingatkan Aisyah yang menarik-narik kekang untanya yang sedang 'mogok' agar bersikap lemah lembut pada hewan tersebut.
Dalam hal makanan, Rasul lebih sering makan makanan yang dimakan oleh masyarakat umumnya dan jarang sekali memakan makanan mewah. Dalam hal lapar, Rasul mempunyai prestasi yang sulit ditandingi sehingga ketika seorang sahabat datang dan menunjukkan betapa laparnya dia dengan meletakkan sejumlah batu untuk mengganjal perutnya, Rasul dengan rasa lapar yang lebih menunjukkan sejumlah batu yang lebih banyak untuk mengganjal perut beliau yang sudah 2-3 hari tak diisi.
Semua informasi akhlak mulia tersebut tentu tidak akan kita dapatkan apabila kita hanya belajar dari buku-buku tipis sejarah Islam. Entah siapa yang memulai dan kenapa pula sejarah Islam yang beredar dan diajarkan di sekolah-sekolah dan madrasah-madrasah, porsi cerita perang lebih banyak. Sepertinya sejarah Nabi itu isinya hanya perang, padahal sejarah kehidupan Nabi penuh warna dan sangat menyentuh sisi ruhani manusia, sampai-sampai WS Rendra pun menangis kalau dia membaca sejarah Nabi Muhammad saw (sumber : Republika 29/10/2006).
Ada buku yang menurut saya cukup representative, sebagai Jendela Akhirat kedua agar kita lebih mengetahui dan lebih mudah untuk mendapatkan suasana batin Nabi di masa hidupnya, Sejarah Hidup Muhammad, by Muhammad Husain Haikal. Meski buku ini dikarang sekitar tahun 1935, tetapi kualitas buku ini masih sangat bagus dan enak untuk dibaca sampai sekarang, paling tidak sebelum kita masuk ke dalam buku kumpulan-kumpulan hadits yang agak berat, atau Sirah Nabi yang lain.
Semoga bermanfaat
Wassalamu’alaiku warahmatullahi wabarakatuh
ChAn
101101
§ Bacaan yang mulia, yang ada pada kitab yang terpelihara ( 56:77 – 78)
§ Kitab yang tidak ada keraguan padanya (2:2)
§ Kitab yang ayat-ayatnya disusun rapi dan dijelaskan secara terperinci (11:1)
§ Benar-benar tinggi (berkualitas) dan amat banyak mengandung hikmah. (43:4)
§ Merupakan Cahaya (42:52), dan mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang (14:1)
§ Merupakan Petunjuk dan penjelasan-penjelasan mengenai Petunjuk itu (sendiri) dan Pembeda antara yang haq dan yang bathil (2:185)
§ Kitab yang mempunyai Berkah (21:50)
§ Kitab yang menjadi Rahmat (16:64)
§ Kitab yang menjadi Obat Penawar (41:44) dari ruhani / hati yang gelisah (sakit), dan bahkan bagi yang hatinya bersih bisa menjadikannya sebagai obat penawar jasmani yang sakit.
§ Kitab yang sampai saat ini (1400 tahun) dan sampai akhir zaman tak akan ada yang mampu mengubah dan menandinginya.
Cobalah cari dan rasakan, adakah Kitab yang begitu jelas, tegas, gamblang, puitis, dan dalam bahasa yang indah –terutama dalam bahasa aslinya- dalam menjelaskan konsep ketuhanannya ?
Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa”.
Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia".
(Al Ikhlas 1-4)
atau cari dan rasakanlah dengan hikmat, adakah Kitab yang menjelaskan tentang konsep waktu dengan bernas seperti ini ?
Demi waktu (masa).
Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
(Al Ashr 1-3)
Siapa yang rugi dan siapa yang beruntung ? Yang beruntung ternyata bukan orang kaya, pejabat, jendral, cantik, Islam, Nasrani, Yahudi, Hindu, Budha, NU, Muhammadiyah, Persis, Hizbut Tahrir, Salafi, dsb. Ternyata yang tidak termasuk dalam orang-orang yang rugi adalah orang-orang yang beriman kepada Allah, dan merealisasikan imannya dalam amal sholeh, dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Tidak dalam kotak-kotak yang dibuat manusia seperti yang ada sekarang ini.
