Dalam beragama kadangkala kita menemukan pertanyaan-pertanyaan, masalah-masalah yang saat ini belum ketemu jawabannya secara akal. Dan tentu saja kalau menghadapi pertanyaan yang belum ketemu jawabannya, tidak bisalah dijawab dengan akal-akalan, apalagi menghadapi anak-anak kita yang semakin kritis. Saya mempunyai pengalaman buruk dengan jawaban yang akal-akalan ini. Suatu saat semasa SMP seorang guru saya menjawab pertanyaan tentang fajar Subuh dengan jawaban yang ngarang dan mengada-ada. Entah karena terpengaruh adanya dua adzan di zaman Nabi (adzannya Bilal yang pertama dan kemudian disusul adzannya Umi Maktum untuk shalat Subuh) jawabannya jadi ngelantur.
"Ada fajar semu dan fajar sebenarnya, fajar semu dibuat oleh setan, sedangkan fajar yang sebenarnya adalah fajar di saat Subuh", katanya.Nggak ngeh... saya pun protes berat bagaimana bisa fajar (fenomena alam) dihubungkan dengan perbuatan setan, nggak masuk akal. Ya jadilah dimarahin guru.... dan dianggap sebagai murid yang tukang protes.
Lalu kemarin, seorang teman memicu bahasan pendekatan akal ini dengan mengirimkan e-mail pertanyaan yang menggelitik, yang mungkin juga merupakan pertanyaan kita semua : kenapa pada saat duduk tahiyat jari telunjuknya nduding ?, kenapa kalau salam harus menoleh ke kanan dan ke kiri ? Saya coba jawab semampu saya dan berusaha tidak mengada-ada. Tetapi mungkin karena tidak ilmiah, maka jawaban saya tidak memuaskannya... alhamdulillah berarti teman saya tersebut akan mencari terus, dan insya Allah ketemu.
Fakta empiris yang ada sekarang ini memang menunjukkan bahwa belum semua pertanyaan bisa dijawab dengan pendekatan ilmiah yang memuaskan, misalnya : fakta bahwa ilmu pengetahuan meyakini adanya jiwa (sehingga ada ilmu jiwa, psikologi), tetapi bagaimana wujudnya jiwa, di mana letaknya jiwa, terbuat dari apa jiwa, setahu saya saat ini belum ada jawabnya secara ilmiah, apalagi tentang ruh. Dan apabila mau, pertanyaan di atas bisa kita buat semakin panjang, misalnya :
- kenapa yang kentut lubang belakang, cara menyucikannya kok wudlu, dimana yang dibasahi adalah wajah, tangan, kepala, kaki ?
- kenapa kalau shalat diawali dengan takbiratul ihram, langsung fatehah saja kan enak cepat....?
- kenapa kalau shalat kok pakai ruku' dan sujud, kan enak langsung saja berdiri terus seperti shalat jenazah... ?
- kenapa kalau wudlu dengan khuf (sepatu) yang diusap kok tutup atasnya sepatu, kok nggak bawahnya sepatu saja ?
- kenapa saat umrah / haji yang dicium Hajar Aswad yang lokasinya kecil dan sempit sehingga harus berdesak desak, kenapa yang dicium nggak Ka'bah-nya saja yang besar sehingga memudahkan ?
Nggak ada habisnya, sampai-sampai mungkin bisa dikembangkan pertanyaannya menjadi : kenapa harus shalat, puasa, zakat, haji ? nggak pakai shalat, dsb. kan enak... nggak ngrepoti...
Pertanyaan-pertanyaan tersebut pasti ada jawabnya secara ilmiah, meski saat ini beberapa di antarnya belum ditemukan. Ada banyak usaha untuk menjelaskan pertanyaan-pertanyaan kenes tersebut secara akal, tetapi saya belum menemukan jawaban yang pas. Sampai kemudian saya menemukan jawaban semuanya dalam salah satu kumpulan hadits dalam shahih Bukhari, dari Ali ra yang terjemahan bebasnya : "Seandainya agama itu hanyalah pendekatan akal saja, maka seharusnya pada saat wudlu dengan memakai khuf, yang dibasuh bawahnya khuf (sepatu) bukan hanya diusap atasnya saja". Secara akal bukankah yang paling kotor itu bawahnya khuf yang langsung berhubungan dengan tanah ?
Kemudian saya ingat pula apa yang dikatakan Umar bin Khattab ketika mencium Hajar Aswad, "Kamu hanyalah sekedar batu, seandainya Rasulullah tidak melakukannya, aku tidak akan sudi menciummu". Sehingga saya menyimpulkan sendiri bahwa yang dilakukan salafushshalih dalam beragama ternyata adalah gabungan dari akal dan iman. Bukan pendekatan melalui akal saja yang dibatasi oleh dimensi ruang dan waktu.
Kalau dilihat sejarah, banyak hal yang di saat kejadian (dahulu) merupakan urusan iman, ternyata setelah ribuan tahun (saat ini) secara teori keilmuan bisa dijelaskan. Misalnya, Isra' Mi'raj yang terjadi 14 abad yang lalu. Peristiwa tersebut di jaman Nabi tentu saja nggak masuk akal, nggak ada penjelasan ilmiahnya. Pada saat itu, bagi Abu Bakar, dkk hanya cukup percaya, beriman terhadap semua yang diceritakan Nabi, tetapi bagi kaum musyrikin... peristiwa itu digunakan sebagai bahan cemooh, nggak masuk akal.
