Perode sepuluh hari kedua dari bulan Ramadhan yang penuh maghfirah (ampunan) akan kita lewati hari ini. Sudahkah kita mendapatkan bagian rahmat dan ampunan dari 20 hari yang telah kita lewati ? Adakah dua puluh hari bulan Ramadhan ini telah mengubah kita semakin mendekati orang yang taqwa, sebagaimana tujuan diwajibkannya puasa bagi orang-orang yang beriman (2:183) ? Adakah kita semakin mengenal Nya (makrifatullah) dan bergetar hati kita begitu ‘berjumpa’ dengan Nya ? Bukan hanya di masjid dan sajadah, tetapi juga di luarnya, karena Dia juga bisa ditemukan di pasar, di kantor, di gunung, di jalan raya, di angkot, di wajah kaum dhuafa, di setiap bentuk makhluk ciptaan Nya, dan di setiap peristiwa. Hanya masing-masing diri kita sendiri yang tahu dan merasakannya. Atau hanya sekedar lingkar pinggang saja yang semakin kecil ? Subhanallah
Idealnya bulan pelatihan ini minimal menghasilkan peningkatan rasa sabar dan pemaaf karena telah dilatih mengendalikan hawa nafsu. Menghasilkan pula peningkatan rasa syukur karena telah dilatih berempathy merasakan bagaimana menderitanya menjadi kaum dhuafa yang kebutuhan dan keinginannya tidak bisa terpenuhi. Sabar, pemaaf, rasa syukur, empathy dan mau berbagi terhadap sesama akan berimplikasi pada ketahanan mental yang kokoh dalam menghadapi segala cobaan hidup. Cobaan hidup memang beragam, tetapi orang yang telah sukses melalui Ramadhan tentu jiwanya sehat dan pantang berputus asa dalam menghadapi hidup, dan insya Allah mereka-mereka ini tidak akan termasuk dalam 873.000 orang pertahun yang bunuh diri, dan juga bukan anggota dari 450 juta orang yang mengidap gangguan mental di dunia ini, saat ini (sumber: release WHO yang baru saja merayakan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia pada tanggal 10 Oktober kemarin). Mengerikan bukan... ? Yang bunuh diri jauh lebih besar daripada jumlah kematian akibat perang, dan yang terkena gangguan mental pun +/- 2 kali jumlah penduduk Indonesia. Astaghfirullah
Cobaan bisa dengan berlimpahnya harta kekayaan, tingginya pangkat, dan besarnya kekuasaaan, tetapi juga bisa karena Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (2:155).
Apakah orang-orang yang diberi cobaan tersebut adalah orang-orang yang diabaikan Nya ? Menurut saya tidak .. bahkan mereka ini sebenarnya adalah orang-orang yang dicintai dan akan dinaikkan level kualitasnya sebagai manusia apabila sabar dan lolos dari cobaan tersebut. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (2:157) Dan di ayat lain Allah menginformasikan bagaimana beruntungnya orang-orang yang sabar dan berbuat kebaikan Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. Bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (39:10)
Demikian pula orang yang sedang dihukum di dunia ini dan kemudian mereka menjalaninya dengan ikhlas sebagai penebus atas segala kesalahan yang telah dilakukan. Mereka sebenarnya juga termasuk orang-orang yang dicintai Nya, karena diberi kesempatan untuk 'membersihkan dirinya' di dunia ini. Di satu sisi mungkin kita melihatnya sebagai penjahat atau pendosa yang menjalani akibat dari kejahatan dan dosa yang telah dilakukannya. Ya… tetapi bisa jadi endingnya mereka ternyata lebih mulia daripada kita. Mengapa ? Karena (mungkin) kita sama, bahkan lebih jelek dari mereka tetapi Allah masih ‘mengijinkan’ aib kita tertutup. Coba bayangkan kalau kemudian kita tak mau / tak punya kesempatan menyelesaikan aib kita tersebut di dunia ini, sehingga nanti di akhirat ‘ditagih’ oleh pihak-pihak yang kita rugikan selama di dunia ini, apakah kita masih menjadi orang-orang yang beruntung ? Coba buka topeng kita dan bercermin… bukankah banyak aib kita yang masih tertutup ? Bagaimanakah kalau aib tersebut terbuka, dibuka, dan diketahui oleh suami, istri, tetangga, teman kerja, perusahaan, dsb. ?
Sungguh… apakah kita tidak melihat, bahwa mereka yang telah menjalani hukuman di dunia ini dan kemudian bertobat dengan sungguh-sungguh juga sebagai orang yang dicintai Nya ? Mereka diberi peringatan, dibuka aibnya, dan kemudian diberi kesempatan untuk menyucikan dirinya di dunia ini. Semua kesalahan telah impas diselesaikan di dunia ini. Hukuman, penjara, denda, qishash, kaffarat, pemecatan, dll. akibat kesalahannya telah dijalani, impas… tinggal lagi menyelesaikan masalah dengan Allah yang lebih private dan mudah.
Kenapa lebih mudah ? Karena apapun dosa yang telah kita lakukan kepada Allah –selama bukan dosa syirik/menyekutukan Nya- akan diampuni, asal kita bersungguh-sungguh memohon ampun kepada Nya. Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (4:48). Oleh karenanya meski 20 hari bulan istimewa ini telah kita lalui, sungguh sayang apabila di sisa hari bulan ini dilewati dengan sia-sia. Mari kita perbanyak istighfar, taubatan nasuha, apalagi di bulan yang di design khusus dengan limpahan rahmat, ampunan, dan nikmat Nya.