Lalu kenapa hanya karena berbeda tanggal Lebaran dan cara sembahyang saja lalu kita saling merendahkan ? Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Quraan itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu. (6:114)
Setelah puas dengan Kitabullah Al Quran, Kitab kedua yang selayaknya dan seharusnya kita selesaikan sebelum menyelesaikan kitab-kitab lainnya adalah kitab yang menginformasikan segala aktivitas Nabi Muhammad saw (Sunnah). Semuanya.....diamnya, sabdanya, pendapatnya, tindakannya, perilakunya dalam berinteraksi dengan sesama makhluk Allah dan juga dengan Allah itu sendiri. Kitab kedua ini biasanya wujudnya adalah kumpulan hadits. Tetapi Sunnah tentu saja bukan hanya tekstual sebagaimana secara eksplisit tertulis sebagai kumpulan hadits, tetapi juga mencakup situasi, spirit, semangat, dan konteksnya yang secara implisit terkandung dalam teks hadits tersebut.
Untuk mendalami As Sunnah, mengetahui kesehariannya Nabi dan merasakan ”suasana batin” perjuangan Nabi dalam melaksanakan tujuan hidupnya, memang lebih afdol apabila langsung dari sumbernya, kitab-kitab hadits. Sudah banyak kumpulan hadits yang telah disusun oleh para Imam Ahli Hadits (Diantaranya tujuh orang yang terkenal : Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah), tetapi ini tidak mudah bagi kita yang sibuk, biasa instant, dan bukan alumni pesantren. Shahih Bukhari misalnya terdiri dari 9 jilid buku dengan jumlah 7194 nomor hadits yang panjangnya tidak sama. Ada yang satu nomor hadits panjangnya 3-4 halaman, sehingga perlu waktu banyak untuk dapat menangkap sosok Nabi Muhammad saw tersebut dalam kesehariannya ?
Kendala waktu, tentu saja tidak lantas mengakibatkan kita mempelajari sejarah Nabi hanya melalui buku-buku tipis seperti yang diajarkan di pelajaran sejarah Islam (Tarikh) di sekolah-sekolah yang ada sekarang, yang –setahu saya- isinya sangat kering. Bagaimana tidak ? Sejarah Islam isinya banyak cerita tentang perang... perang Badar, Perang Uhud, perang Khandaq, perang Khaibar, dsb., dan tidak dijelaskan dengan baik dan panjang lebar bagaimana diplomasi telah dilakukan Nabi agar tidak sampai terjadi perang, bagaimana provokasi yang terus menerus dilakukan pihak lawan, hal-hal yang melatar belakangi kenapa sampai terjadi perang, dsb. yang bisa membuat pembaca sejarah tersebut merasakan suasana batin yang terjadi saat itu. Buku-buku sejarah Islam seperti ini layaknya buku pelajaran sejarah tentang Perang Diponegoro, yang ujung-ujungnya hanyalah untuk menjawab pertanyaan ujian, ”Kapan Perang Diponegoro terjadi ?”. "Di mana terjadinya ?" dsb.
Hilang ruhnya.... hilang apinya.... yang ada hanyalah asap yang memedihkan mata.
Dalam Sejarah Islam dan Sirah Nabi seperti ini, kita akan kehilangan ahlak mulia Nabi. Kita tak merasakan bagaimana Rasul tetap bersahaja, tidak menampakkan diri dalam gaya penguas atau raja. Rasul yang tak mau dipuja sebagaimana orang Nasrani memuja Isa anak Maryam. Rasul yang tak mau disambut dengan berdiri sebagaimana orang-orang yang ingin diagungkan satu sama lain. Begitu juga kita akan kehilangan akhlak mulia / perilaku Nabi lainnya.
