Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, tahukah saudara dari kain apa bendera pusaka ukuran 178 * 207 cm yang dikibarkan pada tanggal 17 Agustus 1945 berasal ? Tak terduga ternyata bendera yang dijahit oleh ibu Fatmawati tersebut warna putihnya berasal dari kain sprei, dan karena Ibu Fatmawati tidak mempunyai warna merah maka dicarilah kain warna merah. Begitu sulitnya mendapatkan kain merah saat itu, sehingga kain warna merah baru didapat dan dibeli dari kain tenda sebuah warung soto. Dijahit oleh ibu Fatmawati dan jadilah bendera pusaka yang dikibarkan saat proklamasi kemerdekaan bangsa ini. Penggalan cerita sejarah di atas paling tidak sedikit menggambarkan suasana batin saat-saat proklamasi kemerdekaan. Kesederhanaan, keteguhan hati, dan kuatnya mental pada saat itu telah mengangkat martabat bangsa Indonesia dari bangsa terjajah menjadi bangsa yang merdeka.
Waktu berlalu… kenyamanan, kemapanan, dan harta mulai menggerus nilai-nilai luhur bangsa. Nilai-nilai luhur hanya ada dalam tataran kata, jauh dari kenyataannya. Merdeka mulai bergeser ke dalam simbol-simbolnya semata dan mulai jauh dari hakekatnya. Kemeriahan perayaan ultah kemerdekaan memang terasa, pembacaan proklamasi kemerdekaan memang selalu ada di setiap upacara, tetapi apakah bangsa ini sudah benar-benar merdeka ?
Merdeka seharusnya bukan hanya sekedar jargon, lomba-lomba, simbol-simbol, dan upacara bendera. Merdeka adalah bangkitnya martabat bangsa sebagai wujud dari kemandirian dalam berbagai aspek dan dimensinya. Begitulah -paling tidak- yang ada dalam pandangan saya.
Apakah martabat bangsa ini sudah terangkat dalam posisi yang seharusnya ? Bukan hanya dalam pergaulan bangsa-bangsa, tetapi juga dalam ukuran kebenaran yang hakiki, yang mengandung nilai-nilai ruhani. Memang ada kata "Tuhan" dalam landasan negara republik ini, dijunjung tinggi secara simbolis, tetapi dalam prakteknya ? Tuhan ternyata hanyalah sekedar kata tak bermakna, dipakai dalam pengambilan sumpah, dan kemudian ‘dibuang’ dalam tong sampah.
Lihatlah bangsa ini masih menduduki rangking atas dalam hal negara terkorup di dunia. Dalam beberapa segi, pornografi diberi kebebasan lebih dari negara-negara yang mengaku biangnya kebebasan. Rasakanlah bagaimana ‘adilnya’ bangsa ini sehingga para koruptor dan pembunuh -yang dengan uangnya bisa membeli ‘apapun’- mendapatkan remisi optimal pada hari kemerdekaan kali ini. Belum lagi berbagai privileges yang diberikan kepada kalangan berpunya ketika mereka berhadapan dengan hukum.
Lihatlah lagi betapa loyonya pemimpin bangsa ini menghadapi tekanan asing. Membayar hutang sendiri pun tak berani jika si pemberi hutang belum memberi lampu hijau dan bersedia dibayar. Menghukum mati orang yang sudah jelas-jelas bersalah membantai puluhan bahkan ratusan saudara sebangsanya pun tak berani, hanya karena ada surat dari petinggi asing di luar negeri. Menjebloskan rakyat sendiri ke penjara seperti sudah menjadi tradisi, meski dengan tuduhan yang dicari-cari. Dan semuanya dilakukan demi menyenangkan ndoro tuan meneer
Banyak lagi tindakan yang membuat martabat bangsa ini terpuruk, bahkan di mata rakyatnya sendiri. Sebuah hasil penelitian menunjukkan bagaimana merosotnya martabat ini dari tahun ke tahun. Di tahun 2002 masih ada 93.5% masyarakat yang bangga sebagai bangsa Indonesia, tahun 2003 (88.6%), tahun 2004 mengalami lonjakan sedikit menjadi 94.1%, tahun 2005 melorot kembali menjadi 76.5%, dan di tahun 2006 bahkan menjadi 67% (sumber : Menuju Bangsa yang Mandiri, harian Republika, 16/8/2006). Ironis memang… penyakit inferior complex tampaknya menghinggapi bangsa ini. "Bermental tempe ", kata Bung Karno yang –dengan segala kekurangannya- gigih berusaha mengangkat martabat bangsa ini dengan salah satu manifesto politiknya "Berdikari" (berdiri di kaki sendiri).