“Hak Allah atas hama-hamba Nya ialah mereka harus menyembah Nya dan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu” dan “Hak hamba atas Allah ialah Dia tidak berhak menyiksa mereka, apabila mereka (hamba) telah mengerjakannya (menyembah dan tidak menyekutukanNya) ” (HR Bukhari no. 6182)
Mari kita gapai semaksimal mungkin di 10 hari terakhir ini ... siapa tahu kita tidak bisa lagi berjumpa dengan Ramadhan di tahun depan.
Wassalamu’alaikum
ChAn
13102006
Idealnya bulan pelatihan ini minimal menghasilkan peningkatan rasa sabar dan pemaaf karena telah dilatih mengendalikan hawa nafsu. Menghasilkan pula peningkatan rasa syukur karena telah dilatih berempathy merasakan bagaimana menderitanya menjadi kaum dhuafa yang kebutuhan dan keinginannya tidak bisa terpenuhi. Sabar, pemaaf, rasa syukur, empathy dan mau berbagi terhadap sesama akan berimplikasi pada ketahanan mental yang kokoh dalam menghadapi segala cobaan hidup. Cobaan hidup memang beragam, tetapi orang yang telah sukses melalui Ramadhan tentu jiwanya sehat dan pantang berputus asa dalam menghadapi hidup, dan insya Allah mereka-mereka ini tidak akan termasuk dalam 873.000 orang pertahun yang bunuh diri, dan juga bukan anggota dari 450 juta orang yang mengidap gangguan mental di dunia ini, saat ini (sumber: release WHO yang baru saja merayakan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia pada tanggal 10 Oktober kemarin). Mengerikan bukan... ? Yang bunuh diri jauh lebih besar daripada jumlah kematian akibat perang, dan yang terkena gangguan mental pun +/- 2 kali jumlah penduduk Indonesia. Astaghfirullah
Cobaan bisa dengan berlimpahnya harta kekayaan, tingginya pangkat, dan besarnya kekuasaaan, tetapi juga bisa karena Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (2:155).
Apakah orang-orang yang diberi cobaan tersebut adalah orang-orang yang diabaikan Nya ? Menurut saya tidak .. bahkan mereka ini sebenarnya adalah orang-orang yang dicintai dan akan dinaikkan level kualitasnya sebagai manusia apabila sabar dan lolos dari cobaan tersebut. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (2:157) Dan di ayat lain Allah menginformasikan bagaimana beruntungnya orang-orang yang sabar dan berbuat kebaikan Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. Bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (39:10)
Demikian pula orang yang sedang dihukum di dunia ini dan kemudian mereka menjalaninya dengan ikhlas sebagai penebus atas segala kesalahan yang telah dilakukan. Mereka sebenarnya juga termasuk orang-orang yang dicintai Nya, karena diberi kesempatan untuk 'membersihkan dirinya' di dunia ini. Di satu sisi mungkin kita melihatnya sebagai penjahat atau pendosa yang menjalani akibat dari kejahatan dan dosa yang telah dilakukannya. Ya… tetapi bisa jadi endingnya mereka ternyata lebih mulia daripada kita. Mengapa ? Karena (mungkin) kita sama, bahkan lebih jelek dari mereka tetapi Allah masih ‘mengijinkan’ aib kita tertutup. Coba bayangkan kalau kemudian kita tak mau / tak punya kesempatan menyelesaikan aib kita tersebut di dunia ini, sehingga nanti di akhirat ‘ditagih’ oleh pihak-pihak yang kita rugikan selama di dunia ini, apakah kita masih menjadi orang-orang yang beruntung ? Coba buka topeng kita dan bercermin… bukankah banyak aib kita yang masih tertutup ? Bagaimanakah kalau aib tersebut terbuka, dibuka, dan diketahui oleh suami, istri, tetangga, teman kerja, perusahaan, dsb. ?
Sungguh… apakah kita tidak melihat, bahwa mereka yang telah menjalani hukuman di dunia ini dan kemudian bertobat dengan sungguh-sungguh juga sebagai orang yang dicintai Nya ? Mereka diberi peringatan, dibuka aibnya, dan kemudian diberi kesempatan untuk menyucikan dirinya di dunia ini. Semua kesalahan telah impas diselesaikan di dunia ini. Hukuman, penjara, denda, qishash, kaffarat, pemecatan, dll. akibat kesalahannya telah dijalani, impas… tinggal lagi menyelesaikan masalah dengan Allah yang lebih private dan mudah.
Kenapa lebih mudah ? Karena apapun dosa yang telah kita lakukan kepada Allah –selama bukan dosa syirik/menyekutukan Nya- akan diampuni, asal kita bersungguh-sungguh memohon ampun kepada Nya. Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (4:48). Oleh karenanya meski 20 hari bulan istimewa ini telah kita lalui, sungguh sayang apabila di sisa hari bulan ini dilewati dengan sia-sia. Mari kita perbanyak istighfar, taubatan nasuha, apalagi di bulan yang di design khusus dengan limpahan rahmat, ampunan, dan nikmat Nya.
“Hak Allah atas hama-hamba Nya ialah mereka harus menyembah Nya dan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu” dan “Hak hamba atas Allah ialah Dia tidak berhak menyiksa mereka, apabila mereka (hamba) telah mengerjakannya (menyembah dan tidak menyekutukanNya) ” (HR Bukhari no. 6182)
Mari kita gapai semaksimal mungkin di 10 hari terakhir ini ... siapa tahu kita tidak bisa lagi berjumpa dengan Ramadhan di tahun depan.
Wassalamu’alaikum
ChAn
13102006

No comments:
Post a Comment