Dalam bergaul dengan sahabat beliau, beliau duduk di mana saja tempat luang di antara sahabatnya. Beliau bergurau dengan sahabatnya, diajaknya mereka bercakap-cakap, anak-anak mereka-pun diajaknya bermain-main dan didudukkan dalam pangkuannya. Rasul selalu memenuhi undangan siapapun yang mengundangnya -dari budak, orang miskin sampai yang kaya raya-. Dikunjunginya orang yang sakit walaupun tempatnya jauh dipinggiran kota. Beliau memulai memberi salam pada siapa saja yang dijumpainya, dan lebih dulu mengulurkan dan menjabat tangan sahabatnya.
Dimaafkannya musuh dan orang-orang berbuat salah padanya, baik meminta maaf maupun tidak padanya. Bahkan orang-orang yang hendak membunuhnya dengan pedang, meracuninya dengan daging kambing beracun yang diberikan kepadanya, memfitnah istrinya sebagai penzina, dan menyantetnya... semuanya dimaafkannya.
Apabila ada tamu yang menunggu beliau ketika beliau sholat, dipercepatnya sholat beliau dan bergegas ditemuinya orang tersebut untuk dipenuhi keperluannya dan kemudian beliau melanjutkan ibadahnya. Beliau selalu tersenyum.
Dalam rumah tangga-pun Rasul tak segan-segan membantu beban keluarga seperti mencuci pakaian, menambal pakaian yang sobek, memerah susu kambing, menjahit terompah beliau, mengurus unta. Tak pernah sekalipun memukul anggota keluarganya, tidak pernah sekalipun Nabi mencela dan mencaci anak, dan beliau tak segan duduk makan bersama pembantu rumah tangganya.
Bila ada orang yang membutuhkan pertolongan, Rasul dan keluarganya pasti mengalah dan mendahulukan keperluan orang tsb sekalipun mereka sendiri dalam kekurangan. Tak ada yang disimpannya untuk besok sehingga tatkala Rasul wafat, baju besinya sedang digadaikan pada seorang Yahudi untuk mendapat sejumlah uang untuk keperluan keluarga beliau.
Rasul juga sangat menyayangi binatang. Beliau bangun dan membukakan pintu rumahnya untuk seekor kucing yang mencari tempat berteduh, merawat seekor ayam yang sakit, mengelus-elus kudanya dengan lengan baju beliau, dan mengingatkan Aisyah yang menarik-narik kekang untanya yang sedang 'mogok' agar bersikap lemah lembut pada hewan tersebut.
Dalam hal makanan, Rasul lebih sering makan makanan yang dimakan oleh masyarakat umumnya dan jarang sekali memakan makanan mewah. Dalam hal lapar, Rasul mempunyai prestasi yang sulit ditandingi sehingga ketika seorang sahabat datang dan menunjukkan betapa laparnya dia dengan meletakkan sejumlah batu untuk mengganjal perutnya, Rasul dengan rasa lapar yang lebih menunjukkan sejumlah batu yang lebih banyak untuk mengganjal perut beliau yang sudah 2-3 hari tak diisi.
Semua informasi akhlak mulia tersebut tentu tidak akan kita dapatkan apabila kita hanya belajar dari buku-buku tipis sejarah Islam. Entah siapa yang memulai dan kenapa pula sejarah Islam yang beredar dan diajarkan di sekolah-sekolah dan madrasah-madrasah, porsi cerita perang lebih banyak. Sepertinya sejarah Nabi itu isinya hanya perang, padahal sejarah kehidupan Nabi penuh warna dan sangat menyentuh sisi ruhani manusia, sampai-sampai WS Rendra pun menangis kalau dia membaca sejarah Nabi Muhammad saw (sumber : Republika 29/10/2006).
Ada buku yang menurut saya cukup representative, sebagai Jendela Akhirat kedua agar kita lebih mengetahui dan lebih mudah untuk mendapatkan suasana batin Nabi di masa hidupnya, Sejarah Hidup Muhammad, by Muhammad Husain Haikal. Meski buku ini dikarang sekitar tahun 1935, tetapi kualitas buku ini masih sangat bagus dan enak untuk dibaca sampai sekarang, paling tidak sebelum kita masuk ke dalam buku kumpulan-kumpulan hadits yang agak berat, atau Sirah Nabi yang lain.
Semoga bermanfaat
Wassalamu’alaiku warahmatullahi wabarakatuh
ChAn
101101

No comments:
Post a Comment