Mental bangsa tentu saja kumpulan dari mental rakyatnya. Bangsa ini menjadi bangsa terkorup tentu karena pemimpin dan mayoritas rakyatnya memang suka korupsi. Pornografi di sini merajarela tentu karena pemimpin dan mayoritas rakyatnya menikmati ‘nikmatnya’ hasil industri pornografi. Ada produksi tentu karena ada yang mengkonsumsi. Bangsa ini bermental tempe tentu karena pemimpin dan mayoritas rakyatnya memang ‘tempe’. Bangsa ini menjadi tidak mandiri tentu karena pemimpin dan rakyatnya susah diajak mandiri. Dan begitu gampang nilai-nilai buruk ini berkembang bersama dengan gencarnya serbuan materialisme, konsumerisme dan hedonisme.
Gemebyarnya harta, kegagahan dan kecantikan, life style public figure yang aristokratis, kesombongan dan kepintaran para hedonis dalam berargumen, kadang begitu memukau, sehingga mengaburkan nilai-nilai luhur dari kehidupan yang seharusnya kita pegang teguh dalam menjalani kehidupan dunia ini. Keperawanan dijual demi tampil modis dan metropolis, harga diri dijual dengan menjadi ‘pengemis berdasi’ agar anak istri bisa tampil trendi, keluhuran diri dijual hanya demi kursi, dan bahkan martabat bangsa pun dijual untuk mengamankan posisi. Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar . Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran) ? (63: 4) Dan apabila dikatakan kepada mereka: Marilah (beriman) , agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu, mereka membuang muka mereka dan kamu lihat mereka berpaling sedang mereka menyombongkan diri. (Al Munafiquun (63): 5). Sebagian dari kita ikut-ikutan larut dalam value mereka. Padahal mereka hanyalah seperti kayu yang tersandar, meski tubuh mereka gagah, bagus-bagus, dan pandai berbicara, tetapi sebenarnya otak mereka "kosong", tidak dapat memahami hakikatnya kebenaran, begitulah informasi yang diberikan Allah dalam firman Nya.
Seperti biasa … tentu saja susah untuk mengubah yang besar kalau tidak dari yang kecil, diri kita sendiri, kemudian membesar ke lingkungan yang masih bisa kita pengaruhi, begitu seterusnya sehingga bisa menggelinding sebagai bola salju yang besar.
Balik ke diri sendiri… Sudahkan kita punya benteng yang kokoh menghadapi gempuran nilai-nilai yang menghancurkan idealisme, yang biasanya terkemas dalam indahnya dunia dan manisnya harta. Kalau sudah … pertanyaan selanjutnya adalah seberapa bebas kita bisa mengekspresikannya dalam kehidupan nyata ? Masihkah ada kekhawatiran, ketakutan, atau kesedihan pada saat menjalankan nilai-nilai luhur tersebut ? Takut dipecat, takut miskin, takut dikucilkan teman, khawatir nggak bisa makan, khawatir dibenci suami / istri, dan banyak ketakutan dan kekhawatiran lain yang tak wajar ? Pantaskah kita takut dengan semua ini, jika kita di dalam jalan Nya ?
Takut seharusnya hanyalah kepada adzab Allah, karena Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak mereka bersedih hati. (Al Baqarah (2): 277)
Jika nilai-nilai luhur tersebut hanya terkungkung di dalam diri, tak wujud dalam tindakan nyata, lalu ketakutan dan kekhawatiran masih mendominasi kita, maka pada hakekatnya kita belumlah merdeka. Masih menjadi hamba thoghut, budak dari selain Allah.
Oleh karenanya merdekalah… Mohon maaf bila tidak berkenan.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
ChAn
18082006
NB :
Meski pembantaian saudara kita di Lebanon, Palestina dan banyak tempat lainnya sejenak berhenti…, jika masih memungkinkan ada barang substitusi atas barang yang kita konsumsi, kenapa kita harus membeli dan memakai barang kaum dzalimiin ? Mari kita mulai dengan mencintai produk saudara kita sendiri, dari yang kecil… makan, beli barang, pakai jasa, dll dari saudara-saudara kita sendiri meski mungkin dengan selisih harga yang sedikit lebih mahal.

No comments:
Post a Comment