Ribuan tahun kemudian setelah peristiwa Isra' Mi'raj -sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan- ternyata secara teori : materi bisa diubah menjadi energi, materi bisa menjadi cahaya, dan manusia adalah materi..., teoritis tentu saja bisa diubah menjadi energi dan bisa bergerak dengan kecepatan cahaya. Akan tetapi kendalanya adalah alat untuk mengubah manusia menjadi energi saat ini belum ditemukan. Tidak seperti mengubah materi lainnya (uranium yang sudah dikayakan) menjadi energi nuklir yang sudah ditemukan alatnya (reaktor nuklir).
Di Al Quran pun banyak hal yang sampai saat ini belum terbukti secara ilmiah –belum ada teknologi yang bisa membuktikan kebenarannya-, misalnya An Naml 40, Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab : "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari . Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia". Dari materi (singgasana), lenyap berubah jadi energi (?), berpindah dalam sekejap mata, dan kemudian menjadi materi (singgasan) lagi di tempat yang lain.
Bukannya tidak mungkin fenomena pemindahan singgasana tahta ratu Balqis oleh orang beriman di zaman Nabi Sulaiman, yang dilakukan dalam hitungan ‘kedipan mata’ tersebut apabila dieksplorasi terus menerus oleh fisikawan dari masa ke masa, kemudian dibuka ilmunya oleh Allah untuk manusia, maka akan ditemukanlah teknologinya oleh manusia. Materi bisa berpindah-pindah dalam sekejap, seperti yang sudah ada di dalam film-film fiksi ilmiah.
Kemudian kalau dikembalikan lagi ke dalam urusan ibadah maghdhoh, ada qaidah fiqih -yang namanya qaidah fiqih tentu saja landasannya Kitabullah dan Sunnah- yang seharusnya digunakan : "Pada dasarnya semua ibadah dilarang kecuali yang dicontohkan / dikerjakan / diomongkan oleh Rasulullah Muhammad saw". Berdasar qaidah tersebut urusan praktek ibadah maghdhoh hanyalah mencontoh apa yang dilakukan Nabi, baik sudah ketemu ataupun belum ketemu alasannya secara akal. Terbatasnya perkembangan ilmu pengetahuan manusia saat ini, membuat ilmu pengetahuan belum bisa memberi jawaban / alasan yang pas terhadap amalan-amalan ibadah maghdhoh, sehingga menyikapinya balik lagi kepada kedalaman iman dan akal masing-masing individu.
Bagaimana menyikapinya ? Kalau saya itba' Rasul, mencontoh kepada apa yang dicontohkan oleh Rasulullah, yang kemudian diikuti oleh para salafushshalih: Abu Bakar ra., Umar ra., Ali ra. dalam menyikapi hal-hal yang belum ditemukan jawabnya secara akal pada saat itu. Mereka menyikapi dengan lebih memperbanyak unsur imannya, tanpa menafikan akalnya. Insya Allah suatu saat jawaban ilmiahnya pasti ditemukan, meski mungkin butuh ribuan tahun.
Oleh karenanya untuk urusan shalat, puasa, zakat, haji, dsb (semua urusan yang termasuk ibadah maghdhoh) rujukannya tentu kepada apa yang sudah dicontohkan / dilakukan oleh Nabi. Di Al Quran biasanya bersifat global misalnya : yuqiimunashshalat (shalat), yunfiquu (infaqlah, zakatlah), kutiba ’alaikumush shiaam (wajib berpuasa), dsb., sedangkan detail pelaksanaannya dari sunnah Nabi, yang diambil dari hadits Nabi, baik yang tersurat maupun yang tersirat.
Lho... kan kita harus menggunakan akal ?
Ya memang... tentu semuanya tidak boleh berhenti di sini, kita tak boleh berpuas diri untuk mencari jawabnya. Dengan perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan, dibukanya ilmu-ilmu Allah untuk manusia, ikhtiar dan explorasi berbagai bidang keilmuan yang tiada henti-hentinya dilakukan umat manusia, insya Allah semuanya akan semakin terang-benderang. Inilah tantangan-tantangan sebenarnya dari ilmuwan-ilmuwan Islam, anak-anak keturunan kita.
Lha kalau sampai sekarang belum ketemu jawaban ilmiahnya, apa kemudian kita nggak usah shalat ?
Semoga bermanfaat, mohon maaf apabila tidak berkenan.
Wassalamu'alaikum
ChAn
03082006
pojok-chan.blogspot.com
avicenna1995@yahoo.com
NB:
Jangan lupa : Mari kita cintai produk bangsa kita sendiri, jika tidak terlalu penting, pilih barang, jasa, mata uang, dan lain-lain yang bukan dari USA, Inggris, Australia, Israel, dan sekutunya. Mari kita galang solidaritas sesama muslim.

No comments:
Post a Comment